-->
Cari Berita

Breaking News

Jantung yang Pamit, Cinta Tidak Pensiun

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Kamis, 23 Juli 2026

Oleh: Junaidi Jamsari | Penulis Tinggal di Lampung Barat


Potret Seorang Ibu Penjaga Lumbung Gizi yang Memilih Mundur untuk Berobat


RABU pagi, 22 Juli 2026. Di beranda Facebook-nya, seorang ibu mengetik pelan. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada surat berkop tebal. Hanya beberapa kalimat yang diakhiri dengan kata: "pamit".  

"Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di LN untuk jantung saya, rencananya hari ini..."  

Ibu itu Nanik Sudaryati Deyang. Jabatan terakhirnya: Kepala Badan Gizi Nasional. Lumbung yang ia jaga: piring makan jutaan anak Indonesia lewat program Makan Bergizi Gratis.  

Hari itu juga, ia berangkat. Meninggalkan Istana, meninggalkan rapat, meninggalkan tumpukan laporan MBG yang sedang gaduh di luar sana.  

1. Lumbung yang Dijaga dengan Jantung  

BGN bukan kantor biasa. Ia lumbung. Di dalamnya ada beras, telur, susu, dan harapan. Menjaganya tidak cukup dengan tanda tangan. Butuh jantung yang kuat.  

Orang dekatnya bercerita, Bu Nanik sering pulang larut. Membuka data stunting, menelepon kepala daerah, memastikan dapur umum MBG tidak telat masak. 

"Beliau ibu-ibu, tapi muternya kayak menteri lapangan," kata satu staf.  

Sampai suatu hari, jantungnya protes. Dokter bilang: harus segera ditangani di luar negeri.  
Di titik itu, ada dua pilihan: bertahan di kursi dengan jantung yang lemah, atau mundur dari kursi demi menguatkan jantung. Bu Nanik memilih yang kedua.  

2. Mundur yang Tidak Menghadap ke Belakang 

Nanik S.Deyang


Yang menarik, ia langsung pamit ke Presiden Prabowo. Dan jawaban Presiden: "Silakan berobat. Tapi tetap ikut awasi BGN."  

Artinya, ini bukan "mundur" yang melepaskan. Ini "mundur" yang melangkah ke samping. Dari Kepala menjadi Pengawas. Dari yang memanggul, menjadi yang menunjuk arah.  

"Saya diminta tetap ikut mengawasi BGN," tulisnya.  

Di dunia politik, mundur sering dibaca sebagai kalah. Tapi di dunia pengabdian, mundur karena udzur adalah bentuk ketaatan. Rasulullah SAW bersabda: "Berobatlah, wahai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya." (HR. Ahmad).

Ibu Nanik sedang menjalankan hadits itu. Jasmaninya berobat, tapi rohaninya tetap bertugas.  

3. MBG, Gaduh, dan Doa dari Ruang Rawat  

Program MBG memang belum selesai. Ada yang memuji, ada yang mengkritik. Ada piring yang sudah sampai, ada dapur yang masih tersendat.  

Tapi Rabu pagi itu, semua debat seperti berhenti sejenak. Karena satu kabar: penjaganya sakit.  

Seorang ibu di Nusa Tenggara Timur yang anaknya dapat MBG berkomentar di Facebook Bu Nanik: "Cepat sembuh Bu. Anak saya titip salam. Katanya telur MBG enak."  

Di situlah letak feature ini: bukan di Istana, bukan di DPR. Tapi di ruang rawat yang sunyi, dan di piring anak yang kenyang.  

Bu Nanik menulis: "Saya tetap berjuang dan mendukung Pak Presiden yang saat ini sangat keras berupaya memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia."  

4. Pelajaran dari Kursi yang Kosong  

Kursi Kepala BGN kini telah terisi. Lumbungnya tidak boleh kosong.  

Jantung Bu Nanik kini dirawat. Tapi semangatnya tidak boleh dirawat inap.  

Dari kasus ini, kita belajar tiga hal:  

1. Amanah itu berat, tapi Allah tidak zalim. Jika tubuh tidak kuat, Allah beri jalan udzur. QS. Al-Baqarah: 286 jadi payungnya.  
2. Mundur karena sakit bukan aib. Aib itu kalau sakit tapi memaksa, lalu amanah rakyat jadi korban.  
3. Cinta pada bangsa tidak pensiun. Jabatan bisa lepas, SK bisa dicabut, tapi doa seorang ibu untuk gizi anak-anak tidak ada masa jabatannya.  

Penutup  
Hari ini Bu Nanik pamit. Besok mungkin giliran kita. Sebab setiap kita adalah penjaga lumbung: lumbung keluarga, lumbung masjid, lumbung kantor.  

Maka jika lelah, berobatlah. Jika sakit, mundurlah selangkah. Tidak ada yang akan mencela ikhtiar untuk sembuh.  
Sebab lumbung yang paling penting untuk dijaga pertama kali adalah lumbung di dalam dada: jantung yang ikhlas dan tubuh yang sehat.  

Dari jauh, kita kirim Al-Fatihah. Semoga jantungnya kembali kuat. Semoga piring-piring MBG tetap hangat. Dan semoga kita semua pandai membedakan: mana mundur karena lari, mana mundur karena tahu diri. (***)

LIPSUS