Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA
-Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
Setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menghadirkan fenomena menarik di luar pertandingan. Salah satunya adalah maraknya konten kreatif yang menggunakan hewan, benda, atau properti tertentu untuk "memprediksi" pemenang pertandingan. Pada Piala Dunia 2026, ketika partai final mempertemukan Spanyol dan Argentina, media sosial kembali dipenuhi video burung memilih bendera, kucing menentukan pemenang, kura-kura berjalan menuju salah satu logo negara, hingga bola yang menggelinding ke arah bendera tertentu. Konten seperti ini dibuat semata sebagai hiburan dan kreativitas, bukan sebagai dasar ilmiah untuk memprediksi hasil pertandingan. Fenomena tersebut mengingatkan publik pada Paul the Octopus, gurita yang menjadi terkenal pada Piala Dunia 2010 karena beberapa prediksinya dianggap tepat. Sejak saat itu, berbagai kreator konten terus menghadirkan konsep serupa dengan kemasan yang semakin kreatif demi menarik perhatian audiens di media sosial.
Kajian psikologi terapan menjelaskan bahwa popularitas konten semacam ini bukan terutama karena orang benar-benar percaya pada kemampuan hewan meramal hasil pertandingan, melainkan karena adanya perpaduan antara kreativitas, rasa ingin tahu, hiburan, serta berbagai bias kognitif yang memengaruhi cara manusia memproses informasi. Kreativitas sendiri merupakan kemampuan menghasilkan gagasan baru yang bernilai dan menarik melalui perpaduan aspek intelektual, emosional, dan motivasional. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190). Ayat tersebut mengajarkan agar manusia menggunakan akal sehat ketika menyikapi berbagai fenomena kehidupan. Rasulullah saw. juga bersabda: "Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah." (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut mengajarkan bahwa ikhtiar rasional harus selalu didahulukan daripada mempercayai sesuatu yang tidak memiliki dasar.
Konten Unik akan Mudah Viral
Kreativitas merupakan kemampuan menghasilkan ide yang baru, orisinal, dan menarik. Menurut Munandar (1999), kreativitas lahir dari perpaduan kemampuan berpikir divergen, rasa ingin tahu, fleksibilitas berpikir, dan keberanian mencoba sesuatu yang berbeda. David Campbell juga menjelaskan bahwa kreativitas menghasilkan sesuatu yang baru, unik, dan bermanfaat. Konten prediksi menggunakan hewan atau benda sederhana sebenarnya memanfaatkan prinsip “novelty effect”, yaitu kecenderungan manusia lebih tertarik pada sesuatu yang tidak biasa. Burung memilih bendera, kura-kura berjalan menuju logo negara, atau bola yang diarahkan ke salah satu kotak merupakan konsep sederhana, tetapi mampu membangkitkan rasa penasaran dan mendorong orang untuk menonton hingga selesai.
Fenomena tersebut juga dipengaruhi oleh “Curiosity Theory” yang dikembangkan George Loewenstein (1994). Ketika seseorang belum mengetahui hasil akhirnya, otak akan terdorong untuk mencari jawaban sehingga muncul keinginan kuat untuk menyaksikan akhir video. Di sisi lain, “Confirmation Bias” (Nickerson, 1998) membuat penonton lebih mudah mengingat prediksi yang kebetulan benar daripada puluhan prediksi yang salah. Akibatnya, muncul kesan bahwa hewan tersebut benar-benar memiliki kemampuan meramal, padahal keberhasilan tersebut lebih merupakan kebetulan daripada bukti ilmiah.
Kreativitas Positif Lebih Baik daripada Takhayul dan Judi
Konten prediksi juara dapat menjadi sarana hiburan yang sehat apabila diposisikan sebagai kreativitas, bukan sebagai dasar mengambil keputusan penting, terlebih untuk berjudi. Psikologi membedakan dengan jelas antara bermain untuk hiburan dan percaya secara irasional terhadap ramalan. Fenomena ini berkaitan dengan “illusory correlation”, yaitu kecenderungan menghubungkan dua peristiwa yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Penonton dapat menganggap pilihan seekor hewan sebagai petunjuk kemenangan suatu tim, padahal hasil pertandingan ditentukan oleh kualitas permainan, strategi, kesiapan mental, dan berbagai faktor objektif lainnya. Media sosial juga memperkuat penyebaran konten semacam ini melalui algoritma yang mengutamakan tayangan dengan tingkat interaksi tinggi. Video yang unik, lucu, dan mengundang komentar lebih mudah menjadi viral dibandingkan konten yang bersifat informatif.
Kreativitas yang sehat justru dapat menghasilkan berbagai bentuk konten edukatif, misalnya burung memilih bendera negara finalis, kura-kura menentukan arah bola, kucing memilih makanan berlogo negara peserta, robot sederhana memilih kotak prediksi, anak-anak membuat simulasi pertandingan menggunakan lego, AI atau animasi membuat prediksi yang dikemas secara humoris dan permainan tradisional sebagai media prediksi yang menghibur. Konten seperti itu dapat meningkatkan literasi olahraga sekaligus menghibur masyarakat tanpa menyesatkan. Islam mengingatkan agar manusia tidak mempercayai ramalan atau sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu. Allah Swt. berfirman: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS. Al-Isra': 36). Ayat tersebut menegaskan pentingnya berpikir kritis dan rasional.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa fenomena konten hewan atau benda yang "memprediksi" juara Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa kreativitas mampu mengubah ide sederhana menjadi hiburan yang menarik perhatian jutaan orang. Kajian psikologi terapan menjelaskan bahwa daya tarik konten tersebut lahir dari perpaduan rasa ingin tahu, efek kebaruan, bias konfirmasi, dan cara kerja algoritma media sosial, bukan karena adanya kemampuan meramal yang nyata. Kreativitas patut diapresiasi selama tetap berada dalam koridor hiburan, edukasi, dan sportivitas. Sebaliknya, masyarakat perlu menghindari sikap takhayul maupun menjadikan konten semacam itu sebagai dasar berjudi atau mengambil keputusan penting. Semangat Piala Dunia seharusnya menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, mengembangkan kreativitas digital, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang positif, inspiratif, dan menghibur. (***)

