Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat.
Manusia punya satu anggota badan yang paling lemah secara fisik, tapi paling dahsyat pengaruhnya, yaitu: lidah.
Lidah memang tidak bertulang. Sekali tergigit gigi saja terasa sakit. Namun, dengan lidah manusia bisa menebar kesejukan. Tapi dengan lidah pula, ia bisa mendatangkan malapetaka hingga kehancuran.
Pedang hanya mampu membunuh beberapa orang. Lidah bisa merenggut nyawa puluhan, bahkan ratusan orang melalui fitnah, hasutan, dan perpecahan.
Pantaslah jika ada pepatah: "Lidah lebih tajam daripada pedang".
Bukti nyatanya ada di depan mata. Kerusuhan, bentrokan fisik, perang antar etnis, hingga perseteruan elite politik. Hampir semua itu berawal dari: ucapan yang tidak terkendali dan hasutan lidah yang liar.
Maka Rasulullah SAW memperingatkan dengan keras: "Kendalikanlah lidahmu, tetaplah di rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu." (HR. Tirmidzi).
Ironi Umat yang Lupa Menjaga Amanah.
Masih banyak di antara kita yang mengaku muslim, namun gemar "mengumbar lidah" tanpa berpikir akibatnya.
Mengapa ini terjadi? Ada 3 akar masalahnya:
1. Lupa Bahwa Lidah adalah Amanah Allah.
Banyak orang tidak sadar bahwa lidah adalah titipan yang kelak akan dihisab. Allah berfirman: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra: 36)
Orang yang sadar hal ini, akan menjaga lisannya. Ia gunakan lidahnya untuk kebaikan: dakwah, amar ma’ruf nahi munkar.
Ia jauhi perkataan sia-sia, dusta, fitnah, dan provokasi yang merusak tatanan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2. Lupa Bahwa Allah Maha Mengawasi.
Sebagian orang berani bicara sembarangan karena merasa tidak ada yang melihat. Padahal Allah berfirman: "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (QS. Al-Fajr: 14)
Allah menegaskan: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya. Satu duduk di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Tidak satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 16-18)
Tidak ada satupun kata yang luput dari catatan.
3. Lupa Akan Akibat Fatal dari Ucapan.
Jika seseorang benar-benar sadar bahayanya, ia pasti berpikir sebelum bicara. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba bisa terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat, disebabkan satu kalimat yang ia ucapkan tanpa dipikirkan akibatnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Solusinya: "Berkata Baik atau Diam"
Karena itu, wahai mukmin, mari kita jaga lisan dari ucapan buruk dan fitnah yang menebar permusuhan.
Jika ucapan kita tidak mendatangkan kebaikan, maka diam adalah pilihan terbaik. Ini bukan diam karena takut. Ini diam yang bernilai ibadah.
Nabi SAW bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)
Diam di sini artinya: menahan diri dari keburukan, menjaga wibawa, dan tidak ikut menyebarkan api.
Ketiga sebab di atas masih sering kita jumpai. Akibatnya, masyarakat mudah terprovokasi oleh isu yang tidak jelas sumbernya, mudah diadu domba oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Karena itu, mari kita pelihara lidah kita. Hadapi setiap gejolak zaman dengan arif dan bijaksana.
Jangan mudah terprovokasi. Jangan mau dipecah belah.
Semoga Allah mengakhiri berbagai krisis yang melanda bangsa ini, dan menggantinya dengan suasana yang aman, damai, dan sejahtera. Aamiin. (***)

