-->
Cari Berita

Breaking News

MBG: Makanya Baca Komposisi Sebelum Menelan

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 24 Juni 2026

Oleh: Junaidi Jamsari 


"Ketika Gizi Anak Kalah Ramai dari Drama Orang Dewasa"

Debu orasi kemarin belum sempat hilang, tapi lakonnya sudah kebaca semua. Kubu pro, kubu kontra, ternyata satu panggung. Pemainnya orang dalam. Pemain penggantinya pekerja SPPG. Dalangnya? Konon katanya, kursi kepala BGN yang kosong lalu diisi Kejagung.

Kita semua jadi penonton drama gratis. Ada yang berkomentar "pengen ketawa lihat dramanya". Ada yang bisik-bisik "pengen bikin opini, tapi ada teman di sana". 

Teman purnawirawan tanpa menyebut nama. Teman partai politik tanpa bawa atribut. Ada Bung A yang biasa disebut pengusaha. Semua nonton dari barisan paling aman. Yang maju ke depan? Pekerja SPPG. Yang jadi sorotan? Anak-anak penerima MBG.

*Baca Komposisi sebelum Menelan Kebijakan

Seperti komposisi kalau kita beli makanan minuman dalam kemasan, pasti ada tulisan kecil di belakang: bahan, nilai gizi, tanggal kedaluwarsa, cara konsumsi. Nggak ada orang waras yang langsung sobek bungkus lalu telan.

Faktanya, banyak yang tertipu modus "jual beli titik" hari ini karena komposisinya memang menjanjikan. Rapi tersusun. Angka-angka muluk. Janji "bagian hasil" yang kelihatan manis di kertas. Pas dibuka bungkusnya, isinya drama.

Kita semua, mungkin sudah saatnya menghela napas sebelum menelan kebijakan. Biar nggak keselek drama. Biar yang masuk ke tubuh itu gizi, bukan intrik. Ada 3 hal yang harus dicek dulu di "komposisi label"-nya:

1. Niat: Ini buat gizi anak atau buat gizi elektoral?  
Program yang niatnya ngenyangin perut anak, kok malah bikin perut kita mual lihat tarik-ulur kekuasaan.

2. Rezeki: Barokah untuk anak, bukan cuma untuk kontraktornya.
Katanya MBG buat anak. Tapi lapangan bilang lain. Ada yang sibuk "jual beli titik". Titik lokasi SPPG jadi komoditas. Titik koordinat gizi anak, berubah jadi titik koordinat proyek.  
Lucunya: yang jual beli titik itu orang dewasa. Yang rebutan titik itu orang dewasa. Yang jadi tumbal titik? Anak-anak yang belum bisa baca titik koma.

3. Tolak Bala: Lindungi kami dari aksi bayaran yang ngaku suara rakyat.
Aksi dukung dan tolak sama-sama turun. Sama-sama bawa spanduk. Sama-sama diteriakin "aspirasi rakyat". 

*Pas dicek KTP-nya, pegawai SPPG.

Bedanya lagi: kegiatan mereka waktunya sebentar. Datang, teriak 2-3 orasi, foto, lalu bubar rapi sebelum azan asar. Beda jauh kalau kegiatan mengemukakan pendapat di muka umum yang dilakukan organisasi atau mahasiswa. Bisa sampai malam. Orasinya panjang. Pengawasan pengamanannya ketat lapis 3. 

Jadi ini suara rakyat, atau suara "shift kerja SPPG" yang jamnya udah habis?

*Penutup: Kenyang yang Salah

Ironis. Program yang harusnya bikin anak kenyang gizi, malah bikin orang dewasa kenyang drama. Kepala BGN ganti, Kejagung masuk, titik dijual-beli, pekerja jadi pasukan.

Padahal "membaca komposisi" itu cuma butuh 5 detik. Kalau dari awal dicek beneran, mungkin nggak seramai ini. Yang barokah itu gizinya, bukan titik proyeknya.

Kita semua, kapan lagi mau bermuhasabah? Sebelum menyuapi anak dengan kebijakan, baca komposisinya dulu. Biar yang kenyang itu masa depan, bukan kantong. (***)

LIPSUS