Oleh : Abdul Madjid Lintang | Jurnalis Senior
INILAMPUNGCOM --- Pada tahun 1967-1987, denyut kehidupan ekonomi rakyat terasa kuat di jantung Kota Tanjung Karang, Bandar Lampung. Di kawasan ini terdapat tiga pasar rakyat utama yang menjadi pusat aktivitas perdagangan dan pertemuan warga, yakni Pasar Bawah, Pasar Tengah, dan Pasar Bambu Kuning.
Pasar rakyat yang pertama berkembang adalah Pasar Bawah. Di sinilah para pedagang berkumpul menjajakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Sembilan bahan pokok, sayur-mayur, buah-buahan, obat-obatan pertanian, hingga alat-alat pertanian tersedia di pasar ini. Pedagang ikan asin, terasi udang, serta ikan segar yang didatangkan dari Tulang Bawang dan Menggala turut meramaikan suasana. Sementara itu, komoditas kol banyak dipasok dari daerah Gisting.
Bangunan kios di Pasar Bawah masih sederhana. Sebagian besar terbuat dari papan kayu dengan atap seng. Penutup kios menggunakan papan lipat yang dikunci dengan baut, karena pada masa itu belum dikenal pintu besi bergulung (rolling door). Para pedagangnya mayoritas berasal dari Lampung, khususnya dari Menggala dan Tulang Bawang.
Di sekitar kawasan ini juga terdapat sejumlah tokoh dan tempat yang dikenal masyarakat, antara lain orang tua dari Wali Kota Herman HN, serta sosok yang akrab disapa Pak Leman Beras (almarhum) yang tinggal di Jalan Hanoman. Selain itu, terdapat bioskop sederhana, Rumah Makan Padang “Setia”, serta Terminal Bus Kadjora dengan trayek menuju Labuhan Maringgai dan kawasan perkebunan karet seperti PTP Daton 7 Way Galih.
Beranjak ke Pasar Tengah, suasananya lebih ramai dan terorganisasi. Di sini berdiri ruko-ruko satu lantai milik para toke yang memperdagangkan rempah-rempah seperti kopi, lada hitam, kayu manis, dan pinang. Terdapat pula Pabrik Roti Abdul Majid yang cukup dikenal. Di lorong Jalan Pemuda, para ibu berkerudung menjajakan lemang bakar dan tapai ketan hitam.
Beberapa tempat penting juga berada di kawasan Pasar Tengah, seperti Rumah Makan Padang “Fajar” di lantai dua, pedagang koran dan majalah Kartini, kantor Pertamina, kantor pos, serta gereja tua Katolik katedral. Selain itu, terdapat pula bangunan peninggalan Belanda yang dikenal sebagai Gedung Dasaad, yang kemudian difungsikan sebagai museum.
Di depan Masjid Taqwa, yang saat itu masih berupa bangunan satu lantai dengan atap genteng dan menara yang belum terlalu tinggi, aktivitas warga berlangsung cukup padat. Masjid ini sendiri telah mengalami berbagai renovasi hingga kini.
Sementara itu, Pasar Bambu Kuning memiliki karakter yang hampir serupa dengan Pasar Bawah. Para pedagang umumnya berjualan secara terbuka, menggelar dagangan di bawah tenda terpal yang ditopang kayu dan papan. Di sekitar kawasan ini masih banyak dijumpai rumpun bambu, yang menjadi asal-usul nama pasar tersebut. Bahkan, dahulu terdapat satu rumpun bambu kuning besar di tepi Jalan Imam Bonjol.
Di kawasan ini juga terdapat Gereja Tua Marturia, markas Kodim TNI, serta kantor Polisi Militer Angkatan Darat (PM). Sebelum berdirinya kantor Telkom, area tersebut masih berupa lahan berpagar beton. Di sekitarnya terdapat pangkalan becak dan delman, serta kendaraan mobil Chevrolet “Lampoeng” yang menjadi sarana transportasi masa itu.
Tak jauh dari sana, berdiri pula Penjara Lebak Budi dan Losmen Cilamaya, yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan kota pada masa itu.
Ketiga pasar rakyat ini bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan juga ruang sosial tempat warga bertemu, bertukar kabar, dan membangun kehidupan bersama. Di sanalah denyut nadi Tanjung Karang berdegup—sederhana, namun penuh makna.(𝗠𝗮𝗷𝗶𝗱 𝗟𝗶𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴)

