Oleh: Udo Z Karzi
LAMPUNG kembali kehilangan satu putra terbaiknya. Bukan seorang penyair yang meninggalkan bait-bait puisi. Bukan pula seorang politikus yang mewariskan pidato-pidato. Kali ini yang pergi adalah seorang prajurit. Seorang jenderal yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam disiplin, latihan, pengabdian, dan keyakinan bahwa tugas seorang tentara adalah menjaga negara, bukan mengejar kekuasaan.
Minggu, 31 Mei 2026, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada usia 76 tahun. Indonesia kehilangan mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan mantan Menteri Pertahanan. Namun bagi Lampung, kehilangan itu terasa lebih dekat. Sebab, meskipun lahir di Palembang, Ryamizard adalah bagian dari keluarga besar Lampung yang selama beberapa generasi menanamkan akar pengabdian di tanah ini.
Nama Ryacudu bukan nama asing di Lampung. Jauh sebelum Ryamizard menjadi jenderal bintang empat, masyarakat Lampung telah mengenal ayahnya, Mayjen TNI Musannif Ryacudu, putra Mesir Ilir, Bahuga, Way Kanan, yang lahir pada 28 Februari 1924 dan wafat pada 1987.
Musannif adalah perwira generasi awal republik. Ia dikenal sebagai tentara yang memegang teguh kesetiaan kepada negara dan pemerintahan yang sah. Dari sosok ayah itulah Ryamizard belajar tentang arti pengabdian, loyalitas, dan profesionalisme.
Ryamizard merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara pasangan Musannif Ryacudu dan R.A. Zuharya. Sebagai anak pertama, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras dalam disiplin, tetapi kuat dalam nilai-nilai moral dan agama.
Pesan ayahnya sederhana, tetapi menentukan arah hidupnya: jadilah tentara profesional dan jangan larut dalam politik. Pesan itu tampaknya tidak pernah benar-benar lepas dari dirinya.
Di negeri yang pernah menjadikan tentara dan politik sebagai dua hal yang nyaris tak terpisahkan, Ryamizard justru dikenal sebagai perwira yang berulang kali menegaskan dirinya bukan politikus. Ia seorang prajurit. Bahkan ketika banyak orang memandang jabatan sebagai jalan menuju kekuasaan, Ryamizard lebih sering berbicara tentang tugas, latihan, disiplin, dan pengabdian.
Barangkali karena itulah sepanjang kariernya ia lebih dikenal sebagai tentara lapangan daripada pemain manuver politik.
Karier militernya dibangun dari bawah. Dari komandan peleton, komandan kompi, komandan batalion, hingga akhirnya mencapai puncak sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 2002. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada sensasi. Yang ada hanyalah proses panjang yang ditempuh dengan kesabaran seorang prajurit.
Ia dikenal keras dalam melatih pasukannya. Namun kekerasan itu lahir dari keyakinan bahwa disiplin adalah cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa di medan tempur. Baginya, latihan bukan sekadar rutinitas. Latihan adalah persiapan menghadapi kemungkinan terburuk.
Di balik citra jenderal yang tegas, Ryamizard memiliki sisi lain yang tak kalah menarik. Ia sangat religius. Sejak kecil ia dibiasakan mengaji dan menghafal hadis. Karena itu ia pernah dijuluki “Si Hadis”. Saat menjadi taruna, teman-temannya bahkan memanggilnya “Pak Kiai”. Julukan yang terdengar unik di lingkungan militer.
Namun, justru di situlah letak kekhasan Ryamizard. Ia memperlihatkan bahwa ketegasan seorang tentara tidak harus menghilangkan kelembutan spiritual. Bahwa disiplin dan ketakwaan dapat berjalan berdampingan.
Ia rajin membaca buku agama, mengikuti pengajian, dan menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai pegangan hidup. Ia ingin menjadi prajurit yang baik sekaligus bertakwa.
Karena itulah ketika Lampung Post menerbitkan buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung pada 2008, Ryamizard ditempatkan dalam satu judul yang terasa sangat tepat: “Militer Profesional yang Bertakwa”.
Bagi Lampung, pencapaian Ryamizard bukan sekadar keberhasilan pribadi. Ia menjadi simbol bahwa anak-anak daerah dapat hadir dan berperan di panggung nasional tanpa harus melupakan akar mereka.
Nama Ryamizard selalu masuk dalam daftar tokoh penting Lampung modern. Ia berdiri dalam satu garis sejarah keluarga yang panjang. Bukan hanya karena ayahnya seorang perwira tinggi, tetapi juga karena keluarganya terus mengambil bagian dalam pengabdian kepada masyarakat.
Salah satu adiknya, Syamsurya Ryacudu, pernah menjadi Wakil Gubernur Lampung dan kemudian Gubernur Lampung. Jika Ryamizard mengabdi melalui dunia militer, Syamsurya mengabdi melalui pemerintahan daerah.
Dua jalan berbeda, tetapi berasal dari akar yang sama. Kini perjalanan panjang itu telah berakhir.
Pangkat tertinggi pernah diraih. Jabatan tertinggi pernah diduduki. Penghormatan militer pun diberikan saat pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Namun pada akhirnya, seperti juga kita semua, Ryamizard hanyalah seorang manusia yang sedang menjalani giliran pulang.
Kematian selalu mengingatkan bahwa tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada pangkat yang kekal. Yang tersisa hanyalah jejak pengabdian dan kenangan yang ditinggalkan.
Di sebuah kampung di Mesir Ilir, Bahuga, hampir seabad lalu, lahirlah Musannif Ryacudu. Dari sanalah bermula satu kisah keluarga yang kemudian melahirkan seorang KSAD, seorang Menteri Pertahanan, seorang gubernur, dan berbagai bentuk pengabdian lainnya.
Sang ayah telah lebih dahulu pergi pada 1987. Kini sang anak menyusulnya.
Musannif telah menjadi sejarah. Ryamizard kini menjadi sejarah.
Dan Lampung, dengan segala ingatannya, akan terus mencatat keduanya sebagai bagian dari kisah panjang putra-putra terbaiknya yang memilih mengabdi kepada republik. Tabik. (*)
BIODATA
Nama: Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
Lahir: Palembang, 21 April 1950
Agama: Islam
Jabatan terakhir: Kepala Staf TNI Angkatan Darat
Istri: drg. Nora Trystiana
Anak-anak: Ryano Patriot, Dwinanda Patriot, dan Tryananda Patriot
Ayah: Brigjen TNI (Purn.) Ryacudu (Alm.)
Pendidikan:
- STM Jurusan Mesin
- Akabri Darat, lulus 1973
- Suscapa (1985--1986)
- Seskoad, 1991
Karier militer:
- Komandan Peleton di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan Kompi di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan Batalion di Kodam XII Tanjungpura
- Komandan Brigade Infanteri 17 Kostrad
- Asops Kasdam VII/Wirabuana
- Kepala Staf Divif 2/Kostrad
- Kasdam II/Sriwijaya
- Pangdif 2/Kostrad
- Kepala Staf Kostrad
- Panglima Kodam V/Brawijaya (1999)
- Pangdam Jaya (1999--2000)
- Pangkostrad (Agustus 2000--2002)
- Kepala Staf TNI Angkatan Darat (2002--2005). (*)


.jpeg)