-->
Cari Berita

Breaking News

Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) Perspektif Psikologi Terapan

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Sabtu, 11 Juli 2026

  

GAMAS

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

 

Hari pertama sekolah merupakan salah satu “transisi psikologis” yang penting dalam kehidupan anak. Memasuki lingkungan baru, bertemu guru dan teman yang belum dikenal, serta berpisah sementara dari keluarga sering kali memunculkan kecemasan (school anxiety). 


Dalam kondisi demikian, kehadiran orang tua terutama ayah memiliki makna psikologis yang sangat besar. Karena itu, pemerintah melalui “Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS)” berupaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan sejak hari pertama sekolah. 


Gerakan ini lahir sebagai respons terhadap meningkatnya fenomena “fatherless”, yaitu kondisi ketika seorang anak kehilangan peran ayah, baik karena meninggal dunia, perceraian, pekerjaan yang jauh, maupun karena ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional.


Fenomena fatherless bukan sekadar persoalan struktur keluarga, tetapi juga persoalan psikologis. Lamb (2010) menjelaskan bahwa keterlibatan ayah tidak hanya diukur dari lamanya waktu bersama anak, tetapi juga kualitas interaksi, kehangatan emosional, dukungan, serta komunikasi yang dibangun. 


Sementara itu, Bowlby (1969) melalui “Attachment Theory” menjelaskan bahwa kelekatan yang aman (secure attachment) dengan figur pengasuh akan membentuk rasa aman, keberanian mengeksplorasi lingkungan, dan kemampuan mengelola emosi. 


Namun demikian, sebagaimana kebijakan publik lainnya, GAMAS memunculkan diskusi. Di satu sisi, gerakan ini membawa pesan positif mengenai pentingnya peran ayah. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa implementasi yang terlalu kaku justru dapat melukai anak-anak yatim, korban perceraian, keluarga single parent, maupun anak yang ayahnya bekerja jauh dari rumah

 

Kehadiran Ayah: Vitamin Psikologis bagi Anak


Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa figur ayah memberikan kontribusi yang berbeda namun saling melengkapi dengan ibu. Menurut Michael Lamb (2010), keterlibatan ayah memiliki tiga dimensi utama yaitu: Engagement, yaitu keterlibatan langsung dalam aktivitas bersama anak, Accessibility, yaitu kesiapsediaan hadir ketika anak membutuhkan, dan Responsibility, yaitu tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak. 


Ketiga dimensi tersebut menghasilkan berbagai manfaat psikologis yaitu: Menurunkan kecemasan. Hari pertama sekolah sering menjadi pengalaman penuh ketidakpastian. Kehadiran ayah meningkatkan rasa aman sehingga hormon stres lebih mudah dikendalikan, meningkatkan self-confidence. 


Bandura (1997) menjelaskan bahwa dukungan sosial dari figur signifikan meningkatkan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi tantangan, membangun motivasi belajar. Eccles dan Harold (1996) menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pendidikan berkorelasi positif dengan prestasi akademik dan motivasi belajar anak, dan menguatkan identitas diri. 


Menurut Erikson (1968), anak usia sekolah sedang membangun rasa kompeten (industry versus inferiority). Dukungan ayah memperkuat keyakinan bahwa dirinya mampu berkembang. Karena itu, mengantar anak ke sekolah sebenarnya bukan sekadar perjalanan beberapa menit, tetapi investasi psikologis yang dampaknya dapat bertahan bertahun-tahun.

 

Ketika Kebijakan Menjadi Luka: Psikologi Anak yang Tidak Memiliki Ayah


Di sinilah kebijakan publik memerlukan sensitivitas psikologis. Tidak semua anak memiliki kesempatan didampingi ayah. Ada anak yang ayahnya telah meninggal dunia, menjadi yatim sejak kecil, hidup bersama ibu tunggal, orang tuanya bercerai, ayah bekerja di luar kota atau luar negeri, ayah sedang bertugas sebagai TNI, Polri, tenaga kesehatan, pelaut, pekerja migran, atau profesi lain yang tidak memungkinkan hadir.


Jika sekolah secara tidak sadar menjadikan kehadiran ayah sebagai "standar ideal", maka sebagian anak justru dapat mengalami beberapa problematika.

 

Pertama: Social Comparison. Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika seluruh teman datang bersama ayah sementara dirinya tidak, anak bisa merasa berbeda, kurang berharga, malu, iri, sedih.


Kedua: Stigma psikologis. Menurut Goffman (1963), seseorang dapat merasa memiliki identitas yang "cacat" karena kondisi keluarga yang sebenarnya berada di luar kendalinya Ketiga: Reaktivasi kehilangan. Worden (2009) menjelaskan bahwa anak yatim dapat kembali mengalami proses berduka (grief reaction) ketika menghadapi situasi yang mengingatkan pada sosok ayah. Hari pertama sekolah dapat menjadi pemicu munculnya kembali rasa kehilangan tersebut.


Keempat: Risiko rendahnya harga diri. Rosenberg (1965) menyatakan bahwa pengalaman merasa "berbeda" secara terus-menerus dapat menurunkan self-esteem. Padahal, anak sama sekali tidak bersalah atas kondisi keluarganya. Karena itu, kebijakan yang baik tidak boleh membuat anak merasa dihukum oleh keadaan hidupnya.

 

Psikologi Solutif: Bagaimana GAMAS Dapat Menjadi Gerakan yang Inklusif?


Esensi GAMAS bukanlah menghadirkan semua ayah secara fisik, melainkan memastikan setiap anak merasakan dukungan emosional dari keluarga dan sekolah. Oleh sebab itu, implementasinya perlu lebih inklusif. 


Pertama: Ubah makna dari "Ayah Mengantar" menjadi "Figur Pengasuh yang Mendampingi". Bagi anak yatim, yang mengantar dapat berupa ibu, kakek, paman, kakak, wali, keluarga pengasuh. Yang dibutuhkan anak adalah rasa aman, bukan sekadar sosok biologis.


Kedua: Bagi ayah yang bekerja jauh. Ayah tetap dapat hadir secara emosional melalui panggilan video, pesan suara, surat sederhana, doa sebelum berangkat sekolah. Lamb (2010) menegaskan bahwa kualitas hubungan sering kali lebih penting daripada kuantitas pertemuan.


Ketiga: Sekolah perlu menghindari aktivitas yang berpotensi mengekspos kondisi keluarga.


Misalnya, menghindari pengumuman seperti: "Semua yang tidak diantar ayah silakan berdiri." Kalimat seperti ini mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa, tetapi dapat menjadi pengalaman yang membekas bagi anak. 


Keempat: Guru perlu menjadi figur kelekatan tambahan. Pianta (1999) menjelaskan bahwa hubungan guru dan murid yang hangat mampu menjadi protective factor bagi anak-anak yang berasal dari keluarga rentan. 


Guru dapat menyambut setiap anak dengan perlakuan yang setara sehingga tidak ada yang merasa berbeda, dan Kelima: Pemerintah perlu mengedepankan pendekatan persuasif. Gerakan ini lebih tepat dipahami sebagai ajakan budaya pengasuhan daripada kewajiban administratif. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran, bukan menciptakan beban atau rasa bersalah.


Islam sendiri memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Allah SWT berfirman: "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang." (QS. Ad-Dhuha [93]: 9). Ayat ini mengandung pesan agar masyarakat menjaga perasaan, martabat, dan hak-hak anak yatim, termasuk dalam kebijakan pendidikan. Rasulullah SAW juga bersabda: "Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. (HR. Bukhari). Hadis tersebut menegaskan bahwa Islam mendorong masyarakat menjadi sistem pendukung bagi anak-anak yang kehilangan ayah.


Akhirnya penting untuk dipahami bahwa GAMAS merupakan langkah strategis untuk mengatasi fenomena fatherless dan mengembalikan keterlibatan ayah dalam pendidikan. Dari perspektif psikologi, kehadiran ayah memang memberikan rasa aman, meningkatkan motivasi belajar, memperkuat kelekatan emosional, serta membantu pembentukan karakter anak. 


Namun, keberhasilan sebuah gerakan tidak hanya diukur dari banyaknya ayah yang hadir, tetapi juga dari kemampuan kebijakan tersebut merangkul seluruh anak tanpa diskriminasi. Anak yatim, anak dari keluarga bercerai, anak yang diasuh ibu tunggal, maupun anak yang ayahnya bertugas jauh dari rumah tetap memiliki hak yang sama untuk merasakan penghargaan, keamanan, dan kasih sayang. Karena itu, GAMAS sebaiknya dipahami sebagai Gerakan Menghadirkan Kasih Sayang dalam pendidikan, bukan semata-mata gerakan menghadirkan ayah secara fisik. 


Ketika ayah dapat hadir, jadikan kehadirannya sebagai hadiah bagi tumbuh kembang anak. Ketika ayah tidak dapat hadir karena alasan yang tidak dapat dihindari, masyarakat, sekolah, dan negara hendaknya menjadi jejaring pengasuhan yang penuh empati. Pendidikan yang sehat bukan hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga anak-anak yang merasa dicintai, dihargai, dan diterima apa adanya. 


Di situlah psikologi terapan mengingatkan bahwa kebijakan terbaik adalah kebijakan yang bukan hanya efektif bagi mayoritas, tetapi juga memberi ruang aman bagi mereka yang paling rentan. (***)

LIPSUS