-->
Cari Berita

Breaking News

Abdul Rivai Ras: Kinerja PTPN I Harus Bisa Dieksekusi dan Terukur

Dibaca : 0
 
Jumat, 24 Juli 2026

 Dirut PTPN I Abdul Rivai Ras memimpin Commander’s Call yang diikuti seluruh jajaran PTPN I di Jakarta. Foto: Ist.

INILAMPUNGCOM – Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras menegaskan seluruh program perusahaan harus dapat dieksekusi dan memiliki indikator kinerja yang terukur. Penegasan itu menjadi arahan utama dalam 100 hari pertama kepemimpinannya setelah dilantik pada 29 Juni 2026.


Arahan tersebut disampaikan Abdul Rivai Ras saat memimpin Commander’s Call yang diikuti seluruh jajaran PTPN I di Jakarta, Selasa (22/7/2026).


"Saya instruksikan kepada seluruh elemen, baik di jajaran manajemen maupun lini lapangan, untuk mengecek kembali semua perencanaan program kerja dan proyeksi korporasi. Semua harus komprehensif, simultan, executable, dan terukur," katanya.


Lima pilar utama transformasi kinerja di PTPN I disampaikan Rivai pada forum internal itu. Yakni, tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG); peningkatan produktivitas, penguatan manajemen risiko; digitalisasi manajemen; optimalisasi aset; dan penguatan sinergi kelembagaan dengan penyelerasan budaya kerja. Dalam konteks ini, ia mengingatkan agar seluruh agenda yang direncanakan dijalankan dengan konkret, bukan sekadar seremonial sehingga hasilnya terukur.


"Saya harus memastikan seluruh program memiliki indikator kinerja yang jelas dan dapat dieksekusi. Jangan hanya menjadi wacana. Setiap langkah harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja Perusahaan. Jangan hanya diatas kertas atau hanya administratif," kata Dirut bergelar Doktor yang juga sebagai dosen program studi Kajian Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia ini.


Lebih teknis Rivai menyebut salah satu agenda prioritas adalah melakukan verifikasi terhadap seluruh aset strategis maupun aset yang belum produktif (idle assets). Hal ini dinilai sangat penting  sebagai dasar penyusunan program optimalisasi aset perusahaan. Sebab, kata dia, setiap aset harus memberikan nilai tambah bagi Perusahaan.


"Bagi korporasi, aset bukanlah perhiasan. Aset adalah kekayaan potensi yang memberi nilai tambah, harus menjadi profit centre. Bukan untuk dibangga-banggakan di depan publik. Kita harus mengetahui aset mana yang sudah produktif, mana yang belum optimal, dan bagaimana strategi terbaik agar seluruh aset dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan," kata dia.


Selain optimalisasi aset, Abdul Rivai Ras juga menginstruksikan percepatan evaluasi operasional melalui kunjungan langsung ke unit-unit kerja. Ia menyatakan akan melakukan verifikasi terhadap pencapaian key performance indicator (KPI) setiap unit bisnis sesuai dengan fakta di lapangan.


“Evaluasi harus cepat, objektif, dan profesional. Kinerja harus diukur dengan indikator yang jelas sehingga setiap unit mengetahui target yang harus dicapai dan bertanggung jawab terhadap hasilnya," katanya.


Pada aspek tata kelola, Abdul Rivai Ras meminta seluruh temuan audit, pengawasan internal, serta identifikasi risiko perusahaan tidak berhenti pada proses pelaporan. Setiap indikasi bias, kata dia, harus ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan yang konkret.


"Setiap temuan harus melahirkan aksi. Tata kelola yang baik bukan hanya menghasilkan laporan, tetapi memastikan seluruh rekomendasi dijalankan untuk memperkuat perusahaan," tegasnya.


Commander’s Call dan Weekly Management Review

Di bidang sumber daya manusia, Abdul Rivai Ras menekankan pentingnya membangun komunikasi yang lebih intensif antara manajemen dan karyawan. Salah satunya melalui penyelenggaraan Commander's Call dan Weekly Management Review secara berkala sebagai sarana penyelarasan visi, budaya kerja, serta arah transformasi perusahaan.


"Kita harus memiliki satu visi, satu tim, satu tujuan, dan satu standar kinerja. Komunikasi menjadi kunci agar seluruh insan PTPN I bergerak dalam arah yang sama," ujarnya.


Lebih lanjut, Abdul Rivai Ras mengingatkan bahwa transformasi perusahaan tidak hanya membutuhkan kemampuan manajerial, tetapi juga kepemimpinan yang adaptif terhadap dinamika global.


Menurutnya, insan PTPN I harus memahami perkembangan geopolitik, perubahan iklim, kebijakan publik, hingga tren pertanian modern sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan strategis.


"Kita tidak boleh hanya menjadi hebat di internal perusahaan. Kita harus memahami perkembangan dunia, perubahan iklim, tuntutan pasar global, hingga arah kebijakan pemerintah. Semua itu akan memengaruhi keberlanjutan bisnis perusahaan," katanya.


Ia menilai transformasi teknologi, penerapan pertanian modern, serta penguatan strategi bisnis harus berjalan seiring agar PTPN I mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global.


Selain itu, Abdul Rivai Ras juga mengingatkan seluruh jajaran perusahaan agar mampu membangun komunikasi yang konstruktif dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, legislatif, masyarakat, dan petani, tanpa terlibat dalam kepentingan politik praktis.


Menurutnya, sebagai perusahaan milik negara, PTPN I harus tetap menjaga profesionalisme sekaligus mampu mengedukasi masyarakat mengenai berbagai kebijakan dan program perusahaan.


"PTPN I harus menjadi perusahaan yang profesional, adaptif, dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan. Kita harus mampu melakukan mitigasi terhadap berbagai potensi risiko sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar," ujarnya.


Menutup arahannya, Abdul Rivai Ras mengajak seluruh insan PTPN I menjadikan transformasi sebagai gerakan bersama untuk membangun perusahaan yang semakin sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.


"Transformasi tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh pimpinan. Seluruh insan PTPN I harus bergerak bersama, bekerja dengan integritas, disiplin, dan semangat menghasilkan kinerja terbaik demi masa depan perusahaan," pungkasnya. (mfn/rls)

LIPSUS