![]() |
| Letjen TNI (Purn) H. Alamsyah Ratu Perwiranegara (ist/inilampung) |
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.
Keberhasilan seseorang menjadi pemimpin nasional tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh sistem nilai yang membentuk kepribadiannya. Dalam konteks masyarakat Lampung, nilai tersebut dikenal sebagai Piil Pesenggiri, yaitu falsafah hidup yang menekankan kehormatan diri, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap sesama, dan semangat gotong royong. Walaupun tidak terdapat pernyataan tertulis bahwa Alamsyah Ratu Perwiranegara secara eksplisit menjadikan Piil Pesenggiri sebagai landasan kepemimpinannya, perjalanan hidup beliau memperlihatkan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai tersebut.
Riwayat Singkat Letjen TNI (Purn) H. Alamsyah Ratu Perwiranegara
Letjen TNI (Purn) H. Alamsyah Ratu Perwiranegara lahir di Kotabumi, Lampung, pada 25 Desember 1925. Sejak masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, beliau aktif berjuang di wilayah Sumatera Selatan, termasuk Lampung, sebelum meniti karier sebagai perwira TNI. Dalam perjalanan pengabdiannya, Alamsyah dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, antara lain Menteri Sekretaris Negara (1973–1978), Menteri Agama Republik Indonesia (1978–1983), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (1983–1988), serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda (1993–1996). Sebagai salah satu putra terbaik Lampung, jasa dan pengabdiannya dikenang melalui Patung Letjen H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Jalan Alamsyah RPN di Kabupaten Lampung Utara. Beliau wafat di Jakarta pada 8 Januari 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Juluk-Adok: Menjaga Kehormatan melalui Integritas
Dalam budaya Lampung, Juluk-Adok bukan sekadar gelar, melainkan amanah untuk menjaga martabat melalui perilaku yang terpuji. Dari sudut pandang psikologi, konsep ini berkaitan dengan integritas, yaitu keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan. Selama meniti karier sebagai prajurit, pejabat negara, hingga Menteri Agama, Alamsyah menunjukkan konsistensi dalam menjalankan amanah publik. Gordon Allport (1961) menyebut konsistensi nilai sebagai salah satu ciri kepribadian yang matang (mature personality). Seseorang yang memiliki integritas tinggi akan memperoleh kepercayaan masyarakat karena perilakunya dapat diprediksi dan didasarkan pada prinsip moral.
Nemui Nyimah: Kepemimpinan yang Menghargai Orang Lain
Nemui Nyimah mengandung makna keterbukaan, keramahan, dan penghormatan kepada sesama. Dalam psikologi modern, nilai ini sejalan dengan konsep kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang diperkenalkan Daniel Goleman (1995). Pemimpin yang memiliki empati dan kemampuan membangun hubungan sosial lebih mudah menciptakan kerja sama serta menyelesaikan konflik secara damai. Ketika dipercaya memimpin Kementerian Agama, Alamsyah menghadapi masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Jabatan tersebut menuntut kemampuan membangun komunikasi lintas agama, lintas budaya, dan lintas kepentingan. Dari perspektif psikologi organisasi, kemampuan seperti ini merupakan bentuk kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan antarmanusia (relationship-oriented leadership).
Nengah Nyappur: Adaptasi dalam Keberagaman
Nilai Nengah Nyappur mengajarkan pentingnya mampu hidup berdampingan dengan siapa pun tanpa kehilangan identitas diri. Dalam psikologi sosial, kemampuan ini disebut “social adaptability”, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang beragam. Perjalanan karier Alamsyah yang melintasi dunia militer, birokrasi, diplomasi, dan pemerintahan menunjukkan kapasitas adaptasi yang tinggi. Albert Bandura (1986) menjelaskan bahwa individu yang memiliki efikasi diri (self-efficacy) tinggi cenderung lebih percaya diri menghadapi perubahan dan mampu menjalankan berbagai peran sosial secara efektif.
Sakai Sambayan: Semangat Pengabdian dan Kolaborasi
Sakai Sambayan merupakan nilai gotong royong dan saling membantu demi kepentingan bersama. Dalam teori “Transformational Leadership” Bernard M. Bass (1985), pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu menggerakkan orang lain untuk bekerja demi tujuan kolektif, bukan demi kepentingan pribadi. Riwayat pengabdian Alamsyah, mulai dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga memegang berbagai jabatan negara, menunjukkan orientasi pelayanan kepada masyarakat. Dalam psikologi, orientasi seperti ini disebut “prosocial behavior”, yaitu kecenderungan bertindak demi kesejahteraan orang lain tanpa mengutamakan keuntungan pribadi.
Perspektif Islam tentang Kepemimpinan Berkarakter
Nilai-nilai Piil Pesenggiri memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58). Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sebagian ulama). Ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa kehormatan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh kedudukan, melainkan oleh manfaat yang diberikannya kepada masyarakat.
Akhirnya penting untuk memahami secara refleksi psikologis bahwa perjalanan hidup Alamsyah Ratu Perwiranegara memperlihatkan bahwa karakter merupakan fondasi utama kepemimpinan. Jabatan dapat berakhir, tetapi integritas, keteladanan, dan pengabdian akan terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. Bagi generasi muda Lampung, sosok Alamsyah memberikan pelajaran bahwa Piil Pesenggiri tidak cukup dipahami sebagai identitas budaya, melainkan perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari: menjaga amanah, menghormati sesama, mampu beradaptasi dengan keberagaman, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Ketika nilai-nilai budaya tersebut bertemu dengan prinsip-prinsip psikologi kepemimpinan modern, akan lahir pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berintegritas. Bagi masyarakat Lampung, mengenang Alamsyah tidak cukup dengan mengetahui riwayat hidupnya atau melihat patung yang didirikan untuk menghormatinya. Penghormatan yang lebih bermakna adalah meneladani nilai-nilai yang tercermin dalam perjalanan hidupnya yaitu dengan bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, menghormati sesama, mengutamakan kepentingan masyarakat, serta terus belajar sepanjang hayat. (***)

