-->
Cari Berita

Breaking News

Piil Pesenggiri dan Pembentukan Kepribadian:

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 06 Juni 2026

 Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA.| Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

  • Piil Pesenggiri dan Pembentukan Kepribadian:
  •  Kajian Psikologi Indigenous Lampung

 

DITENGAH  arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang begitu cepat, masyarakat Lampung menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas budayanya. Generasi muda kini lebih akrab dengan budaya global yang hadir melalui media sosial dibandingkan dengan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan semakin pudarnya karakter khas masyarakat Lampung yang selama berabad-abad dibangun melalui falsafah hidup “Piil Pesenggiri”. 


Padahal, “Piil Pesenggiri” bukan sekadar simbol budaya atau slogan adat. Ia merupakan sistem nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berperilaku masyarakat Lampung. Dalam perspektif psikologi, “Piil Pesenggiri” dapat dipahami sebagai sumber pembentukan kepribadian yang lahir dari pengalaman budaya masyarakat Lampung sendiri atau yang dikenal sebagai Psikologi Indigenous.


Psikologi indigenous merupakan pendekatan psikologi yang berupaya memahami perilaku manusia berdasarkan konteks budaya lokal. Tokoh psikologi indigenous, Uichol Kim (2000), menjelaskan bahwa kepribadian manusia tidak dapat dipisahkan dari nilai, norma, dan tradisi budaya tempat seseorang dibesarkan. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh John W. Berry (1999) yang menegaskan bahwa budaya membentuk cara individu memahami dirinya, berinteraksi dengan orang lain, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. 


Melalui perspektif ini, “Piil Pesenggiri” dapat dipandang sebagai bentuk psikologi lokal masyarakat Lampung yang mengandung nilai-nilai pembentukan karakter, harga diri, identitas sosial, dan hubungan interpersonal.

 

Piil Pesenggiri Fondasi Kepribadian

Secara umum, “Piil Pesenggiri” dimaknai sebagai sikap menjaga kehormatan, martabat, dan harga diri melalui perilaku yang terhormat dan bermoral. Namun makna tersebut tidak identik dengan kesombongan atau gengsi. Sebaliknya, “Piil Pesenggiri” mengajarkan tanggung jawab moral agar seseorang menjaga nama baik diri, keluarga, dan masyarakatnya. 


Dalam psikologi modern, konsep ini memiliki kedekatan dengan teori “self-esteem” yang dikemukakan oleh Morris Rosenberg (1965). Rosenberg menjelaskan bahwa individu yang memiliki harga diri positif akan menunjukkan perilaku yang lebih bertanggungjawab, percaya diri, dan mampu mengendalikan diri. “Piil Pesenggiri” mengajarkan bahwa kehormatan tidak diperoleh melalui kekayaan atau kekuasaan, melainkan melalui akhlak, kontribusi sosial, dan penghormatan terhadap sesama.

 

Empat Pilar Piil Pesenggiri dalam Perspektif Psikologi

Pertama: Bejuluk Beadek, Identitas dan Tanggung Jawab Sosial. 

“Bejuluk Beadek” merupakan pemberian gelar adat yang menunjukkan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Secara psikologis, nilai ini berkaitan dengan pembentukan identitas diri. Menurut teori perkembangan identitas dari Erik Erikson (1968), individu membutuhkan identitas yang jelas agar mampu memahami perannya dalam kehidupan sosial. 


Gelar adat dalam budaya Lampung tidak hanya menjadi simbol kehormatan, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab moral yang harus dijaga.


Kedua: Nemui Nyimah, Psikologi Empati dan Keramahtamahan. 

“Nemui Nyimah” mengajarkan sikap terbuka, ramah, santun, dan suka memberi kepada tamu maupun sesama. Nilai ini sejalan dengan teori empati dari C. Daniel Batson (1991) yang menjelaskan bahwa kemampuan memahami perasaan orang lain menjadi dasar munculnya perilaku prososial dan kepedulian sosial. 


Dalam kehidupan masyarakat Lampung, “Nemui Nyimah” menjadi sarana membangun hubungan sosial yang harmonis serta memperkuat persaudaraan.


Ketiga: Nengah Nyappur, Psikologi Adaptasi Sosial. 

“Nengah Nyappur” berarti mampu bergaul, berinteraksi, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat. Nilai ini berkaitan dengan konsep “social competence” atau kompetensi sosial yang sangat penting dalam psikologi. Individu yang memiliki kemampuan berinteraksi secara sehat cenderung lebih mudah beradaptasi, bekerjasama, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. 


Di era digital saat ini, ketika interaksi langsung semakin berkurang, nilai Nengah Nyappur menjadi semakin relevan untuk menjaga kemampuan sosial generasi muda.


Keempat; Sakai Sambayan, Psikologi Gotong Royong dan Solidaritas. 

“Sakai Sambayan” mengandung makna tolong-menolong, gotong royong, dan kerja sama demi kepentingan bersama. Nilai ini selaras dengan teori identitas sosial dari Henri Tajfel dan John Turner (1979) yang menjelaskan bahwa keterikatan terhadap kelompok dapat meningkatkan solidaritas dan rasa tanggung jawab sosial. 


Masyarakat yang mempraktikkan Sakai Sambayan umumnya memiliki tingkat kohesi sosial yang lebih kuat dibandingkan masyarakat yang individualistis.


Nilai-nilai “Piil Pesenggiri” sejatinya memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13). Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kualitas moral dan ketakwaannya. 

Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Dengan demikian, menjaga “Piil Pesenggiri” pada hakikatnya adalah menjaga akhlak, martabat, dan kehormatan diri sesuai tuntunan agama.

 

Tantangan Piil Pesenggiri di Era Modern

Saat ini muncul kecenderungan sebagian generasi muda memahami “Piil Pesenggiri” secara sempit sebagai gengsi sosial atau simbol status semata. Padahal makna asli “Piil Pesenggiri” jauh lebih luas dan sangat mulia, yakni pembentukan karakter yang berintegritas, santun, peduli, dan bertanggung jawab. 


Budaya instan, individualisme, serta pengaruh media sosial yang sering mengukur nilai seseorang dari popularitas dan materi berpotensi menggeser makna luhur tersebut. Oleh karena itu, keluarga, sekolah, lembaga adat, pesantren, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai “Piil Pesenggiri” melalui pendidikan dan keteladanan.

  

Penutup

“Piil Pesenggiri” bukan sekadar warisan budaya masyarakat Lampung, tetapi juga merupakan sistem pembentukan kepribadian yang kaya akan nilai psikologis. Melalui Bejuluk Beadek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, masyarakat Lampung diajarkan untuk memiliki identitas yang kuat, empati sosial, kemampuan beradaptasi, serta semangat gotong royong. 


Dalam perspektif psikologi indigenous, ”Piil Pesenggiri” merupakan modal budaya yang sangat berharga untuk membentuk generasi Lampung yang berkarakter, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Jika nilai-nilai ini terus diwariskan dan dipraktikkan, maka “Piil Pesenggiri” akan tetap menjadi cahaya yang menuntun masyarakat Lampung menuju kehidupan yang bermartabat, harmonis, dan berkeadaban. (**)

LIPSUS