![]() |
| BKKBN meluncurkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia dan GAMAS (ist/inilampung) |
Oleh, Gunawan Handoko -Anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung
BULAN lalu, tepatnya 29 Juni 2026, kita memperingati Hari Keluarga Nasional tahun 2026 dengan tema yang menohok: “Ayah Wajib Hadir”. Tema ini bukan tanpa alasan. Kini diterjemahkan ke aksi nyata. BKKBN meluncurkan program “Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), program nasional untuk melawan fenomena fatherless, yakni kurangnya keterlibatan emosional dan fisik ayah. Didalamnya ada implementasi nyata berupa program “Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” yang disingkat GAMAS. Tujuannya sederhana tapi berat: mendorong ayah terlibat aktif dalam pengasuhan anak, bukan cuma urusan ibu.
Program tersebut langsung direspon Pemerintah Provinsi Lampung dengan menerjemahkan satu pesan penting: negara hadir untuk mendukung keluarga. Melalui surat edaran resmi, Pemprov Lampung memberi fleksibilitas kerja bagi ASN. Pemerintah Kabupaten/Kota juga rame-rame mengikuti langkah Pemprov Lampung dengan memberikan dispensasi bagi ASN yang berperan sebagai ayah untuk mengantar anak ke sekolah.
Gerakan ini sederhana, tapi maknanya sangat dalam. Mengingatkan kita bahwa kehadiran ayah di momen-momen penting anak tidak bisa digantikan. Siapapun kita, ketika si kecil mulai bersekolah, tentu ingin melihat langsung ke sekolah. Menyaksikan sikap anak ketika dipanggil guru untuk berbaris bersama anak yang lain, ketika anak digiring masuk ke ruang kelas tanpa didampingi ayah atau ibunya.
Meski sudah diminta untuk menjauh, banyak orang tua yang masih saja nekad untuk mengintip anaknya dari balik jendela kelas. Sesekali mengambil foto anak dengan mencuri-curi kesempatan agar tidak ketahuan guru.
Hadirnya program GATI dan GAMAS ini menjadi kabar menggembirakan bagi kita semua. Didalamnya terkandung empat pilar: interaksi dan aksesibilitas, tanggung jawab, keteladanan, dan perlindungan. Ayah harus ada secara fisik dan batin, memastikan hak anak terpenuhi. Ayah juga memberi keteladanan agar menjadi panutan dalam pembentukan karakter. Dan yang tidak kalah penting, ayah menjadi tempat aman bagi anak.
Sasarannya luas, dari calon ayah remaja, sampai ayah yang anaknya sudah remaja. Pesannya satu: bahwa pengasuhan bukan cuma monopoli dan tanggung jawab ibu. Nah, kehadiran ayah di pilar pertama GATI ini yang sering kita lupakan, yakni interaksi dan aksesibilitas. Tidak cukup hanya menyapa anak tiap malam. Padahal ada satu hal penting yang hampir punah: Mendongeng sebelum tidur.
Dulu, suara ayah adalah lagu nina bobo yang paling menenangkan. Cerita tentang si kancil, tentang kisah para nabi, tentang asal-usul Danau Ranau, dan banyak kisah lain yang selalu ditunggu anak sebelum tidur, atau usai salat subuh. Disanalah nilai, imajinasi dan ikatan batin dibangun.
Sekarang, peran itu diambil alih layar HP. Kita bangga ketika melihat anak masuk kamar dan tidur cepat. Padahal, ia tertidur bersama algoritma, bukan bersama suara ayahnya. Efek 10 menit mendongeng itu sesuai dengan pilar GATI.
Mendongeng telah melatih interaksi, menanamkan keteladanan tanpa ceramah. Dan yang paling penting, ia membangun aksesibilitas emosional. Di momen ini anak merasa bahwa ayah hadir untuk mereka.
Maka program “Ayah wajib hadir” berarti hadir secara utuh. Hadir sesuai semangat GATI, hadir saat mengantar sekolah, hadir saat makan malam, dan hadir saat menutup hari dengan mendongeng atau bercerita.
Ayah tidak dituntut untuk menjadi pendongeng hebat. Cukup matikan HP selama 15 menit, duduk di pinggir ranjang anak dan mulai dengan: “Dahulu kala……” Karena 20 tahun lagi anak kita mungkin lupa apa yang pernah kita belikan. Tapi mereka tidak akan lupa dengan suara siapa yang didengar sebelum tidur. Dipastikan jawabnya adalah “suara ayah”.
Perlu disadari bahwa anak usia dini itu peniru ulung, meniru apa saja yang dilihat, dirasakan dan didengar. Pada usia dini, orang tua harus mengoptimalkan pendidikan anak, salah satunya melalui bercerita atau mendongeng. Maka orang tua harus memiliki kemampuan untuk bercerita, untuk selanjutnya diaplikasikan secara nyata untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter.
Anak nantinya akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian dan akhlak yang baik dan terpuji. Bagi anak, cerita itu lebih berkesan daripada nasihat. Cerita dapat terekam jauh lebih kuat daripada memori manusia. Cerita-cerita yang di dengar anak saat kecil masih bisa diingat secara utuh hingga berpuluh tahun kemudian.
Bahkan anak usia balita yang belum nalar dan belum bisa membaca perlu di suguhi dongengan. Karena mendongeng bukan hanya tentang membunyikan aksara atau bagaimana belajar membaca. Ketika kita mendongeng untuk bayi dengan sebuah buku bergambar misalnya, maka ia sedang belajar sesuatu yang menarik dan menyenangkan setiap kali kita membuka lembaran-lembaran bergambar dari benda yang bernama buku.
Jadi, efek dari cerita inilah yang harus diberikan orang tua kepada anak sebagai metode mendidik karakter anak. Tokoh dalam cerita dapat menjadi contoh atau teladan bagi anak. Tanpa disadari, si anak telah menyerap beberapa sifat positif seperti kejujuran, keberanian, kerja keras, saling mencintai sesama manusia maupun makhluk yang lain. Anak juga mulai bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Pola pengasuhan anak melalui metode bercerita juga dapat mendekatkan anak dalam mengapresiasi budaya literasi sejak dini. Hal yang lebih penting lagi, dengan bercerita dapat mencegah anak dari kecanduan gawai. Kita dapat memanfaatkan gawai atau gadget sebagai media dalam bercerita. Bagi anak-anak, cerita tidak sekedar memberi manfaat emotif tetapi juga membantu pertumbuhan mereka dalam berbagai aspek. Oleh karenanya, bercerita merupakan aktivitas penting dan tidak terpisahkan dalam program pendidikan untuk anak. Mendongeng atau bercerita akan membantu pembentukan pribadi dan moral anak, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, merangsang minat membaca dan menulis anak. Bukan itu saja, mendongeng dapat membuka cakrawala pengetahuan dan memperluas wawasan dan cara berpikir anak. Ibu sudah capek mendongeng ke anak sepanjang hari lewat masakan, nyuapin, nasihat, dan pelukannya. Sekarang giliran ayah meluangkan waktu 15 menit saja untuk mendongeng. Jangan sampai anak kita lebih hafal suara You Tube daripada suara ayahnya sendiri.
Salam Literasi!!! (***)

.jpeg)