Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S,Ag, MA | Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
KEMATIAN beberapa peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial untuk calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kementerian Pertahanan menyampaikan bahwa para peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda, di antaranya heat stroke, henti jantung, tuberkulosis (TBC), serta kondisi kesehatan lain yang berkembang selama pelatihan.
Kemhan juga menegaskan bahwa pelaksanaan pelatihan telah mengikuti standar yang berlaku, namun tetap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem seleksi kesehatan, pengawasan medis, intensitas latihan, dan metode pembelajaran agar lebih adaptif terhadap kondisi peserta.
Di balik berita tersebut, terdapat sisi psikologis yang jarang dibicarakan. Para peserta tersebut adalah para sarjana muda yang datang dengan cita-cita besar. Mereka kemungkinan besar memiliki semangat, daya juang, dan keyakinan bahwa mereka mampu menyelesaikan setiap tahapan pelatihan. Namun, terkadang kegigihan manusia berhadapan dengan keterbatasan biologis yang tidak selalu dapat diprediksi.
*Mereka Datang untuk Mengabdi
Secara psikologis, orang yang berhasil lolos seleksi program nasional biasanya memiliki tingkat “achievement motivation” yang tinggi. David McClelland melalui teorinya “Need for Achievement” (1961) menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi akan menyukai tantangan, tidak mudah menyerah, rela menghadapi tekanan, dan ingin membuktikan kemampuan diri.
Karakter seperti inilah yang hampir pasti dimiliki para peserta SPPI. Mereka bukan datang untuk mencari kenyamanan, melainkan mengabdi kepada negara melalui pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih. Oleh karena itu, ketika tubuh mulai lelah, sebagian peserta mungkin tetap memilih bertahan karena secara psikologis muncul keyakinan bahwa "Saya harus kuat.", "Saya tidak boleh gagal." dan "Sedikit lagi saya lulus.".
Dalam psikologi olahraga maupun psikologi militer, fenomena ini dikenal sebagai “overcommitment”, yaitu kondisi ketika motivasi yang sangat tinggi justru membuat seseorang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuhnya.
Mengapa seseorang tetap bertahan saat tubuh sudah tidak mampu?
Psikologi mengenal teori “Grit” yang diperkenalkan oleh Angela Duckworth (2016). Duckworth, menjelaskan bahwa grit adalah kombinasi antara kegigihan, konsistensi tujuan, dan ketahanan menghadapi kesulitan.
Grit merupakan kualitas yang sangat positif. Namun, grit memiliki sisi lain apabila tidak diimbangi kemampuan mengenali batas fisik. Dalam kondisi latihan berat, seseorang dapat mengalami konflik batin yaitu "Apakah saya berhenti demi keselamatan, atau saya terus berjuang agar tidak dianggap lemah?". Konflik psikologis ini sering terjadi pada pendidikan militer, kepolisian, atlet elite, hingga profesi yang menuntut disiplin tinggi.
*Ketika Identitas Kelompok Kalahkan Sinyal Tubuh
Teori “Social Identity” dari Henri Tajfel (1979) menjelaskan bahwa seseorang cenderung menyesuaikan perilakunya dengan norma kelompok. Dalam pelatihan yang menekankan disiplin dan solidaritas, peserta dapat terdorong untuk terus mengikuti ritme kelompok meskipun kondisi fisiknya mulai menurun.
Bukan karena mereka ingin mengambil risiko, melainkan karena muncul dorongan psikologis untuk tidak ingin menjadi beban, tidak ingin tertinggal, tidak ingin mengecewakan pelatih, dan tidak ingin gagal setelah lolos seleksi yang ketat.
Fenomena ini dikenal sebagai “group conformity”.
Pada beberapa kasus, salah satu penyebab kematian disebut berkaitan dengan heat stroke. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat berkembang sangat cepat ketika mekanisme pengaturan suhu tubuh gagal bekerja. Dari sisi psikologi, persepsi seseorang terhadap bahaya sering kali tidak sejalan dengan kondisi biologisnya.
Dalam situasi penuh semangat, fokus pada target, dan dorongan untuk menyelesaikan tugas, seseorang bisa terlambat menyadari bahwa tubuhnya sudah memasuki fase berisiko.
Kesedihan yang Tidak Pernah Sama bagi Keluarga
Berita ini tentu berbeda bagi keluarga. Masyarakat membaca angka. Media menulis lima korban. Namun bagi orang tua, satu anak adalah seluruh dunianya.
Dalam teori “Kubler-Ross” (1969), kehilangan mendadak sering memunculkan tahapan yaitu penolakan, marah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak semua keluarga akan melewati tahap tersebut secara berurutan. Yang pasti, harapan melihat anak kembali sebagai lulusan berubah menjadi kepulangan jenazah. Luka seperti ini membutuhkan empati, pendampingan, dan waktu.
Evaluasi Kemhan: Pendekatan yang Lebih Adaptif
Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa pelatihan telah dilaksanakan sesuai standar, tetapi tetap melakukan evaluasi menyeluruh atas arahan Menteri Pertahanan. Evaluasi mencakup penyaringan kesehatan, pengawasan medis, penyesuaian intensitas latihan, penanganan peserta yang mengalami gangguan kesehatan, serta perubahan metode pembelajaran agar lebih adaptif, edukatif, memperhatikan kondisi psikologis, dan menumbuhkan kerja sama serta kemampuan pemecahan masalah.
Dari perspektif psikologi organisasi, langkah ini menunjukkan penerapan prinsip “High Reliability Organization (HRO)” sebagaimana dikembangkan oleh Karl Weick dan Kathleen Sutcliffe (2001). Organisasi yang andal tidak hanya mencari siapa yang salah, tetapi belajar dari setiap insiden untuk memperkuat sistem, meningkatkan kewaspadaan, dan mencegah kejadian serupa.
Psikologi modern tidak pernah mengajarkan bahwa keberanian berarti mengabaikan kesehatan. Sebaliknya, “resilience” menurut Ann Masten (2001) adalah kemampuan bertahan dengan cara yang adaptif, termasuk mengenali kapan harus meminta pertolongan, beristirahat, atau menerima intervensi medis. Pelatihan yang baik bukan hanya membentuk mental baja, tetapi juga membangun budaya yang membuat peserta merasa aman untuk melaporkan keluhan fisik tanpa takut dicap lemah.
Islam sangat menghargai semangat berjuang, tetapi juga menjaga keselamatan jiwa. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195). Allah juga berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini menegaskan bahwa batas kemampuan manusia adalah bagian dari sunnatullah.
Menghormati keterbatasan fisik bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu." (HR. Sahih al-Bukhari). Hadis tersebut mengingatkan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari amanah yang harus ditunaikan.
Akhirnya penting unutk dipahami bahwa peristiwa wafatnya beberapa peserta SPPI bukan sekadar berita tentang pelatihan yang berakhir duka. Ia juga menjadi pengingat bahwa semangat pengabdian, motivasi berprestasi, dan kegigihan adalah nilai-nilai yang mulia, tetapi harus berjalan beriringan dengan sistem perlindungan yang kuat.
Kita patut menghormati dedikasi para peserta yang datang membawa cita-cita untuk membangun desa dan bangsa. Di saat yang sama, evaluasi menyeluruh terhadap pola pelatihan yang meliputi aspek kesehatan, pengawasan medis, intensitas latihan, dan pendekatan psikologis yang merupakan langkah penting agar semangat pengabdian tidak lagi dibayar dengan kehilangan nyawa. Dengan demikian, tujuan membentuk sumber daya manusia yang tangguh dapat tercapai tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan dan keselamatan setiap peserta. (***)

