Oleh: Junaidi Jamsari | alumni filsafat UIN Raden Intan
Biarkanlah hujan turun membasahi bumi...
Lirik Diana Nasution tiba-tiba relevan lagi. Terutama di musim unjuk rasa seperti sekarang.
Ada satu fenomena yang lintas partai, lintas pangkat, lintas saldo: kacang lupa kulitnya.
Seseorang yang gagal dapat merasakannya. Orang yang gagal promosi merasakannya. Pengusaha yang ditinggal tim merasakannya. Birokrat yang mutasi merasakannya. Bahkan negara pun kadang merasakannya.
Kita sama-sama melihat beberapa pekan ini. Ada yang turun ke jalan. Ada yang pasang spanduk. Ada yang mencopot baliho. Ada yang sibuk menuntut dokumen. Ada juga yang sibuk memberi gelar.
Ramai. Bising. Semua merasa paling benar.
Di tengah keramaian itu, pola lama muncul lagi.
1. "Kulit": Sama-sama Panas.
Dulu, saat masih jadi "kulit", semua sama. Sama-sama kepanasan di lapangan, sama-sama kedinginan begadang, sama-sama melindungi "isi". Belum ada panggung nasional, belum ada sorotan kamera. Yang ada hanya kerja kolektif dan slogan bersama.
Grup WA rame. Emoji ketawa cepat. Solidaritas kencang. Karena musuhnya jelas, dan tujuannya satu.
2. Panggung Baru, Logika Baru.
Begitu jadi "isi", panggungnya berubah. Lebih besar. Lebih rame. Lebih basah. Wajar. Semua orang berhak naik kelas.
Tapi yang menarik adalah logika baru yang muncul. "Kulit" lama tiba-tiba disebut "beban sejarah". Grup WA lama hanya dapat centang biru. Emoji ketawa pindah ke grup baru.
Alasannya klise: "Itu mah buang energi." "Sekarang mainnya di level nasional."
Contoh kecilnya: saat program bantuan jadi bola liar, sebagian orang lama yang dulu sama-sama teriak, sekarang sibuk menjauh. Saat isu dokumen naik, sebagian yang dulu sama-sama bawa spanduk, sekarang sibuk pasang jarak.
Bukan salah kalau mau tumbuh. Yang jadi catatan adalah saat lupa bahwa "isi" tidak akan pernah ada tanpa "kulit" yang melindunginya lebih dulu.
3. Ongkos dari Lupa Kulit.
Betul. Karier bisa naik. Nama bisa naik. Gelar bisa datang. Tapi ada ongkos yang tidak masuk neraca: kepercayaan publik rontok pelan-pelan.
Muncul bisik-bisik: "Dia tukang cari panggung."
Pribahasa tidak pernah salah. Kacang yang lupa kulit, cepat kering. Cepat pecah. Karena kulit bukan beban. Kulit adalah pelindung.
Tapi, saat situasi memanas, yang dicari lagi-lagi "kulit". Basis lama diminta turun. Padahal kemarin disebut "buang energi".
4. Kata Seorang Teman.
Di titik inilah seorang teman bilang ke saya:
"Saya lagi ngurus ayam sekarang. Enak. Dapat telur sama daging ayam. Ngurus orang? Dapat curiga saja."
Kalimat itu sederhana. Tapi menampar.
Karena ternyata, mengurus kepentingan bersama kadang lebih melelahkan daripada mengurus kandang. Mengurus orang, balasannya sering kali bukan terima kasih. Tapi prasangka.
5. Biarkanlah.
Maka kita tidak perlu ikut teriak. Tidak perlu ikut menghakimi.
Cukup satu kata: Biarlah.
Biarlah hujan turun membasahi bumi. Biarlah waktu yang mengajar. Biarlah gelar datang dan pergi. Biarlah dokumen selesai dengan caranya sendiri.
Biarlah dia mau apa. Biarlah massa mau ke mana. Biarlah program mau diteruskan atau dihentikan.
Sebab hukumnya pasti: Saat musim kemarau politik datang, semua "isi" akan ingat siapa "kulit" yang dulu melindunginya.
Dan semoga, saat itu tiba, "kulit" tua itu pintunya masih terbuka. (***)

