![]() |
| Peringatan Malam 1 Suro di Indonesia (ist/inilampung) |
(Menyambut 1 Muharram 1448 H)
Oleh: Junaidi Jamsari
Sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW mengajarkan satu hukum abadi: peradaban besar lahir setelah melewati tekanan. Nabi Muhammad SAW membangun Madinah yang beradab, toleran, dan produktif justru setelah 13 tahun di Makkah penuh siksaan, boikot, dan ketidakpastian.
Dari rahim tekanan itulah lahir Piagam Madinah. Dokumen konstitusi pertama yang menyatukan Muhajirin, Anshar, dan Yahudi dalam satu kalimat: maslahat bersama di atas ego kelompok. Keberagaman tidak dihapus, tapi disatukan. Kebisingan suku dan dendam lama diganti harmoni hukum yang adil.
1 Muharram 1448 H mengingatkan kita: hijrah bukan sekadar pindah tempat. Hijrah adalah pindah level. Dari keributan menuju kerja nyata.
Di Persimpangan Makkah-Madinah
Hari ini, bangsa kita seperti berada di fase Makkah yang panjang. Tekanannya bukan siksaan fisik, tapi kebisingan digital.
Kita bangun tidur disambut debat kusir di media sosial. Mau kerja diganggu hoaks. Mau berbuat baik, dituduh pencitraan. Mau diam dicap apatis. Energi bangsa habis untuk berdebat siapa yang paling benar, bukan berbuat apa yang paling benar.
Piagam Madinah lahir karena para sahabat sepakat berhenti ribut soal masa lalu dan mulai mikir masa depan bersama. Di Indonesia, kita justru sering terjebak sebaliknya: masa lalu terus diungkit, masa depan ditunda.
Padahal, anak-anak kita tidak butuh kita menang debat. Mereka butuh kita menang membangun.
Hijrah 1448 H: Ambil Kendali Atas 3T
Jika Madinah lahir dari keberanian memfilter kebisingan, maka hijrah kita hari ini juga harus dimulai dari sana. Hijrah dari "di-dikte algoritma" menuju "pengendalian diri".
Ada 3 hal yang harus kita filter mulai tahun baru ini:
1. Filter Lisan.
Rasulullah bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." HR Bukhari-Muslim.
Kebisingan bangsa sering dimulai dari jempol kita sendiri. Share tanpa cek. Komentar tanpa data. Viral tanpa adab. Hijrah lisan artinya: sebelum posting, tanya dulu - ini nambah manfaat atau nambah gaduh?
2. Filter Pikiran.
Madinah maju karena warganya jernih berpikir. Mereka fokus membangun pasar, sistem irigasi, dan pendidikan. Bukan fokus mencari musuh baru setiap hari.
Hijrah pikiran artinya: berhenti konsumsi konten yang bikin marah 24 jam. Ganti dengan ilmu yang bikin kita naik kelas. Otak yang jernih melahirkan solusi, bukan tuduhan.
3. Filter Hati.
Piagam Madinah bisa diteken karena hati para sahabat sudah hijrah dari "ego suku" ke "niat ukhuwah". Mereka rela berbagi kurma, berbagi sumur, berbagi masa depan.
Hijrah hati artinya: lawan rasa dengki saat lihat orang lain naik. Ganti dengan doa: "Ya Allah, titipkan keberkahan untuknya dan untukku juga." Hati yang bersih tidak berisik. Hati yang bersih sibuk bersyukur dan bekerja.
*Kerja Nyata, Bukan Kerja Keras Debat
Bayangkan jika 280 juta penduduk Indonesia kompak mengurangi 30 menit waktu berdebat di online, lalu dipakai menanam pohon, mengajar ngaji, atau mengecek ibu hamil di RT sebelah.
Dalam setahun, kita dapat 140 juta jam kerja nyata. Itu "Madinah Baru" versi Indonesia. Tidak berisik, tapi berdampak.
Allah sudah mengingatkan di QS Ar-Ra'd:11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
Hijrah 1448 H dimulai dari diri sendiri. Bukan menunggu pemimpin sempurna. Bukan menunggu sistem berubah. Tapi menunggu kita berani mute kebisingan dan unmute kerja nyata.
Jangan biarkan kebisingan mendikte masa depan kita. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh siapa paling nyaring di media sosial. Masa depan bangsa ditentukan oleh siapa paling istiqamah menanam kebaikan di dunia nyata.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Mari kita hijrah menuju "Madinah" Baru: negeri yang tenang, produktif, dan saling menjaga. Wallahu a’alam bishshawab. (**)


