-->
Cari Berita

Breaking News

Refleksi 1448 Hijriah: Menemukan Makna Hijrah di Tengah Arus Modernitas

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Senin, 15 Juni 2026

 


Oleh: H. Ma'ruf Abidin, MSi - Sekretaris PW Muhammadiyah Provinsi Lampung.


Pergantian kalender sering kali berlalu begitu saja, terjebak dalam sebatas seremonial angka atau ucapan selamat yang memenuhi ruang digital. Namun, bagi umat Muslim, ketukan pintu 1 Muharram 1448 Hijriah membawa getaran yang jauh lebih dalam. Ini bukan sekadar penanda bahwa waktu terus bergulir, melainkan sebuah alarm spiritual yang memaksa kita untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menatap tajam ke depan.


Sejarah mencatat bahwa Kalender Hijriah, yang diresmikan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA, tidak dimulai dari hari kelahiran atau wafatnya sang Nabi. Islam memilih peristiwa hijrah—sebuah aksi nyata perpindahan dari Makkah ke Madinah—sebagai titik nol peradabannya. Pilihan historis ini menegaskan sebuah filosofi fundamental: Islam adalah agama pergerakan, dinamis, dan berorientasi pada perubahan yang lebih baik.


Di era modern saat ini, esensi hijrah sering kali mengalami penyempitan makna. Sebagian orang menganggap hijrah sekadar perubahan visual atau atribut luar. Padahal, esensi terbesar dari momentum 1448 Hijriah ini adalah "Hijrah Qalbu" dan "Hijrah Perilaku".


Dalam konteks hari ini, berhijrah berarti memiliki keberanian untuk bermigrasi dari zona nyaman kelalaian menuju disiplin ibadah. Ia adalah transformasi dari sifat egois menuju kepedulian sosial, dari kebiasaan menyebarkan keluh kesah di media sosial menjadi pribadi yang penuh syukur dan solutif. Hijrah hari ini adalah perjuangan melawan arus disrupsi informasi yang sering kali mengikis moralitas dan kejujuran kita.


Bulan Muharram yang mulia ini hadir membawa paket kesempatan. Melalui amalan mulia seperti Puasa Asyura, kita diajarkan untuk menyucikan masa lalu. Melalui anjuran menyantuni anak yatim dan bersedekah, kita diingatkan bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.


Tahun 1448 Hijriah adalah lembaran putih yang baru saja dibuka. Menuliskan kisah terbaik di atasnya membutuhkan komitmen, bukan sekadar angan-angan. Mari jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk merancang strategi hidup yang lebih berkah, memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta, dan memperluas manfaat bagi sesama manusia. Sebab pada akhirnya, hijrah terbaik adalah ketika hari esok kita jauh lebih mulia daripada hari ini. (**)

LIPSUS