INILAMPUNG.COM, Jakarta --Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026. Pameran internasional itu akan dilangsungkan 11-13 September 2026 di RheinMain CongressCenter (RMCC), Wiesbaden, Jerman. Ajang seni ini akan diikuti ratusan seniman dari kawasan regional Jerman, Eropa, dan negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Menurut Niluh Swati, ARTe Kunstmesse Wiesbaden merupakan perhelatan seni rupa kontemporer (Gegenwartskunst) dan karya modern klasik (Klassische Moderne) terbesar di Frankfurt, Jerman. “Ratusan seniman dan galeri-galeri terpilih akan hadir dan memamerkan karya-karya terbaik mereka di Wiesbaden. Karena itu ini perhelatan yang tak main-main, mereka semua pasti melakukan kurasi karya secara ketat,” ujar Niluh Swati, seniman Indonesia yang menetap di Frankfurt, Jerman, Senin (27/7/2026) dari Jerman.
Hal yang menarik, NSIAP menjaring para pelukis Indonesia lewat platform media sosial di bawah tajuk “Terciduk”. Niluh Swati bersama tim kurator “mengintip” akun-akun media sosial para seniman Indonesia dan memilih karya secara hati-hati.
“Setelah ‘terciduk’, saya hubungi senimannya, bukan untuk langsung diajak pameran, tetapi minta izin karyanya dikurasi dulu oleh kurator saya. Kalau lolos barulah kita bicarakan soal pengiriman karya dan pameran di Jerman,” kata Niluh Swati. Pameran ini menjadi lebih istimewa karena Niluh Swati mempersiapkannya secara independen, sejak membeli kayu sampai membuat spanram. “Tukang di Jerman mahal, jadi kerjakan saja sendiri…” ujarnya.
Niluh Swati
Kuratorial independen
Niluh Swati selanjutnya mengatakan, NSIAP merupakan platform kuratorial independen berbasis di Jerman yang hadir dengan misi memperluas akses seniman Indonesia ke panggung seni internasional. NSIAP akan terus berpartisipasi dalam pameran, art fair, pertukaran budaya, serta kolaborasi dengan galeri, institusi seni, kolektor, dan mitra budaya di Eropa.
“Kami ingin menciptakan peluang baru seniman Indonesia. Ini jalan “go international”.
Saya lihat banyak seniman kita tidak memiliki jejaring, apalagi pameran di luar negeri,” kata perempuan asal Bali itu. Dan ARTe Kuntsmesse Wiesbaden akan menjadi langkah penting dalam mempererat hubungan seni dan budaya antara Indonesia dan Eropa, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni kontemporer Indonesia kepada audiens internasional. “Indonesia tak hanya punya seni tradisi, seni kontemporer juga berkembang. Itu penting diperkenalkan,” tambah Niluh Swati.
Dalam sistem kuratorial independen itu, NSIAP bekerja sama dengan para kurator, baik di Jerman maupun di Indonesia. “Mereka yang akan memberi pertimbangan, mana karya yang layak dipamerkan. Tentu saja ukuran layak itu bisa diperdebatkan. Setidaknya kami telah memiliki tolok ukurnya sendiri,” tegasnya.
Seniman
Berdasarkan program “Terciduk”, serta kuratorial independen itu, maka para seniman Indonesia yang lolos dan akan berpartisipasi dalam ARTe Kunstmesse Wiesbaden sebagai berikut: I Wayan Mardiana, Doddy “MR D” Hernanto, Fahmi DNR, Arzethian, Putu Arcana, Prassboedhi, Agus Wicaksono, Con, Didik Hamdi, Dodi Darussalam, Achy Askwana, Epot Owl, Hary Nurdianto, Harhari Gustaf, Ifat Futuh, Juan Widhiyanto, Kusswoyo, I Made Sesangka Puja Laksana, Masadjie Noer, Rizal Ramdhani, Restu Adi, Sanher, Sapto Oetomo, Tingga, Yuni Daud, Zulfian Hariyadi, dan Niluh Swati.
“Pameran ini bukan tentang satu seniman. Ini adalah tentang menciptakan sebuah platform agar seniman Indonesia dapat dikenal; membangun koneksi yang bermakna, dan menjadi bagian dari percakapan seni internasional. Saya berharap NSIAP dapat menjadi jembatan yang terus membuka pintu bagi semakin banyak seniman Indonesia di masa depan,” kata Niluh Swati.
Sebenarnya, Indonesia memiliki salah satu ekosistem seni kontemporer paling dinamis di Asia Tenggara. Namun, banyak seniman Indonesia masih menghadapi tantangan untuk dikenal secara global, mulai dari keterbatasan jaringan profesional, jarak geografis, hingga tingginya biaya untuk mengikuti pameran di Eropa.
Seniman “terciduk”, Putu Arcana mengatakan NSIAP memberi peluang besar bagi seniman Indonesia untuk berani bertarung pada ajang internasional. “Di dalam negeri seni rupa kita sangat riuh dengan begitu banyak seniman lahir, banyak punya ajang pameran, dan galeri tumbuh di mana-mana. Sayangnya di antara itu semua, sangat sedikit yang punya kesempatan berjejaring secara internasional,” katanya.
Seniman asal Bali yang menetap di Jakarta ini menambahkan, ia tidak menyangka akan menjadi “yang terciduk” di antara banyak seniman bagus dari Indonesia. “Kuncinya cuma rajin upload karya di media sosial. Sekarang mau tidak mau, medsos jadi etalase seniman untuk memperkenalkan karya,” ujar Putu, yang juga jurnalis itu.
Niluh Swati berharap ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 akan menjadi pintu masuk bagi seniman Indonesia untuk malang-melintang dalam pergaulan seni rupa di Eropa. “Banyak ajang seni dan budaya yang bisa jadi pintu masuk. Kita tidak hanya menunggu diundang ke biennale, misalnya. NSIAP akan secara aktif menciduk para seniman Indonesia. Tunggu ya…” ujar Niluh Swati.(bd/inilampung)
