-->
Cari Berita

Breaking News

Memahami Rambu Keselamatan

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 05 Juni 2026

 

Rambu-rambu Jalan

Oleh: Junaidi Jamsari

(Penulis tinggal di Lampung Barat)


"Tanda-tanda keselamatan, seperti exit sign dan tanda peringatan, adalah petunjuk yang diberikan kepada kita untuk menjaga keselamatan hidup di dunia. Namun, ada tanda-tanda lain yang lebih penting, yaitu petunjuk dari Allah yang menunjukkan jalan kebenaran dan keselamatan di akhirat. Dengan memahami dan mengikuti petunjuk-petunjuk ini, kita dapat mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, serta meraih kedamaian dan kebahagiaan yang abadi."


Tanda-tanda yang hadir dalam praktik kehidupan kita sebenarnya tergantung dari kita sendiri. Apakah kita sadar dan jeli melihat tanda-tanda tersebut? Misalnya saja ekspresi atau mimik wajah orang yang kita jumpai, hingga tanda-tanda yang disebabkan oleh alam.


Langkah ini mempunyai tujuan penting untuk memberikan penerangan dan panduan yang jelas untuk memastikan keadaan aman.


"Pintu kebenaran" adalah metafora spiritual dan filosofis yang merujuk pada jalan masuk menuju pemahaman, hikmah, dan kebenaran ilahi atau sejati, seringkali diartikan berbeda dalam berbagai ajaran. Intinya, "pintu kebenaran" adalah jalan yang benar, lurus, dan aman untuk mencapai kedamaian dan kehidupan yang bermakna.


Cara memasuki pintu kebenaran: Kerendahan hati: Menerima kebenaran tanpa kesombongan. Pencarian ilmu & hikmah: Memahami ajaran dan hikmah ilahi. Pertobatan (tobat): Menyesali dosa, meninggalkannya, dan bertekad tidak mengulangi. 


Masuk melalui jalan yang benar: Mengikuti jalan etika dan kebajikan, bukan jalan pintas yang salah. Intinya, "pintu kebenaran" adalah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai pemahaman sejati dan kehidupan yang benar, dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran spiritual atau filosofis yang dianut.


Islam: Sering mengaitkannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai "Pintu Ilmu" atau gerbang memahami hikmah Rasulullah SAW, serta pintu-pintu langit yang disebutkan dalam Al-Qur'an.


Dalam konteks ini menjaga hati adalah kunci utama terbukanya pintu-pintu kebaikan dan kebenaran. Selama hati tetap hidup dengan iman dan keikhlasan, jalan menuju kebaikan akan selalu Allah lapangkan.


Tanda hati yang hidup dan terang 


Penulis Imam Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menyebut tanda kematian dan kegelapan hati sebagai kebalikan dari tanda hati yang hidup dan terang. Dari sana kemudian, ulama yang mensyarahkan Kitab Al-Hikam menyebut dua tanda hati seseorang yang hidup dan terang. Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi mengatakan, hati yang hidup itu disinari oleh cahaya ilahi. Tanda hati yang hidup berkebalikan dari tanda hati yang mati, kering, dan gelap. 


Hati yang hidup dan terang merasa gembira atas perbuatan baik yang dilakukan dan merasa susah atas keburukan yang diperbuat. 


Artinya, “Tanda hidup (dan terangnya) hati karena cahaya ilahi meski tidak terlihat lantaran ketebalan hijab adalah kesedihanmu atas kesempatan ibadah yang terlewat dan penyesalanmu atas kekhilafan yang kau lakukan sehingga kamu merasa senang sekali atas amal ibadah yang kamu lakukan dan bimbang atas kekhilafan,” (Syekh Ahmad Hijazi As-Syarqawi, Syarhul Hikam, [Semarang, Thaha Putra: tanpa tahun], halaman 42).


Orang yang terhalang dari kebaikan adalah mereka yang mendapatkan nikmat Allah tapi tidak mampu bersyukur.

"Orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat, dia termasuk orang yang terhalang dari kebaikan,".  


"Keselamatan hidup manusia tidak hanya tentang menjaga tubuh dari bahaya, tapi juga tentang menjaga hati dan jiwa dari kesesatan.” 


Dengan memahami tanda-tanda keselamatan dan mengikuti jalan kebenaran, kita dapat mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, serta meraih kedamaian dan kebahagiaan yang abadi." Wallahu a’lam bisshowab. (*)

LIPSUS