-->
Cari Berita

Breaking News

Ulama, Pendidik, dan Pejuang: Kajian Psikologi Keteladanan KH Ahmad Hanafiah dalam Membangun Karakter Generasi Lampung

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 26 Juni 2026

Oleh: DR. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA  | Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.
 
DR Aguswan 

Setiap daerah memiliki tokoh yang bukan hanya dikenang karena jasa perjuangannya, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang diwariskannya kepada generasi berikutnya. Lampung memiliki sosok demikian dalam diri KH Ahmad Hanafiah, seorang ulama, pendidik, organisator, sekaligus pejuang kemerdekaan yang pada tahun 2023 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. 
Penghargaan tersebut bukan semata-mata karena beliau gugur di medan perang, tetapi karena seluruh perjalanan hidupnya menunjukkan konsistensi antara ilmu, iman, kepemimpinan, dan pengabdian kepada bangsa. 
Dalam psikologi, tokoh seperti KH Ahmad Hanafiah menarik dikaji karena memperlihatkan bagaimana lingkungan keluarga, pendidikan, spiritualitas, dan pengalaman hidup mampu membentuk pribadi yang tangguh (resilient), berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Di tengah tantangan zaman yang ditandai dengan individualisme, budaya instan, dan menurunnya keteladanan publik, sosok beliau menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Lampung, khususnya generasi muda.
 
*Fondasi Karakter Dimulai dari Keluarga

KH Ahmad Hanafiah lahir di Sukadana, Lampung Timur, pada tahun 1905 dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Muhammad Nur, menjadi guru pertama yang menanamkan nilai keagamaan sejak usia dini. Beliau telah menyelesaikan bacaan Al-Qur'an ketika berusia sekitar lima tahun. 
Masa kecil yang dipenuhi pendidikan agama menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan psikologis pertama dalam pembentukan kepribadian. 
Menurut Albert Bandura (1977) melalui “Social Learning Theory”, anak tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi terutama melalui proses observasi dan peneladanan terhadap figur yang dihormati. Ketika seorang anak tumbuh di tengah lingkungan yang memperlihatkan ketekunan beribadah, kedisiplinan belajar, dan kepedulian terhadap masyarakat, nilai-nilai tersebut akan terinternalisasi menjadi bagian dari kepribadiannya. 
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter berlangsung melalui keteladanan, bukan hanya melalui ceramah atau teori.
 
Perjalanan pendidikan KH Ahmad Hanafiah sangat panjang. Setelah belajar di sekolah pemerintah dan pesantren di Jakarta, beliau melanjutkan pendidikan ke Kelantan, Malaysia, kemudian memperdalam ilmu di Makkah hingga tahun 1936. Selama berada di Tanah Suci, beliau dipercaya menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung. 
Dalam perspektif psikologi perkembangan, pengalaman belajar lintas budaya memperluas wawasan kognitif, meningkatkan kemampuan adaptasi, dan membentuk identitas kepemimpinan. 
Jean Piaget (1952) menjelaskan bahwa perkembangan intelektual berlangsung melalui proses asimilasi dan akomodasi, yaitu kemampuan mengintegrasikan pengalaman baru ke dalam cara berpikir yang semakin matang. Perjalanan pendidikan beliau membuktikan bahwa ilmu bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan, melainkan media membangun kapasitas diri untuk melayani masyarakat. Allah SWT berfirman: "...Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
 
*Spiritualitas Melahirkan Kepemimpinan

Sepulang dari Makkah, KH Ahmad Hanafiah tidak memilih kehidupan yang nyaman, tetapi mengabdikan ilmunya melalui dakwah, pendidikan, dan organisasi. Beliau memimpin Pondok Pesantren Al-Ikhlas, aktif dalam Syarekat Dagang Islam, Partai Masyumi, serta menjadi penggagas dan panglima Laskar Hizbullah di wilayah Sukadana. 
Menurut Viktor Frankl (1963) dalam teori “Logotherapy”, manusia yang menemukan makna hidup akan memiliki daya juang yang luar biasa. Makna tersebut mampu membuat seseorang tetap bertahan menghadapi penderitaan, ancaman, bahkan kematian. 
Makna hidup KH Ahmad Hanafiah tidak berpusat pada kepentingan pribadi, melainkan pada perjuangan mempertahankan agama, bangsa, dan masyarakat. Karena itu, jabatan yang diembannya bukan menjadi tujuan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
 
KH Ahmad Hanafiah pernah memegang berbagai amanah, mulai dari Ketua Komite Nasional Indonesia Kawedanan Sukadana, Ketua Partai Masyumi tingkat Kawedanan, anggota DPRD Karesidenan Lampung, hingga pejabat pemerintahan di Karesidenan Lampung. Kepercayaan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau dibangun melalui integritas. 

Konsep ini sejalan dengan teori “Transformational Leadership: dari Bernard Bass (1985) yang menjelaskan bahwa pemimpin besar tidak sekadar memberi perintah, tetapi menginspirasi, membangun visi bersama, serta mengubah perilaku pengikut melalui keteladanan moral. 
Di tengah krisis figur publik saat ini, masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki tiga karakter utama yaitu kompetensi, integritas, dan kepedulian sosial. Ketiga karakter tersebut tampak nyata dalam perjalanan hidup KH Ahmad Hanafiah.
 
Puncak pengabdian beliau terlihat ketika turut memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada malam 17 Agustus 1947, beliau gugur dalam pertempuran di Kemerung, Baturaja, ketika berusaha merebut wilayah tersebut dari Belanda. Dalam psikologi positif, keberanian (courage) bukan berarti tidak memiliki rasa takut, tetapi kemampuan bertindak sesuai nilai yang diyakini meskipun menghadapi risiko besar. 
Christopher Peterson dan Martin Seligman (2004) memasukkan keberanian sebagai salah satu kekuatan karakter utama manusia yang menopang kehidupan bermakna. Keberanian KH Ahmad Hanafiah lahir dari keyakinan bahwa membela agama dan tanah air merupakan bagian dari ibadah. 
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Al-Mu'jam al-Awsath). Hadis ini menggambarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang terletak pada manfaat yang diberikannya kepada masyarakat.
 
*Produktivitas Intelektual Seorang Ulama

Selain sebagai pejuang, KH Ahmad Hanafiah juga meninggalkan karya ilmiah berupa kitab Hujjah dan Tafsir Ad Dohri. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui pemikiran dan pendidikan. 
Menurut Erik Erikson (1963), pada tahap kedewasaan seseorang akan mencapai fase generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Warisan tersebut dapat berupa ilmu, karya, lembaga pendidikan, maupun nilai-nilai kehidupan. Karya-karya beliau menjadi bukti bahwa seorang pejuang sejati membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan.
 
Di tengah berbagai tantangan zaman, sedikitnya terdapat lima karakter utama KH Ahmad Hanafiah yang relevan untuk ditanamkan kepada masyarakat Lampung. Pertama: Semangat belajar sepanjang hayat. Pendidikan tidak berhenti setelah memperoleh gelar, tetapi menjadi proses yang terus berlangsung selama kehidupan.
Kedua: Religiusitas yang melahirkan tindakan nyata. Keimanan diwujudkan dalam pelayanan kepada masyarakat, bukan hanya dalam ibadah personal. Ketiga: Kepemimpinan yang berintegritas. Jabatan dipahami sebagai amanah, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
Keempat: Keberanian moral. Berani membela kebenaran, sekalipun harus menghadapi risiko dan pengorbanan. Kelima: Semangat berkarya. Meninggalkan warisan ilmu dan pendidikan merupakan bentuk perjuangan yang manfaatnya melampaui usia seseorang.
 
*Perspektif Islam tentang Pengabdian

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..." (QS. At-Taubah: 111). Ayat ini menggambarkan bahwa pengorbanan di jalan kebenaran merupakan investasi spiritual yang bernilai abadi. Rasulullah SAW juga bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Sahih Muslim). Hadis tersebut sangat sesuai dengan kehidupan KH Ahmad Hanafiah yang meninggalkan ilmu, lembaga pendidikan, dan teladan perjuangan yang terus menginspirasi hingga kini.
 
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa KH Ahmad Hanafiah adalah contoh nyata bahwa kepahlawanan tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang yang dimulai dari keluarga, pendidikan, penguatan spiritual, dan pengabdian kepada masyarakat. 
Dari perspektif psikologi, beliau memperlihatkan perpaduan antara growth mindset (Carol Dweck, 2006), kepemimpinan transformasional (Bass, 1985), keberanian sebagai kekuatan karakter (Peterson & Seligman, 2004), serta kehidupan yang berorientasi pada makna (Frankl, 1963). Bagi masyarakat Lampung, sosok beliau tidak seharusnya hanya dikenang dalam buku sejarah atau nama jalan. Nilai-nilai yang diwariskannya perlu diinternalisasikan dalam pendidikan, keluarga, organisasi kepemudaan, dan kehidupan sosial. 
Generasi Lampung masa kini membutuhkan lebih dari sekadar figur yang terkenal; mereka memerlukan teladan yang membuktikan bahwa ilmu, iman, integritas, dan keberanian dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang beradab dan bermartabat. Dengan demikian, mengenang KH Ahmad Hanafiah bukan sekadar menghormati masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan Lampung yang lebih berkarakter dan berdaya saing. (***)

LIPSUS