Oleh: Junaidi Jamsari
Jum'at ini tanah air kembali ramai. Di media, di kampus, di jalan, suara mahasiswa menyampaikan aspirasi terhadap kebijakan pemerintah menggema. Situasi seperti ini menguji kita semua. Menguji penguasa untuk mendengar dengan tenang. Menguji rakyat untuk bersuara dengan bijak. Menguji setiap kita untuk berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.
Dalam kehidupan modern, ujian datang dari segala arah. Media sosial mempercepat informasi, tapi juga mempercepat salah paham. Pergaulan, tekanan kerja, dan godaan untuk "tampil tegas" membuat kita mudah terpancing. Padahal, iman menuntun kita untuk waspada. Waspada bukan berarti takut, tapi sadar bahwa setiap langkah dan setiap kata punya konsekuensi.
Lisan adalah nikmat Allah yang besar, sekaligus amanah yang berat. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam" HR. Bukhari dan Muslim.
Kalimat ini sederhana, tapi menyelamatkan. Di tengah derasnya aspirasi, diam sejenak sebelum bicara itu ibadah. Memilih kata yang membangun, bukan yang membakar, itu keberanian.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban" QS. Al-Isra: 36.
Ayat ini tamparan halus untuk pejabat, aktivis, dan kita semua. Jangan cepat menilai. Jangan cepat menuduh. Pastikan ilmu dulu, baru bicara.
Allah juga berfirman: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat" QS. Qaf: 18. Di era media sosial, satu cuitan bisa jadi jejak digital selamanya. Satu pernyataan pejabat bisa jadi gaduh nasional. Satu komentar netizen bisa menyakiti ribuan orang. Maka waspada itu wajib.
Rasulullah SAW juga bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati" HR. Tirmidzi.
Cerdas di sini bukan soal IQ tinggi, tapi soal kendali diri. Pejabat yang menahan diri sebelum bicara itu cerdas. Mahasiswa yang menyampaikan aspirasi tanpa merusak itu cerdas. Kita semua yang memilih kata damai di kolom komentar itu cerdas.
Situasi hari ini mengingatkan: negara tidak dibangun oleh kata yang paling keras, tapi oleh kata yang paling bisa dipercaya. Aspirasi mahasiswa adalah bentuk cinta pada negeri. Tanggung jawab pejabat adalah bentuk amanah pada rakyat. Keduanya akan indah kalau sama-sama dijaga adabnya.
Maka, mari kita sama-sama berhati-hati. Berhati-hati bertindak agar tidak merugikan orang lain. Berhati-hati berkata agar tidak melukai hati. Karena kita semua akan dimintai pertanggungjawaban. Pendengaran, penglihatan, hati, dan lisan kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bertakwa. Yang berani tenang, bukan berani gaduh. Yang menjaga lisan, agar negeri ini tetap teduh. (*)
*) Penulis Tinggal di Lampung Barat.

