-->
Cari Berita

Breaking News

Kajian Psikologi Pendidikan tentang Bejuluk Beadek dalam Budaya Lampung

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Senin, 01 Juni 2026

Membangun Identitas, Harga Diri, dan Karakter Generasi Masa Depan
 

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA | Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
 
INILAMPUNGCOM ---- Di tengah derasnya arus globalisasi, modernisasi, dan budaya digital yang semakin mengikis identitas lokal, masyarakat Lampung memiliki warisan budaya yang sangat berharga, yaitu Bejuluk Beadek. Tradisi ini bukan sekadar pemberian gelar adat, melainkan sebuah sistem pendidikan sosial dan psikologis yang mengajarkan tanggung jawab, kehormatan, identitas diri, serta pengendalian perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. 

Dalam falsafah hidup masyarakat Lampung, Bejuluk Beadek merupakan salah satu unsur utama dari nilai luhur Piil Pesenggiri, bersama Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman masyarakat Lampung dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Dari perspektif psikologi pendidikan, Bejuluk Beadek dapat dipahami sebagai sarana pembentukan identitas diri (self identity), harga diri (self esteem), serta tanggung jawab sosial yang sangat relevan untuk pendidikan karakter generasi muda saat ini.
 
Secara adat, Bejuluk merupakan nama atau panggilan yang diberikan ketika seseorang masih muda, sedangkan Beadek atau Buadok merupakan gelar adat yang diberikan setelah seseorang memasuki fase kedewasaan atau berkeluarga. Dalam masyarakat Lampung, gelar tersebut bukan sekadar simbol status, melainkan identitas moral yang harus dijaga melalui perilaku sehari-hari. Karena itu, seseorang yang telah memperoleh Beadek dituntut untuk menjaga kehormatan dirinya, keluarganya, serta masyarakatnya. 

Penelitian tentang budaya Lampung menunjukkan bahwa Bejuluk Beadek mengandung nilai tanggung jawab, kepemimpinan, kedisiplinan, keadilan, dan penghormatan terhadap norma sosial.
 
Perspektif Psikologi Pendidikan

Pertama: Teori Identitas Erik Erikson (1968). Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa tugas perkembangan utama remaja adalah membentuk identitas diri (Identity versus Role Confusion). 
Menurut Erikson (1968), individu yang memiliki identitas jelas akan lebih mudah menentukan arah hidup, memahami tanggung jawab sosial, serta memiliki kepercayaan diri yang kuat. 

Dalam konteks budaya Lampung, Bejuluk Beadek sebenarnya berfungsi sebagai penguat identitas sosial. Ketika seseorang memperoleh gelar adat, ia tidak hanya memperoleh nama baru, tetapi juga memperoleh makna tentang siapa dirinya dan bagaimana ia harus bertindak di tengah masyarakat. Dengan demikian, budaya Bejuluk Beadek dapat menjadi media pendidikan karakter yang membantu generasi muda memahami jati dirinya di tengah krisis identitas modern.

Kedua: Teori Harga Diri Abraham Maslow (1943). Abraham Maslow melalui teori Hierarki Kebutuhan menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Penghargaan tersebut meliputi pengakuan sosial, penghormatan dari lingkungan, rasa berharga, dan kehormatan diri. 

Budaya Bejuluk Beadek memberikan ruang bagi individu untuk memperoleh pengakuan sosial secara positif melalui adat dan perilaku yang baik. Karena itu, gelar adat tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi motivasi psikologis agar seseorang menjaga kehormatan dirinya melalui akhlak dan prestasi.

Ketiga: Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura (1977).
Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan (observational learning). Anak-anak Lampung yang tumbuh dalam lingkungan yang masih melestarikan Bejuluk Beadek akan belajar dari tokoh adat, orang tua, serta masyarakat mengenai tata krama, cara berbicara, tanggung jawab sosial, penghormatan kepada orang lain. 

Melalui proses peneladanan tersebut, nilai budaya dapat diwariskan secara alami kepada generasi berikutnya.
 
Krisis Identitas Generasi Modern
Saat ini, banyak generasi muda yang lebih mengenal tokoh media sosial dibandingkan sejarah adat dan budayanya sendiri. Fenomena ini menyebabkan munculnya krisis identitas budaya, menurunnya rasa bangga terhadap daerah asal, melemahnya penghormatan terhadap adat, dan hilangnya keterikatan sosial dengan komunitas lokal. 
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya pergeseran nilai budaya lokal pada masyarakat Lampung, termasuk dalam pelaksanaan tradisi Bejuluk Beadek. Padahal secara psikologis, individu yang kehilangan identitas budaya sering mengalami kebingungan nilai (value confusion) dan lebih mudah terpengaruh budaya luar tanpa proses penyaringan yang matang. 

Maka, Bejuluk Beadek bisa menjadi pendidikan karakter. Dalam perspektif pendidikan modern, Bejuluk Beadek sebenarnya memiliki kesesuaian dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), karena itu Bejuluk Beadek bukan sekadar budaya masa lalu, tetapi dapat menjadi model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
 
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." QS. Al-Hujurat: 13. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang bukan semata-mata karena gelarnya, tetapi karena kualitas moral dan ketakwaannya. 

Allah SWT juga berfirman: "Dan janganlah kamu mencampakkan dirimu ke dalam kebinasaan."QS. Al-Baqarah: 195. Dalam konteks pendidikan karakter, ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga nama baik, kehormatan, dan masa depan diri. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." HR. Ahmad. Hadis tersebut menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan karakter. 

Nilai ini sangat selaras dengan filosofi Bejuluk Beadek yang menuntut seseorang menjaga perilaku sesuai kehormatan yang melekat pada dirinya.
 
Bagaimana Seharusnya Bejuluk Beadek Dilakukan?
Dalam perkembangan zaman, pelaksanaan Bejuluk Beadek seharusnya tidak hanya dipahami sebagai seremoni adat atau simbol status sosial. Yang lebih penting adalah menghidupkan makna pendidikan di baliknya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

Pertama:  Menanamkan makna sejak anak-anak. 
Anak perlu dikenalkan sejak dini mengenai sejarah keluarga, makna gelar adat, filosofi Piil Pesenggiri, dan bahasa Lampung. Pendidikan budaya tidak boleh menunggu ketika seseorang dewasa.

Kedua: Mengintegrasikan dalam kurikulum sekolah.
Sekolah di Lampung dapat mengembangkan muatan lokal budaya Lampung, projek profil pelajar Pancasila berbasis Piil Pesenggiri, pembelajaran bahasa Lampung, dan festival budaya siswa.

Ketiga: Menjadikan tokoh adat sebagai guru karakter.
Tokoh adat tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi juga menjadi sumber pendidikan nilai bagi generasi muda.

Keempat: Lebih ketat dalam pemberian gelar adat.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran makna ketika gelar adat lebih dipandang sebagai simbol status daripada tanggung jawab moral. Karena itu, substansi pendidikan karakter harus lebih diutamakan dibanding kemegahan acara.
 
Strategi Pelestarian di Era Digital
Pelestarian Bejuluk Beadek perlu mengikuti perkembangan zaman. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain yaitu membuat konten edukasi budaya Lampung di media sosial, mendokumentasikan sejarah adat dalam bentuk digital, membuat podcast budaya Lampung, mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa dan adat Lampung, mengadakan lomba karya tulis tentang Piil Pesenggiri, dan mengintegrasikan budaya Lampung dalam kegiatan pesantren dan sekolah. 
Dengan cara ini, budaya Lampung tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu hidup di tengah generasi digital.
 
Penutup
Bejuluk Beadek bukan sekadar tradisi pemberian gelar adat, melainkan sistem pendidikan sosial yang telah diwariskan masyarakat Lampung selama berabad-abad. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan teori psikologi modern tentang identitas diri, harga diri, pembelajaran sosial, serta pendidikan karakter. 
Budaya ini mengajarkan bahwa kehormatan bukan hanya diwarisi, tetapi harus dijaga melalui perilaku, tanggung jawab, dan akhlak yang baik. Di tengah tantangan globalisasi dan krisis identitas generasi muda, Bejuluk Beadek dapat menjadi fondasi penting dalam membangun manusia Lampung yang berkarakter, berbudaya, berilmu, dan bermartabat. 
Oleh karena itu, tokoh adat, keluarga, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, serta pemerintah daerah perlu bersinergi menjadikan Bejuluk Beadek bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber pendidikan masa depan untuk menjaga keberlangsungan identitas dan kebesaran budaya Lampung. (*)

LIPSUS