![]() |
| Wukuf di Arafah (ist/inilampung) |
Oleh: Junaidi Jamsari
“Di Arafah ngapain aja? Cuma diam doang?”
Pertanyaan itu sering muncul saat manasik. Jamaah bingung. Setelah tawaf, sa’i, lempar jumrah yang semuanya “bergerak”, tiba-tiba di Arafah kita disuruh wukuf: berdiam diri. Dari Zuhur 9 Zulhijah sampai Magrib. Tidak boleh ke mana-mana. Tenda panas, lautan manusia, toilet antre.
Banyak yang panik. Ada yang buka HP, ada yang ngobrol, ada yang malah tidur. Karena merasa; “Ngapain aku di sini? Nggak ada kerjaan.”
Padahal, wukuf adalah rukun haji yang paling menentukan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Al-hajju ‘Arafah”– Haji itu Arafah. Tidak wukuf, tidak haji. Tawaf bisa diwakilkan. Sa’i bisa diwakilkan. Wukuf tidak bisa. Harus diri sendiri, harus hadir, harus diam.
Mengapa harus diam?
1. Karena di Arafah, Allah menyuruh kita berhenti.
Sebab ada ikhtiar yang tidak bisa dicapai dengan kaki, tetapi dengan hati. Muhasabah. Menghadap Allah tanpa status, tanpa gelar, tanpa KTP. Hanya kita, dosa kita, dan ampunan-Nya.
Di Padang Arafah itu, semua sama: presiden pakai ihram, petani pakai ihram. Tidak ada “Pak Haji”, tidak ada “Bu Bos”. Arafah artinya “mengenal”. Kita disuruh kenal siapa diri kita sebenarnya: hamba yang lemah, yang butuh Tuhan.
2. Karena Arafah adalah replika Padang Mahsyar.
Panas, berdesakan, semua menunggu keputusan. Bedanya, di Mahsyar keputusan sudah final. Di Arafah, keputusan masih bisa diubah. Inilah jam-jam emas untuk “melobi” Allah. Minta ampun, minta petunjuk, minta kekuatan pulang menjadi manusia baru.
Apa yang dilakukan Rasulullah SAW saat wukuf dari Zuhur sampai Magrib? Berdoa. Mengangkat tangan sampai ketiaknya yang putih terlihat. Tidak ceramah. Tidak keliling tenda. Diam, tetapi langit diguncang dengan doa.
Lalu bagaimana dengan kita?
Pengalaman penulis pada 2017. Malam Arafah adalah malam yang panjang. Ada jamaah yang tidak bisa tidur sampai pagi. Matanya terjaga, hatinya berkecamuk: antara rindu keluarga, takut mati, dan malu pada dosa. Ada yang pukul 02.00 dinihari bangun, lalu azan sendiri. Bukan karena masuk waktu Subuh, tetapi karena tidak tahan dengan sepi. Ia butuh Allah, secepatnya.
Ada yang kebingungan keluar-masuk tenda. Kakinya gatal, pikirannya risau. Ia mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Ada yang keliling di antara tenda, menyapa, berharap menemukan wajah familiar di tengah 2 juta manusia.
Ada pula pejabat atau orang terpandang yang sibuk keliling tenda. Memastikan “orang kita” aman. Memastikan keluarga satu daerah tidak terpisah.
Padang Arafah saat puncak haji, di mana kerinduan spiritual bercampur dengan hiruk-pikuk manusia, kadang terasa seperti resepsi yang padat dan membingungkan. Semua itu membawa cerita tersendiri. Cerita tentang gelisah, tentang rindu, tentang gengsi yang belum luntur meski sudah berbalut kain ihram.
Padahal, wukuf meminta satu hal: berhenti.
Berhenti keliling tenda, lalu kelilingi dosa sendiri. Berhenti mencari “orang kita”, lalu mencari ridha Allah. Berhenti azan jam 2 pagi karena panik, lalu ganti dengan istighfar karena cinta.
Momen kontemplasi justru terjadi di dalam tenda yang padat dan sesak. Bukan di gua yang sunyi. Di situlah ego ditundukkan. Di tengah desak-desakan dan suara riuh orang mencari rombongan, kita dipaksa fokus berdoa.
3. Karena banyak jamaah “gagal wukuf” meski badannya di Arafah.
Badannya di tenda, tetapi hatinya di Pasar Kakiyah. “Nanti beli kurma berapa kilo ya?” Badannya di Arafah, tetapi pikirannya di kampung. “Sawah siapa yang garap?” Lahirnya wukuf, batinnya tawaf mengelilingi dunia.
Bagaimana wukuf yang benar?
1. Persiapkan “daftar dosa”, bukan “daftar belanja”. Sebelum ke Arafah, tulis: dosa ke orang tua, dosa ke tetangga, dosa korupsi waktu, dosa menelantarkan amanah. Di Arafah, cicil satu-satu di hadapan Allah. Menangislah. Karena setelah Arafah, dosa itu harusnya selesai. Jangan dibawa pulang.
2. Matikan HP, hidupkan hati. 5 jam tanpa sinyal itu nikmat. Allah beri kita waktu private dengan-Nya. Jangan ditukar dengan grup WhatsApp. Malaikat tidak update status, tetapi mencatat air mata.
3. Bayangkan ini wukuf terakhir. Tahun depan belum tentu dipanggil lagi. Umur tidak ada yang tahu. Jika ini wukuf terakhirmu, apa yang mau kamu bisikkan ke Allah? Bisikkan sekarang. Karena di Arafah, jarak kita dengan Arasy paling dekat.
Wukuf mengajarkan: tidak semua masalah selesai dengan berlari.
Ada masalah yang selesai dengan berhenti. Ada dosa yang lunas dengan diam. Ada masa depan yang cerah karena kita berani 5 jam merenung: “Ya Allah, selama ini aku muter ke mana saja? Porosku siapa?”
Maka ingatlah: Anda sedang mengerjakan rukun haji yang paling mahal.
Sibuklah minta ampun. Jangan sibuk tidur. Sibuklah bangunkan hati.
Karena di padang itu, diam Anda didengar langit.
Kembali dari Arafah, kita membawa tiga oleh-oleh:
1. Air mata tobat sebagai zamzam pribadi.
2. Tekad baru sebagai ihram kehidupan.
3. Ketenangan hati– karena telah mendaftar ulang di hadapan Allah.
Diam adalah puncak ikhtiar. Sebab, setelah kita berhenti, Allah yang mulai bekerja.
Wallahu a’lam bish-shawab.
*Penulis bermukim di Lampung Barat.


