![]() |
| Kasubbag TU Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung-Bengkulu, Fitra Alfarisi (ist/inilampung) |
INILAMPUNGCOM - Kabar tidak mengenakkan Selasa petang, 28 Juli 2026, muncul dari Kasubbag TU Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung-Bengkulu, Fitra Alfarisi.
Menurut dia, dari 833 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditutup permanen operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN), 4 diantaranya berasal dari Provinsi Lampung.
"Keempat dapur MBG yang ditutup permanen oleh BGN itu semuanya berasal dari Lampung Timur," kata Fitra Alfarisi seperti dikutip dari RMollampung.id.
Dapur MBG di wilayah mana saja di Lampung Timur yang disuntik mati oleh BGN? Fitra menjelaskan, berikut datanya:
1. SPPG Braja Selebah, Braja Yekti.
2. SPPG Gunung Pelindung, Way Mili.
3. SPPG Bandar Sribhawono, Sribhawono 3.
4. SPPG Bumi Agung, Mulyo Asri.
Sementara, untuk yang tengah dalam posisi dihentikan sementara operasionalnya atau suspend, Fitra menjelaskan untuk saat ini di Provinsi Lampung jumlahnya mencapai 11 SPPG.
Mengenai tindaklanjut dari penutupan permanen 4 dapur MBG di wilayah Lampung Timur itu, Fitra mengaku pihaknya masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat.
Sebelumnya dikabarkan, langkah tegas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menutup permanen atau suntik mati terhadap 833 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) alias SPPG, sampai Selasa siang, 28 Juli 2026, belum diketahui jumlahnya oleh Ketua Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul.
"Kami sudah koordinasi dengan Regional BGN, tapi mereka juga belum menerima keputusan tentang pemberhentian permanen dapur MBG tersebut," ucap Saipul.
Ditegaskan, sampai saat ini yang ada di dalam petunjuk teknis (juknis) adalah pemberhentian sementara, belum ada ketentuan mengenai pemberhentian permanen sebagaimana disampaikan Kepala BGN.
Saipul menambahkan, saat ini ada 2 dapur SPPG yang dihentikan operasionalnya sementara, yaitu di Tanggamus dan Pesawaran. Keduanya terkait dugaan MBG yang dibagikan menjadi penyebab keracunan.
Yaitu terhadap belasan siswa SMPN I Talang Padang, Tanggamus, dan 32 siswa SDN 22 Tegineneng, Pesawaran, pada pekan lalu.
Menurut Saipul, saat ini sampel makanan yang diduga penyebab keracunan tengah dalam uji laboratorium kesehatan. Untuk memastikannya diperlukan waktu setidaknya selama sebulan.
Sebagaimana diketahui, pada Senin siang kemarin, 27 Juli 2026, Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan bahwa pihaknya telah menutup permanen 833 dapur MBG.
Secara rinci Sudaryono mengungkapkan, dapur yang disuntik mati itu terdiri dari: 98 dapur di wilayah I Sumatera, 311 dapur di wilayah II Jawa dan Madura, dan wilayah III sebanyak 424 dapur.
Dikatakan bahwa dapur MBG yang ditutup permanen tersebut tidak akan dibayar oleh pemerintah.
“Dapur yang disuspend secara permanen ini bukan kayak yang lalu, misalnya dulu kan disuspend tapi tetap dibayar. Kalau ini sudah suspend, ya tutup, nggak dibayar. Ini betul-betul adalah suspend karena pelanggaran,” terang Sudaryono.
Persoalan Higienis
Ada beberapa alasan yang menyebabkan dapur-dapur tersebut ditutup. Sudaryono menekankan alasan utamanya adalah persoalan higienis.
“Jadi dapur di suspend terkait higienis, keracunan, kualitas tidak memenuhi standar dan tidak baik,” tegasnya.
Di sisi lain, Sudaryono tetap memastikan penerima manfaat dari dapur yang ditutup permanen tersebut akan tetap mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur-dapur SPPG di sekitar.
“Jadi intinya semua menunya tersaji dengan baik, dimakan dengan baik, dan perputaran ekonomi jalan. Jadi kita ingin everybody happy-lah. Kita pastikan, usahakan (penerima manfaat dari dapur yang ditutup) bisa dicover,” ungkapnya. (zal/inilampung)

