![]() |
| Budaya Lampung (ist/inilampung) |
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA
(Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Pendahuluan
Penguatan individualisme seseorang akan sangat berkembang di era digital ini, termasuk pada generasi muda Lampung. Perlu disadari, bahwa masyarakat Lampung sebenarnya mempunyai warisan budaya luhur yang relevan guna menjawab problematika tumbuhnya sifat dan sikap individualisme pada generasi Lampung, yaitu “Nengah Nyappur”.
Nilai ini merupakan salah satu unsur penting dalam falsafah hidup Lampung “Piil Pesenggiri”, selain dari unsur lain yaitu Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Bejuluk Beadek.
“Nengah Nyappur” memiliki makna kemampuan untuk berinteraksi, berbaur, bergaul dan bersinergi serta hidup rukun dengan berbagai unsur masyarakat atau golongan tanpa menghilangkan identitas diri sebagai orang Lampung.
Menurut perspektif psikologi, “Nengah Nyappur” bukan hanya tradisi dan budaya sosial, tetapi sebuah pola kecerdasan sosial yang cerdas dan sudah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang Lampung jauh sebelum muncul konsep-konsep psikologi modern tentang sikap individu dan sosial berkembang.
Memahami Makna Nengah Nyappur
“Nengah Nyappur” dapat dipahami sebagai sikap energik dan aktif untuk seseorang berada di tengah masyarakat, mengembangkan relasi, menghargai perbedaan, serta aktif berpartisipasi pada dinamika kehidupan sosial.
Pada masyarakat Lampung yang hetrogen, nilai ini adalah perekat relasi antar golongan, suku, budaya dan agama.
Penelitian tentang internalisasi “Nengah Nyappur” di Kabupaten Pesawaran menemukan bahwa “Nengah Nyappur” ini berguna sebagai pola sosial yang sehat dalam menjaga keharmonisan masyarakat yang multikultural via pendidikan keluarga, komunikasi sosial, dan adat budaya yang ditradisikan.
Nengah Nyappur dan Teori Psikologi Sosial
Pertama: Teori Kecerdasan Sosial (Edward Thorndike, 1920).
Psikolog dari Amerika, Edward Thorndike, melahirkan teori “Social Intelligence” di tahun 1920, yaitu kemampuan seseorang dalam memahami dan mengolah hubungan sosial dengan orang lain secara baik. Individu yang menjalankan “Nengah Nyappur” sebenarnya sedang mendidik dirinya untuk punya kemampuan mengerti perasaan teman; keterampilan beriteraksi; kemampuan bersinergi; dan kemampuan menyelesaikan problematika yang ada secara bijaksana.
Karakteristik ini merupakan cerminan kondisi kecerdasan sosial yang merupakan salah satu indikator keberhasilan individu dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.
Kedua: Teori Belajar Sosial (Albert Bandura, 1977).
Albert Bandura menegaskan bahwa manusia belajar via observasi dan menirukan perilaku orang di sekitarnya. Nilai “Nengah Nyappur” diturunkan dari generasi ke generasi melalui percontohan orang tua; adat dan tradisi; aktivitas kemasyarakatan; dan relasi harian.
Generasi muda Lampung yang berkembang dalam keluarga dan kehidupan yang mengaplikasikan “Nengah Nyappur”, akan lebih mudah dalam menumbuhkan jiwa dan sikap empati, simpati, dan bersosialisasi secara toleran.
Ketiga: Teori Konstruksi Sosial (Peter Berger dan Thomas Luckmann).
Kajian tentang “Nengah Nyappur” dengan prespektif teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini menemukan bahwa nilai sosial individu tercetak melalui dinamika objektivasi, eksternalisasi, dan internalisasi dalam kehidupan individu. “Nengah Nyappur” terus berkembanh karena masih diimplementasikan dalam aktivitas adat dan tradisi, keluarga, dan dinamika sosial di kehidupan masyarakat Lampung.
Nengah Nyappur Modal Psikologis
Kajian psikologi positif menjelaskan bahwa “Nengah Nyappur” dapat dikategorikan sebagai “sumber social capital”(modal sosial) yang memperkokoh kesehatan mental seseorang dari suku Lampung.
Individu yang punya relasi sosial yang sehat, akan cenderung nampak lebih happy; lebih tahan dari godaan dan stres; punya rasa memiliki (sense of belonging); lebih gampang memperoleh dukungan sosial ketika menghadapi problematika. Terjadinya, pengucilan sosial seringkali dihubungkan dengan adanya kecemasan, dan tekanan serta beragam problematika psikologis lainnya. Maka, “Nengah Nyappur” sejatinya berisikan nilai pecegahan atau preventif bagi kesehatan mental ummat.
Kecocokan Bagi Generasi Z
Bagi generasi Z, hidup di era globalisasi yang selalu terhubung secara digital namun kadang kala mengalami keterkucilan sosial secara real. Munculnya “scrolling” tanpa putus, interaksi virtual, dan minimnya interaksi langsung telah mengikis kemampuan mengembangkan relasi sosial yang baik. Posisi “Nengah Nyappur” menjadi urgen dan penting. Nilai ini mendidik generasi muda agar aktif berorganisasi; terjun langsung dalam aktivitas sosial; menghormati keberagaman; mengembangkan jaringan perkawanan yang harmonis; serta mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal.
Mahasiswa, siswa , dan remaja atau pemuda Lampung perlu memafhumi bahwa kesuksesan hidup bukan hanya sebagai akibat oleh kecerdasan kognisi, akan tetapi juga pada keberhasilan dalam bersinergi dengan sesama.
Perspektif Islam tentang Nengah Nyappur
Prinsip dari “Nengah Nyappur” ini sesuai dengan pendidikan dalam Islam pada aspek persatuan dan kehidupan bersama.
Firman Allah SWT: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."(QS. Al-Hujurat: 13). Pada ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan, tetapi hal untuk mengembangkan relasi dan saling menyayangi.
Sabda Rasulullah SAW: "Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia."
(HR. Ibnu Majah). Pada hadis ini menjelaskan bahwa keterlibatan bermasyarakat adalah hal penting dari kemuliaan kepribadian pada individu.
Terdapat beberapa problematika pada saat ini yang perlu disikapi, yaitu peningkatan sikap individualisme, kecenderungan pada platform sosial media, penurunan partisipasi generasi Z dalam upacara adat, kurangnya komunikasi lintas zaman, dan kendurnya semangat memahami dan menginternalisaikan falsafah “Piil Pesenggiri”.
Apabila kondisi seperti ini tidak segera disikapi, maka para generasi Z akan kecolongan salah satu hal penting bagi pengembangan kecerdasan sosial generasi Z Lampung yang telah hidup dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di Lampung.
Akhirnya, penting untuk dipahami bahwa “Nengah Nyappur” bukan hanya peninggalan budaya, akan tetapi merupakan salah satu sumber pendidikan karakter dan pendidikan psikologi sosial yang selama ini berkembang pada masyarakat Lampung. Prinsip ini memberikan pendidikan akan empati, simpati, keterbukaan, kerja sama, toleransi, dan kemampuan menciptakan hubungan sosial yang harmonis.
Menurut perspektif ilmu jiwa modern, “Nengah Nyappur” adalah bentuk real dari kecerdasan sosial individu Lampung yang penting ada di era globalisasi dan digital ini. Maka tokoh adat, keluarga, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, dan pihak Pemda perlu bersinergi dalam menggelorakan lagi ghirah dari “Nengah Nyappur” guna mengembangkan generasi muda Lampung yang memiliki kecerdasan akademik, dan juga juga cerdas secara interaksi sosial, berkepribadian, dan dapat menjadi penggerak utama dalam penciptaan persatuan bangsa Indonesia tercinta. (*)


.jpeg)