Oleh Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd
I
Kumpulan puisi Fransisco Munoz Soler yang berjudul Tercengkeram (Pinched) diterjemahkan oleh Siska Saputri. Ditulis dalam rentang waktu 1979-2025. Tidak disebutkan oleh editor Sastri Bakry berapa jumlah puisi yang terhimpun dalam kumpulan puisi ini, hanya disebut puluhan puisi saja. Saya pun tidak menghitung berapa jumlah puisi yang terhimpun dalam kumpulan puisi ini. Yang menarik bagi saya adalah puisi pertama dalam kumpulan puisi tersebut untuk dibicarakan dalam artikel ini. Puisi itu berjudul Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga.
II
Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga
Bagaimana mungkin sebuah bunga
berdiri tegak dengan wangi memesona
mengidamkan kelopok-kelopaknya layu
untuk menghibur duka yang tak masuk akal,
akal sehatnya diganggu oleh kegilaan:
ia menanti kehinaan itu berakhir,
tersisa hanya dinginnya sebuah angka,
apa arti hidupnya kini?
Untuk menguak apa yang dibicarakan oleh puisi di atas, saya menggunakan pendekatan gaya bahasa. Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi di atas adalah metafora. Apa yang hendak diucapkan oleh penyair dalam puisi di atas, disampaikannya melalui gaya bahasa metafora, yaitu bunga. Saya menyebutnya metafora bunga.
Metafora bunga itu salah satu yang paling sering dipakai dalam puisi, lagu, dan bahasa sehari-hari. Maknanya tidak tunggal, tergantung jenis bunga, warna dan konteksnya. Tapi ada benang merahnya. Makna dasar metafora bunga, yaitu bunga dipakai untuk mewakili sesuatu yang punya sifat mirip bunga: indah, hidup sebentar, butuh dirawat, bisa mekar atau layu. Makna umum yang paling sering muncul terhadap aspek bunga adalah 1) keindahan, 2) kerapuhan dan singkatnya hidup, 3) pertumbuhan dan harapan, 4) kesuburan dan kehidupan dan 5) kesedihan kalau layu. Metafora yang muncul dari keindahan adalah kecantikan fisik, masa muda, kelembutan. Metafora yang muncul dari kerapuhan dan singkatnya hidup adalah masa muda yang cepat lewat, cinta yang sebentar. Metafora yang muncul dari pertumbuhan dan harapan adalah awal baru, potensi cinta yang tumbuh. Metafora yang muncul dari kesuburan dan kehidupan adalah wanita, kesuburan, kelahiran. Metafora yang muncul dari kesedihan kalau layu adalah, kematian, patah hati, kehilangan.
Berdasarkan konsep metafora bunga di atas, kita kubak puisi Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga. Puisi yang terdiri dari dua bait delapan lirik ini berbicara tentang sebuah bunga yang dipertanyakan kemungkinannya (dapat) berdiri tegak dengan wangi memesona (ketika) mengidamkan kelopok-kelopaknya layu untuk menghibur duka yang tak masuk akal. (Sedangkan) akal sehatnya diganggu oleh kegilaan: ia menanti kehinaan itu berakhir, tersisa hanya dinginnya sebuah angka, apa arti hidupnya kini?
Bait pertama itu membicarakan tentang kondisi sebuah bunga. Bunga itu mengidamkan kelopak-kelopaknya layu. Tujuannya untuk menghibur duka yang tak masuk akal. Oleh karena itu, lirik pertama dan kedua pada bait pertama mempertanyakan: “Bagaimana mungkin sebuah bunga/berdiri tegak dengan wangi memesona”. Apabila, ia sendiri yang menginginkan kelopak-kelopaknya layu, sehingga dapat dikatakan ia sudah layu sebelum berkembang. Jadi, bagaimana mungkin ia dapat berdiri tegak dengan wangi memesona. Mirisnya, ia layu sebelum berkembang hanya untuk menghibur duka yang tak masuk akal.
Bait kedua menunjukkan betapa tragisnya bunga itu. Akal sehatnya diganggu oleh kegilaan: ia menanti kehinaan itu berakhir. Kegilaannya adalah mengharapkan kehinaan bagi dirinya segera berakhir. Namun, kenyataannya yang tersisa baginya hanya dinginnya sebuah angka; suatu usia yang tidak mempunyai makna. Jadi, apa arti hidupnya kini? Bila kehidupan itu sendiri telah ia rusak sendiri selagi masih muda.
III
Bunga pada puisi Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga merupakan metofora yang mengacu kepada seorang perempuan, wanita, atau gadis yang masih belia, atau remaja. Hal itu dinyatakan oleh frasa kelopak-kelopaknya layu (L.3.B1) yang menggambarkan kerapuhan perempuan itu. Metafora yang muncul dari kerapuhan adalah masa muda yang cepat lewat. Ia tidak sempat menikmati masa mudanya dengan baik karena ia telah ternoda atau dinodai oleh seseorang untuk menghibur duka yang tak masuk akal. Predikat menghibur duka pada lirik empat bait pertama menjadi sebuah misteri yang hanya dapat dipahami bila kita menafsirkanya. Kata duka dapat diartikan sebagai manifestasi kehidupan yang sangat susah, sulit dan sangat memprihatinan. Kesulitan dalam kehidupan, kemiskinan yang dilalui oleh perempuan muda itu sehingga ia memilih atau mengidamkan, menginginkan kelopak-kelopaknya layu; ia ‘menjual dirinya’ melepas kegadisan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan, pilihannya itu memang tidak masuk akal.
Sementara itu, akal sehat perempuan muda itu diganggu oleh kegilaan, yaitu ia menanti kehinaan itu berakhir. Seorang perempuan muda yang telah melepas kegadisan oleh karena faktor kemiskinan merupakan kehinaan bagi dirinya. Ironisnya, keinginannya untuk mengakhiri kehinaan itu dianggapnya suatu kegilaan karena tidak sesuai dengan akalnya sehatnya. Yang tersisa baginya hanya dinginnya sebuah angka; suatu usia yang tidak mempunyai makna. Jadi, apa arti hidupnya kini? Bila kehidupan itu sendiri telah ia rusak sendiri selagi masih muda.
IV
Puisi yang berjudul Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga membicarakan tentang seorang perempuan muda miskin yang memperjuangkan hidupnya. Untuk mempertahan hidup yang susah dan miskin itu, ia rela ‘menjual dirinya’. Ia sendiri ingin keluar dari problematik kehidupan itu sendiri, namun tidak mampu. Baginya keinginan itu suatu kegilaan. Usia mudanya sudah tidak mempunyai arti lagi. Apa arti hidupnya kini? (*/bd/inilampung)
