(Ayah Cukup Hadir di Hari Pertama Sekolah)
Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat.
Riset Michael Lamb 2010 menyebut keterlibatan ayah dapat menurunkan risiko kenakalan remaja hingga 43%. Prinsip itu yang dihidupkan lewat GAMAS: Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, 13 Juli 2026.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 104 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) pada 30 Juni 2026.
Di sisi lain, PWNU Lampung mengajak para ayah meneladani Rasulullah: cukup 15 menit hadir di gerbang sekolah, dampaknya seumur hidup.
Tahun ajaran 2026/2027 dimulai Senin, 13 Juli 2026. Hari pertama sekolah selalu jadi momen sakral. Tahun ini beberapa pemerintah daerah mengeluarkan imbauan GAMAS: Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Gerakan ini sederhana, tapi menyatukan empat hal sekaligus: kebijakan publik, teladan Rasulullah, ilmu psikologi sosial, dan wajah baru maskulinitas yang peduli.
Rasulullah Teladan Pertama
Jauh sebelum ada Surat Edaran, Rasulullah SAW sudah mempraktikkan inti dari GAMAS.
1. Nabi Menggendong Hasan dan Husain. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah sering keluar rumah sambil menggendong Hasan di satu pundak dan Husain di pundak lain. Bahkan saat sujud, beliau biarkan cucunya naik ke punggung. Di sini kita belajar: ayah tidak cukup jadi pencari nafkah, tapi juga tempat anak bersandar.
2. Nabi Mengantar Fatimah Menikah. Saat Fatimah dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah sendiri yang mengantar putrinya ke rumah suaminya. Ini bentuk “mengantar” di fase penting kehidupan anak.
3. Luqman Al-Hakim Mendidik Anak Langsung. Al-Qur’an mengabadikan dalam QS. Luqman: 13-19. Luqman menasihati anaknya dengan panggilan “Ya Bunayya”, wahai anakku sayang. Mengantar anak di hari pertama bisa menjadi momen “Ya Bunayya” versi kita.
4. Umar bin Khattab Memanggul Gandum. Umar adalah khalifah, tapi ia turun sendiri memanggul gandum untuk ibu yang kelaparan. Artinya: jabatan tinggi tidak menghalangi seorang ayah untuk turun tangan.
Mengapa 15 Menit Ayah Begitu Berarti
Psikologi sosial menjelaskan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh figur lekat, norma sosial, dan momen simbolik. GAMAS menyentuh ketiganya.
1. Teori Kelekatan John Bowlby. Anak yang punya figur lekat aman dengan ayah di hari pertama sekolah, kadar kortisol atau hormon stresnya lebih rendah. Ia lebih cepat adaptasi dan lebih berani eksplorasi kelas.
2. Peran Model Albert Bandura. Anak belajar lewat meniru. Saat anak melihat ayahnya datang ke sekolah, hormat pada guru, dan bangga pada pendidikan, maka tertanam skema: “Sekolah itu penting. Bapakku saja datang.”
3. Efek Pygmalion. Ekspektasi orang tua membentuk realitas anak. Ayah yang meluangkan waktu khusus di hari pertama mengirim sinyal kuat: “Bapak percaya kamu bisa berhasil.”
4. Mengubah Norma Sosial. Selama ini norma kita: “Urusan anak urusan ibu”. GAMAS memutus rantai norma itu. Ketika satu kantor melihat 20 ayah izin antar anak, maka norma baru tercipta: “Ayah hebat itu ayah yang hadir”.
GAMAS Wujud Man Care
GAMAS adalah wujud nyata dari man care atau caring masculinity. Lawannya adalah toxic masculinity yang mengajarkan: “Laki-laki tidak boleh repot urus anak, gengsi”.
1. Man care adalah maskulinitas yang hadir, hanun, hamil, dan hakim. Hadir fisik dan emosi, penuh kasih, mau memanggul beban domestik, dan memimpin dengan adil. Rasulullah menjahit sandal sendiri, Ali menggiling gandum, Umar memasak untuk rakyat. Itu semua man care sejak 14 abad lalu.
2. Dari Breadwinner ke Caregiver. Riset Michael Lamb 2010: anak dengan ayah yang terlibat punya IQ lebih tinggi, emosi lebih stabil, dan risiko kenakalan remaja turun 43%. GAMAS adalah pintu masuk involved fatherhood. Ia menggeser peran ayah dari sekadar breadwinner menjadi caregiver.
3. Efek Domino ke Budaya Kantor. Saat ayah-ayah ASN Tangerang kompak antar anak, muncul norma baru di birokrasi: “Atasan saja mengantar anak, masa kita gengsi?”. Ini menekan budaya toxic masculinityyang diam-diam melarang laki-laki cuti untuk keluarga.
GAMAS adalah policy nudge untuk menggeser maskulinitas dari power over menjadi power to care.
Ikhtiar Kecil Berdampak Besar
Hadir di gerbang sekolah adalah ikhtiar kecil berdampak besar. Ia bukan soal izin 1 jam. Ia soal mengubah definisi “laki-laki” di kepala kita.
Pada 13 Juli 2026 mari kita ubah gerbang sekolah menjadi majelis ilmu. Ada ayah yang mengantar, ada guru yang menyambut, ada anak yang hatinya penuh. Itulah man care: peduli, hadir, dan meneladani Rasulullah.
Karena keadilan pengasuhan yang ditunda adalah keadilan yang ditolak. Justice delayed is justice denied. Wallahu A’lam bish Shawab. (***)

