![]() |
| Karnaval Budaya Lampung |
Merawat Identitas, Persaudaraan, dan Harmoni Sosial di Lampung
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.
Berbagai kirab budaya dan festival tradisi yang rutin diselenggarakan di Provinsi Lampung, seperti Grebeg Suro Sidoharjo, Kirab Budaya Tahun Baru Islam, Festival Budaya Muwaghei, Festival Krakatau, maupun Pawai Budaya HUT Provinsi Lampung, bukan sekadar kegiatan seremonial atau hiburan masyarakat. Dari perspektif psikologi sosial dan budaya, kegiatan tersebut memiliki fungsi yang sangat penting dalam membangun identitas kolektif, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat.
Di tengah era digital yang ditandai dengan individualisme, interaksi virtual, dan menurunnya intensitas hubungan sosial langsung, kirab budaya menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana kebersamaan dan penghargaan terhadap keberagaman.
Teori “Social Identity Theory” yang dikemukakan oleh Henri Tajfel dan John Turner (1979) menjelaskan bahwa manusia memperoleh sebagian identitas dirinya melalui keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu. Melalui kirab budaya, masyarakat Lampung memperoleh kesempatan untuk menampilkan identitas budaya mereka melalui pakaian adat, kesenian tradisional, bahasa daerah, simbol-simbol budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal.
Ketika seseorang merasa bangga terhadap kelompok budayanya, maka akan muncul rasa percaya diri kolektif, kebanggaan sosial, solidaritas komunitas, serta komitmen menjaga warisan budaya. Dalam konteks Lampung yang dihuni oleh berbagai etnis seperti Lampung, Jawa, Sunda, Bali, Semendo, Batak, dan lainnya, kirab budaya menjadi media untuk menunjukkan identitas tanpa harus menimbulkan konflik antarkelompok.
Manusia Butuh Akar Identitas
Menurut John W. Berry (1997) dalam teori Acculturation Psychology, masyarakat yang mampu mempertahankan identitas budayanya sekaligus menghormati budaya lain, akan memiliki tingkat adaptasi sosial yang lebih baik. Festival Budaya “Muwaghei” di Lampung Timur merupakan contoh nyata bagaimana tradisi lokal menjadi sarana membangun hubungan persaudaraan lintas etnis dan agama.
Secara psikologis, tradisi tersebut memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk diterima kelompok, memiliki rasa memiliki (sense of belonging), mendapatkan dukungan sosial, dan serta memperoleh makna hidup dalam komunitas.
Psikolog komunitas McMillan dan Chavis (1986) memperkenalkan konsep “Sense of Community”, yaitu perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas yang saling peduli dan saling mendukung. Kegiatan kirab budaya mampu meningkatkan, Pertama: Kohesi Sosial. Masyarakat yang biasanya sibuk dengan aktivitas masing-masing berkumpul dalam satu kegiatan bersama. Kedua: Dukungan Sosial. Interaksi selama festival memperkuat jaringan sosial yang berfungsi sebagai sumber bantuan ketika menghadapi masalah.
Ketiga: Kebahagiaan Kolektif. Suasana meriah, musik, tarian, dan kebersamaan memunculkan emosi positif yang meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Menurut penelitian psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman (2011), keterlibatan dalam aktivitas sosial yang bermakna merupakan salah satu komponen penting kebahagiaan manusia.
Tradisi dan Ritual sebagai Sarana Kelola Emosi
Sosiolog dan psikolog sosial Émile Durkheim (1912) menjelaskan bahwa ritual budaya mampu menciptakan “collective effervescence”, yaitu pengalaman emosional bersama yang menghasilkan rasa persatuan dan energi sosial yang kuat. Pada acara seperti Grebeg Suro, Larung Sesaji, Festival Krakatau, dan Kirab Tahun Baru Islam. Masyarakat merasakan pengalaman emosional bersama yang memperkuat ikatan sosial.
Secara psikologis, ritual budaya berfungsi sebagai sarana pelepasan stres, media refleksi diri, penguatan harapan, serta pemulihan psikologis setelah menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Mengapa Masyarakat Menyukai Kirab dan Karnaval?
Menurut teori kebutuhan sosial Abraham Maslow (1943), setelah kebutuhan fisik dan keamanan terpenuhi, manusia membutuhkan rasa memiliki, penghargaan sosial, dan aktualisasi diri. Kirab budaya memenuhi kebutuhan tersebut melalui rasa memiliki. Masyarakat merasa menjadi bagian dari kelompok budaya yang lebih besar.
Penghargaan Sosial. Peserta kirab memperoleh pengakuan atas kontribusi dan kreativitasnya, Aktualisasi Diri. Generasi muda dapat menunjukkan kemampuan seni, budaya, dan kreativitas mereka. Karena itulah festival budaya selalu menarik partisipasi masyarakat lintas usia.
Perspektif Islam tentang Keberagaman Budaya
Islam memandang keberagaman sebagai bagian dari sunnatullah yang harus dihargai. Allah SWT berfirman: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman suku dan budaya bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan sarana untuk membangun hubungan sosial yang harmonis.
Kirab budaya yang menampilkan berbagai tradisi daerah dapat menjadi implementasi nyata dari prinsip ta'aruf (saling mengenal) dalam Islam.
Tradisi Muwaghei yang berkembang di Lampung Timur mengandung nilai persaudaraan yang sangat selaras dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR. Bukhari dan Muslim). Dari perspektif psikologi sosial, tradisi persaudaraan seperti Muwaghei mampu mengurangi prasangka sosial (prejudice) dan meningkatkan kepercayaan antar kelompok (social trust).
Kepercayaan sosial merupakan modal penting dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.
Erik Erikson (1968) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pencarian identitas (identity versus role confusion). Di era globalisasi, generasi muda rentan mengalami kehilangan identitas budaya, krisis jati diri, ketergantungan pada budaya populer global, dan menurunnya apresiasi terhadap tradisi lokal.
Partisipasi dalam kirab budaya dapat membantu remaja mengenal akar budayanya, memahami sejarah komunitasnya, membangun kebanggaan terhadap identitas daerah, serta memperoleh figur teladan dari para tokoh adat dan budaya. Dengan demikian, kirab budaya berfungsi sebagai media pendidikan karakter yang efektif.
Refleksi Psikologis
Akhirnya penting dipahami bahwa kirab budaya bukan hanya perayaan tradisi, melainkan kebutuhan psikologis masyarakat. Di dalamnya terdapat proses pembentukan identitas, penguatan persaudaraan, peningkatan kesehatan mental komunitas, serta pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Melalui Grebeg Suro, Festival Budaya Muwaghei, Festival Krakatau, Kirab Tahun Baru Islam, dan berbagai tradisi lainnya, masyarakat Lampung sesungguhnya sedang merawat tiga hal penting sekaligus: jati diri budaya, kesehatan psikologis kolektif, dan harmoni sosial.
Dalam perspektif Islam, budaya yang mengandung nilai persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada sesama, dan syukur kepada Allah merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kemaslahatan masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian kirab budaya tidak hanya bernilai sosial dan budaya, tetapi juga memiliki makna psikologis dan spiritual yang mendalam bagi kehidupan umat. (**)

