Oleh: Ma'ruf Abidin -Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung.
Kunjungan perdana Joko Widodo (Jokowi) ke Provinsi Lampung pada akhir Juni 2026 menegaskan satu tesis politik penting: purnatugas sebagai Presiden ke-7 RI bukan berarti purnakuasa. Pemilihan Lampung sebagai destinasi pertama dalam rangkaian safari politiknya menunjukkan kalkulasi geopolitik yang matang dari "Poros Solo."
Agenda ini bukan sekadar reuni rindu seorang mantan pemimpin dengan rakyatnya, melainkan sebuah gerakan politik taktis yang dirancang untuk mengamankan jangkar politik keluarga pasca-2024.
Secara kasat mata, narasi yang dibangun di permukaan adalah pelestarian budaya, silaturahmi keagamaan di pondok pesantren, dan penguatan UMKM lokal seperti di Pringsewu.
Namun, kehadiran Jokowi di tengah-tengah Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Mesuji, Tulang Bawang, hingga Bandarlampung, menguak tabir utama dari safari ini. Jokowi sedang turun gunung untuk meminjamkan langsung sisa-sisa political capital (modal politik) miliknya demi memperkuat posisi tawar sang anak, Kaesang Pangarep, yang menakhodai PSI.
Bagi PSI, kunjungan ini adalah asupan oksigen elektoral yang sangat masif. Selama ini, PSI selalu berjuang keras meruntuhkan stigma sebagai "partai anak muda Jakarta." Dengan membawa Jokowi langsung ke basis-basis tradisional di Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Mesuji, PSI sedang melakukan penetrasi kultural ke akar rumput di luar Jawa. Langkah Kaesang yang menyelaraskan gerak partai dengan momentum kedatangan Jokowi merupakan strategi menjemput "Jokowi Effect" secara konkret, bukan lagi sekadar mengandalkan jargon visual di baliho.
Bagi para elite dan tokoh lokal di Lampung, kehadiran sang mantan presiden adalah panggung oportunis yang terlalu sayang untuk dilewati. Penghormatan dari lima kerajaan adat di Kedatun Keagungan hingga sowan ke para kiai Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung Tengah menjadi simbol konvergensi kepentingan. Tokoh-tokoh lokal ini sadar betul bahwa untuk menatap Pemilu Legislatif (Pileg) dan konstelasi politik 2029, mengaitkan diri dengan gerbong ideologis Jokowi adalah jalan pintas mendapatkan legitimasi dan investasi popularitas.
Wajah Jokowi yang mulai menghiasi baliho-baliho lokal jauh hari sebelum pemilu adalah bukti nyata bahwa daya tawar ketokohannya masih menjadi komoditas premium di daerah.
Secara ekonomi, dampak jangka pendeknya mungkin terasa pada perputaran uang di sektor UMKM dan pariwisata mikro saat kirab budaya berlangsung. Namun, dampak politik jangka panjangnya jauh lebih signifikan.
Safari Lampung ini adalah cetak biru (blueprint) bagaimana Jokowi akan mengarungi masa pensiunnya: tetap relevan, tetap memegang kendali atas jutaan relawan loyalnya, dan secara perlahan meleburkan kekuatan itu ke dalam PSI.
Pada akhirnya, opini publik akan melihat bahwa safari Lampung ini adalah penegasan bahwa transisi kekuasaan nasional tidak serta-merta mengubur pengaruh sang mantan. Selama figur lokal masih haus akan insentif elektoral dari ketokohannya, dan selama PSI masih membutuhkan figur sentral untuk lolos ke Senayan, maka selama itu pula Jokowi akan tetap menjadi "Kingmaker" yang bergerak lincah di bawah radar politik Indonesia. (***)


