![]() |
| Ilustrasi: Pekerja Migran (ist/inilampung) |
(Kajian Psikologi tentang Kesadaran Kemandirian Ekonomi Bangsa)
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung-
Berbagai pemberitaan mengenai pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengalami kekerasan, eksploitasi, pelecehan, penipuan, hingga pelanggaran hak asasi manusia di luar negeri, terus menjadi perhatian publik, sebagaimana yang viral TKI dipukul majikannya di Malaysia. Meskipun tidak semua pekerja migran mengalami nasib buruk dan banyak yang berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya, kasus-kasus perlakuan tidak manusiawi tetap menjadi alarm bagi bangsa Indonesia untuk melakukan refleksi bersama.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa masih banyak generasi muda yang melihat bekerja di luar negeri sebagai satu-satunya jalan keluar ekonomi? Lebih jauh lagi, bagaimana membangun kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan lapangan kerja di negeri sendiri? Dari perspektif psikologi, persoalan ini bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut harapan, identitas diri, harga diri, motivasi, dan keyakinan akan masa depan.
Psikologi Harapan dan Mimpi
Teori “Hope Theory” yang dikembangkan oleh Charles Snyder menjelaskan bahwa manusia akan mencari jalan yang dianggap paling mungkin untuk mencapai tujuan hidupnya. Ketika lapangan kerja terbatas, penghasilan rendah, dan peluang usaha dirasakan sempit, sebagian generasi muda melihat bekerja di luar negeri sebagai jalan tercepat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.
Secara psikologis, keputusan tersebut sering didorong oleh kebutuhan ekonomi keluarga, keinginan membantu orang tua, tekanan sosial untuk sukses, pengaruh lingkungan dan cerita keberhasilan orang lain dan persepsi bahwa penghasilan di luar negeri lebih menjanjikan. Namun harapan yang tinggi sering kali tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang utuh mengenai risiko yang mungkin dihadapi.
Psikologi mengenal konsep “Grass is Greener Effect” yang dijelaskan oleh Robert Leahy dalam berbagai kajian mengenai kepuasan hidup dan pengambilan keputusan. Manusia cenderung melihat kelebihan tempat lain sambil mengabaikan kesulitan yang ada di sana. Media sosial sering memperlihatkan adanya gaji tinggi, gedung-gedung megah, fasilitas modern dan gaya hidup yang tampak nyaman. Sementara sisi lain berupa tekanan kerja, diskriminasi, kesepian, eksploitasi, jam kerja panjang, hingga risiko kekerasan, sering tidak terlihat. Akibatnya, muncul bias kognitif bahwa kehidupan di luar negeri selalu lebih baik daripada di tanah air.
Harga Diri Bangsa dan Kemandirian Ekonomi
Menurut teori “Self-Determination Theory” dari Edward Deci dan Richard Ryan (1985), manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar yaitu kompetensi, kemandirian (autonomy), dan keterhubungan sosial. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memenuhi ketiga kebutuhan tersebut bagi warganya.
Ketika generasi muda memiliki keterampilan, peluang usaha, dan akses permodalan di negaranya sendiri, mereka akan memiliki rasa kompeten dan mandiri yang lebih tinggi dibandingkan jika hanya menjadi pencari kerja di negara lain. Hal ini tidak berarti merendahkan profesi pekerja migran. Banyak PMI yang bekerja secara terhormat dan menjadi pahlawan devisa negara. Namun dalam perspektif pembangunan jangka panjang, bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menciptakan pekerjaan, bukan sekadar mengirim tenaga kerja.
Teori “Need for Achievement” dari David McClelland menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh jumlah individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi. McClelland menemukan bahwa negara-negara yang berkembang pesat umumnya memiliki banyak individu yang berani mengambil risiko terukur, kreatif, inovatif dan mampu menciptakan peluang usaha.
Karena itu, pendidikan Indonesia perlu bergeser dari orientasi job seeker menjadi job creator. Generasi muda perlu dibekali dengan kewirausahaan, literasi keuangan, keterampilan digital, ekonomi kreatif, teknologi dan inovasi dan pengelolaan UMKM. Dengan demikian mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Dalam teori “Human Capital “ yang dipopulerkan oleh Theodore Schultz, investasi terbesar suatu bangsa adalah pada kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia industri, dan lembaga ketenagakerjaan perlu serius membangun ekosistem yang mendukung adanya pelatihan kewirausahaan sejak sekolah, inkubator bisnis bagi mahasiswa, akses modal usaha bagi pemuda, pendampingan UMKM, pelatihan keterampilan berbasis teknologi dan pengembangan ekonomi desa dan daerah.
Jika kesempatan ekonomi tumbuh di berbagai daerah, maka tekanan untuk bekerja ke luar negeri karena keterpaksaan ekonomi, akan semakin berkurang.
Perspektif Islam: Bekerja dengan Martabat
Islam sangat menghargai kerja keras dan kemandirian ekonomi. Allah SWT berfirman: "Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini menunjukkan bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia.
Allah juga berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11). Ayat tersebut menegaskan pentingnya ikhtiar kolektif untuk membangun kemajuan bangsa. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari). Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim). Makna "tangan di atas" bukan sekadar memberi sedekah, tetapi juga menggambarkan kemandirian, produktivitas, dan kemampuan membantu orang lain.
Dari Pekerja Menjadi Pencipta Lapangan Kerja
Psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman menekankan pentingnya mengembangkan kekuatan (strengths) daripada hanya berfokus pada kelemahan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, pasar domestik yang luas, bonus demografi, ekonomi digital yang berkembang dan kreativitas generasi muda yang tinggi.
Potensi ini dapat menjadi modal untuk melahirkan lebih banyak entrepreneur, inovator, petani modern, pengusaha kreatif, dan pelaku UMKM yang mampu menggerakkan ekonomi nasional.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa kasus-kasus pekerja migran yang mengalami perlakuan tidak manusiawi di luar negeri hendaknya menjadi bahan refleksi nasional, bukan untuk merendahkan para pekerja migran yang telah berjuang demi keluarga, tetapi untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih serius dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa.
Dari perspektif psikologi, manusia mencari harapan dan peluang hidup yang lebih baik. Namun harapan tersebut perlu diimbangi dengan pembangunan kompetensi, kewirausahaan, dan kepercayaan diri nasional. Indonesia memerlukan generasi muda yang tidak hanya bercita-cita menjadi pekerja, tetapi juga menjadi pencipta pekerjaan.
Pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat harus bersama-sama menyiapkan ekosistem yang memungkinkan hal itu terwujud. Sebagaimana ajaran Islam, manusia diperintahkan untuk bekerja, berikhtiar, dan membangun kehidupan yang bermartabat. Ketika kesempatan ekonomi tumbuh di negeri sendiri, maka semakin banyak anak bangsa yang dapat membangun kesejahteraan keluarganya secara terhormat di tanah air, sekaligus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. (**)


