-->
Cari Berita

Breaking News

Ketika Maling Jadi Teladan

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 24 Juli 2026

 

OTT KPK

Oleh: Junaidi Jamsari 

-Penulis Tinggal di Lampung Barat 


“Biaya rekrut mereka itu tidak murah. Untuk menjadi Kepala Daerah itu kan tidak gratis,” kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Kompleks Parlemen, Kamis, 16 Juli 2026.  


Kalimat itu jujur. Tapi ada yang lebih pahit dari mahalnya biaya politik: kita mulai terbiasa. Korupsi bukan lagi aib, tapi “ongkos wajar”. Bukan lagi kejahatan, tapi “kepintaran”.  


Kenapa Indonesia jadi begini? Kenapa tiap ada maling uang rakyat, selalu dibela dengan kalimat, “Di luar negeri juga ada korupsi kok”?  


1. Kita Kehilangan Rasa Malu 


Di Jepang, menteri ketahuan pakai uang dinas untuk pribadi, langsung mundur. Bahkan ada yang bunuh diri karena malu. Malu itu benteng terakhir sebuah bangsa.  


Islam menempatkan malu sebagai cabang iman. Rasulullah SAW bersabda:  

“Al-haya’u syu‘batun minal iman. Malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari - Muslim)  


Ketika pejabat tersenyum di sidang korupsi, melambaikan tangan seperti artis, di mana malunya? Ketika anak pejabat pamer harta tidak jelas asal-usulnya, lalu kita yang kritik dibilang iri, di mana malu kolektif kita?  


Allah sudah memperingatkan:  

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)  


Ayat itu turun bukan untuk dipajang di dinding. Tapi untuk menjadi rem. Sayangnya, rem kita blong.


2. Korupsi Sudah Jadi Sistem, Bukan Insiden 


Dulu korupsi itu kecelakaan. Sekarang korupsi itu rel. Dari urus KTP sampai proyek triliunan, semua ada “uang pelicin”. Yang jujur dibilang kaku. Yang tidak mau setoran dibilang tidak solutif.  


Ini yang paling bahaya: ketika yang haram dinormalisasi, maka yang halal menjadi aneh.  


Rasulullah SAW bersabda:  

“Laknat Allah kepada penyuap dan penerima suap.” (HR. Tirmidzi - Abu Dawud)  


Hadits itu jelas. Tidak ada tafsir. Tidak ada celah. Suap itu dilaknat. Tapi hari ini, suap punya nama-nama indah: “uang terima kasih”, “uang lelah”, “uang koordinasi”. Kita ganti bungkusnya, tapi racunnya sama.  


3. Kita Salah Bandingkan  


“Di Amerika juga ada korupsi.” Benar. Tapi di sana presidennya bisa dipenjara. Di China, koruptor dihukum mati. Di Korea, mantan presiden masuk sel.  


Bedanya bukan pada ada atau tidak ada maling. Bedanya pada cara mengurus maling.  


Allah berfirman:  

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)  


Keadilan itu tidak pandang bulu. Tapi di sini, hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Maling ayam babak belur, maling 271 T dapat remisi. Akhirnya rakyat belajar: “Oh, jadi maling besar itu aman.”  


Lama-kelamaan, maling menjadi teladan. Karena dia kaya, dia berkuasa, dia kebal. Anak muda tidak lagi bercita-cita menjadi ilmuwan. Mereka bercita-cita “masuk lingkaran”.  


4. “Risiko Jabatan” Dijadikan Dalil Maling


Pernah dengar pejabat bilang: “Namanya juga jabatan, pasti ada risikonya.”  


Kalimat itu terdengar gagah. Seolah-olah dia negarawan yang siap berkorban. Tapi mari kita bedah: risiko apa yang dimaksud?  


Risiko dimusuhi karena tidak mau bagi proyek? Bukan.  

Risiko disingkirkan karena jujur? Bukan.  

Risiko yang dimaksud adalah: “risiko ketangkep KPK”.  


Artinya, korupsi sudah masuk dalam RAB. Sudah dihitung sebagai biaya operasional. Kalau lolos, dapat istana. Kalau apes, dapat kursi pesakitan. Toh nanti bisa remisi, bisa nyaleg lagi.  


Ini bukan mental pejabat. Ini mental penjudi. Bedanya, yang dipertaruhkan bukan uang pribadinya, tapi uang rakyat.  


Allah berfirman tentang manusia model begini:  

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)  


Lidahnya bicara pengabdian. Hatinya hitung-hitungan rampokan.  


Rasulullah SAW bersabda:  

“Barangsiapa yang kami angkat menjadi pegawai untuk mengurus suatu pekerjaan, lalu kami berikan gajinya, maka apa yang dia ambil selain itu adalah harta ghulul.” (HR. Abu Dawud)  


Ghulul itu korupsi. Ancaman ghulul berat. Di hari kiamat, harta itu akan dipikul di lehernya sendiri di depan seluruh manusia.  


Tapi hari ini, “risiko jabatan” diplintir. Bukan risiko masuk neraka yang ditakuti. Yang ditakuti cuma risiko masuk berita.  


Maka lahirlah pejabat yang shalatnya rajin, tapi tanda tangannya jual-beli. Umroh tiap tahun, tapi APBD jadi bancakan. Karena bagi mereka, dosa bisa dicuci, asal saldo tidak bocor.  


Padahal, Rasulullah SAW menolak permintaan Abu Dzar untuk memjadi pejabat:  

“Wahai Abu Dzar, engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah. Sungguh, ia pada hari kiamat adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim)  


Abu Dzar yang zuhud saja dibilang “lemah” untuk jabatan. Lha ini yang niatnya sudah “itung-itung risiko”, kok ngantri paling depan?  


Lalu Kita Harus Apa? 


Pertama; kembalikan rasa jijik. Ajarkan ke anak kita: “Nak, itu bukan hebat. Itu khianat.” Rasulullah SAW bersabda:  

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)  


Minimal, hati kita harus mengingkari. Jangan sampai ikut tepuk tangan.  


Kedua; jangan ikut main. Sesulit apapun, tahan untuk tidak memberi amplop. Karena sekali kita kasih, kita menjadi baut dalam mesin korupsi. Allah berfirman:  

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)  


Ketiga; pilih pemimpin karena takutnya kepada Allah, bukan karena kaos dan sembakonya. Rasulullah SAW mengingatkan:  

“Jika amanah telah disia-siakan, tunggulah kehancuran.” Sahabat bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.” (HR. Bukhari)  


Menulis borok bangsa sendiri itu malu. Tapi lebih malu kalau kita menjadi bangsa yang bangga dengan boroknya. Lebih hina kalau kita menjadi umat yang takut menegur, tapi rajin membela maling karena satu partai, satu suku, satu ormas.  


Korupsi menjadi biasa karena yang waras diam. Maka bicaralah. Walau pahit. Walau malu. Karena diam kita adalah karpet merah bagi maling berikutnya.  


Dan ingat pesan Allah:  

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)  


Perubahan itu tidak turun dari langit. Ia dimulai dari kita yang berhenti menganggap maling sebagai teladan. Karena di mata Allah, jabatan bukan meja judi. Jabatan adalah timbangan. Timbangannya ada dua: surga atau neraka. Tidak ada opsi “penjara 5 tahun potong remisi”.  


“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). (***)

LIPSUS