![]() |
| Masjid Raya Lampung Al Bakrie |
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.
Kehadiran Masjid Raya Al Bakrie Lampung menjadi salah satu ikon baru wisata religi di Provinsi Lampung. Dengan arsitektur yang megah, fasilitas yang representatif, dan lokasi yang strategis, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi persinggahan bagi rombongan wisata dari berbagai daerah. Tidak sedikit bus pariwisata yang sengaja menjadikan masjid ini sebagai titik singgah untuk melaksanakan salat Magrib, beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang, atau sekadar menikmati suasana religius dan keindahan bangunan masjid.
Bagi banyak wisatawan, pengalaman berada di masjid yang megah menghadirkan ketenangan psikologis setelah seharian beraktivitas di pantai, tempat rekreasi, atau lokasi wisata lainnya. Namun, di balik kekaguman tersebut, sebagian pengunjung menyampaikan keluhan mengenai banyaknya pengemis, pengamen, pedagang mainan yang menempatkan barang dagangannya di area kursi pengunjung, serta individu yang meminta sumbangan dengan berbagai alasan sosial. Keluhan tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan usaha mereka mencari nafkah, melainkan berkaitan dengan munculnya perasaan tidak nyaman saat berada di lingkungan masjid.
Wisata Religi dan Kebutuhan Akan Ketenangan
Dalam psikologi lingkungan (environmental psychology), setiap orang memiliki harapan tertentu ketika memasuki sebuah ruang publik. Harapan tersebut akan memengaruhi kepuasan dan pengalaman yang dirasakan. Menurut teori “Person-Environment Fit” dari French, Rogers, dan Cobb (1974), kenyamanan seseorang akan muncul ketika kondisi lingkungan sesuai dengan harapan dan kebutuhan psikologisnya. Ketika pengunjung datang ke masjid setelah menempuh perjalanan jauh dan mengalami kelelahan fisik, mereka umumnya mencari tiga hal yaitu tempat beristirahat yang nyaman, kesempatan beribadah dengan khusyuk, dan suasana tenang untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan. Apabila kondisi tersebut terganggu oleh berbagai interaksi yang tidak diharapkan, maka pengalaman positif yang semula dicari dapat berubah menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan.
Kelelahan dan Sensitivitas Psikologis Pengunjung
Dalam teori “Ego Depletion” yang diperkenalkan oleh Roy Baumeister (1998), individu yang mengalami kelelahan fisik maupun mental cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap gangguan lingkungan. Bayangkan seorang wisatawan yang telah menempuh perjalanan berjam-jam, berjalan di bawah terik matahari, atau menghabiskan waktu seharian di lokasi wisata. Ketika tiba di masjid, kondisi psikologisnya sedang mencari ketenangan dan pemulihan. Namun ketika dalam waktu singkat ia dihampiri beberapa pengemis, diajak membeli mainan, ditawari berbagai barang, atau diminta menyumbang oleh beberapa pihak, maka muncul fenomena yang disebut “social overload”, yaitu kelelahan akibat terlalu banyak tuntutan interaksi sosial dalam waktu bersamaan. Akibatnya, pengunjung tidak lagi fokus menikmati suasana masjid, tetapi justru berusaha menghindari interaksi yang dianggap mengganggu.
Psikolog lingkungan Harold Proshansky (1978) menjelaskan bahwa pengalaman seseorang terhadap suatu tempat akan membentuk “place identity”, yaitu citra psikologis yang melekat dalam ingatannya. Ketika pengalaman dominan yang diingat adalah keindahan masjid, keramahan petugas, dan kekhusyukan ibadah, maka pengunjung akan memiliki kesan positif dan cenderung kembali berkunjung. Sebaliknya, apabila yang paling diingat adalah perasaan tidak nyaman karena terus-menerus dihampiri pihak-pihak tertentu, maka memori negatif tersebut dapat memengaruhi keputusan untuk berkunjung kembali. Fenomena ini tampak dalam berbagai testimoni pengunjung yang menyatakan bahwa mereka mengagumi bangunan dan fasilitas masjid, tetapi enggan singgah kembali apabila kondisi di sekitar area pengunjung masih dipenuhi aktivitas yang dianggap mengganggu kenyamanan.
Memahami Sisi Kemanusiaan Para Pencari Nafkah
Dari perspektif psikologi sosial, penting untuk dipahami bahwa para pengemis, pengamen, pedagang kecil, maupun pencari sumbangan juga merupakan bagian dari masyarakat yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Teori “Hierarchy of Needs” dari Abraham Maslow (1943) menjelaskan bahwa kebutuhan ekonomi merupakan kebutuhan dasar yang mendorong manusia mencari berbagai cara untuk bertahan hidup. Karena itu, pembahasan mengenai kenyamanan pengunjung tidak boleh dimaknai sebagai penolakan terhadap keberadaan kelompok masyarakat tersebut. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menciptakan tata kelola ruang publik yang mampu mengakomodasi kebutuhan semua pihak tanpa mengorbankan kenyamanan pengunjung maupun hak masyarakat untuk mencari penghidupan.
Mengapa penertiban diperlukan? Dalam psikologi organisasi dan manajemen ruang publik, penertiban bukan berarti pengusiran, melainkan pengaturan agar setiap aktivitas berlangsung pada tempat dan waktu yang tepat. Jika pengelolaan area sekitar masjid dilakukan dengan baik, maka beberapa manfaat dapat diperoleh yaitu pengunjung merasa lebih nyaman beribadah, wisata religi semakin berkembang, citra masjid sebagai destinasi unggulan semakin positif, pedagang dapat berjualan pada lokasi yang telah disediakan dan aktivitas sosial dan penggalangan dana menjadi lebih teratur dan transparan. Penataan seperti ini banyak diterapkan di berbagai kawasan wisata religi dunia untuk menjaga keseimbangan antara fungsi sosial, ekonomi, dan spiritual.
Perspektif Islam tentang Kenyamanan Rumah Allah
Masjid dalam Islam bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang pembinaan spiritual dan ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian." (QS. At-Taubah: 18). Memakmurkan masjid tidak hanya berarti memperbanyak kegiatan ibadah, tetapi juga menjaga suasana yang membuat jamaah merasa aman, nyaman, dan tenang. Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menghindari tindakan yang dapat mengganggu orang lain di tempat ibadah. Prinsip ini menunjukkan bahwa kenyamanan jamaah merupakan bagian dari adab dalam memakmurkan masjid.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa Masjid Raya Al Bakrie Lampung memiliki potensi besar sebagai pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi yang membanggakan masyarakat Lampung. Kemegahan bangunan dan suasana spiritual yang ditawarkan telah menarik banyak pengunjung dari berbagai daerah. Namun, dari perspektif psikologi lingkungan, kenyamanan pengunjung merupakan faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Kehadiran pengemis, pengamen, pedagang yang memasuki area istirahat pengunjung, maupun berbagai bentuk permintaan sumbangan yang dilakukan secara langsung dapat menimbulkan kelelahan sosial dan mengurangi pengalaman positif pengunjung. Penataan yang lebih baik bukan bertujuan menyingkirkan mereka yang mencari nafkah, melainkan menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kebutuhan pengunjung akan ketenangan. Dengan demikian, Masjid Raya Al Bakrie dapat semakin dikenal bukan hanya karena kemegahan fisiknya, tetapi juga karena kenyamanan dan kekhusyukan yang dirasakan setiap orang yang datang berkunjung. (***)

.jpeg)