Refleksi Kritis “Bertumbuh dan Mengakar” untuk Lampung Maju
Oleh, Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Lampung Maju” yang diusung dalam Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) Pemuda Muhammadiyah Lampung bukanlah sekadar kalimat retoris untuk spanduk atau latar panggung seremonial. Di balik keindahan diksi tersebut, tersimpan sebuah tamparan keras dan tantangan eksistensial bagi organisasi sayap pemuda terbesar di Provinsi Lampung ini. Tema ini adalah sebuah cermin. Dan pertanyaannya kini: apakah Pemuda Muhammadiyah Lampung sedang bercermin untuk melihat realitas, atau hanya sedang berdandan untuk menyembunyikan kelelahan dan kejumudannya?
Sebagai sebuah gerakan, Pemuda Muhammadiyah (PM) lahir dari rahim tajdid (pembaruan) dan harakah (pergerakan) yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan. Namun, hari ini kita dihadapkan pada sebuah ironi besar. Organisasi yang dulunya lahir sebagai pasukan kejut untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kemiskinan, kini perlahan-lahan tergerus oleh rutinitas administratif. Kita terjebak dalam siklus rapat, seminar, musyawarah, dan seremoni kepanitiaan yang melelahkan, namun sering kali kehilangan ruh dan substansi perjuangan di tengah masyarakat.
Tulis ini dihadirkan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai sebuah kritik konstruktif yang mendalam. Rapimwil ini harus menjadi momentum untuk membongkar kenyamanan semu tersebut. Jika Pemuda Muhammadiyah Lampung ingin benar-benar mewujudkan “Lampung Maju”, maka ia harus berani keluar dari zona nyaman rutinitas dan kembali menancapkan akarnya pada substansi perjuangan yang membumi.
Jebakan Rutinitas dan Hilangnya Substansi
Penyakit terbesar yang menggerogoti organisasi pemuda hari ini, tidak terkecuali di internal PM, adalah “aktivisme tanpa dampak”. Kita sangat pandai membuat proposal, menggelar diskusi kebangsaan, menerbitkan rekomendasi, dan memposting dokumentasi kegiatan di media sosial. Namun, seberapa banyak dari kegiatan tersebut yang benar-benar mengubah nasib masyarakat Lampung?
Rutinitas organisasi sering kali membuat kader terjebak dalam formalitas ketimbang substansi. Kader dinilai rajin jika hadir dalam setiap rapat, bukan jika ia mampu memberikan solusi atas konflik agraria di Lampung Tengah, atau mampu menciptakan lapangan kerja bagi pemuda putus sekolah di pesisir Lampung Selatan. Ketika organisasi hanya berorientasi pada pemenuhan kalender kegiatan (event-oriented), maka PM hanya akan menjadi “panitia abadi” yang kehilangan daya tawar dan daya dobrak terhadap ketidakadilan struktural.
Substansi perjuangan Pemuda Muhammadiyah adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam konteks yang luas: memerangi kebodohan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan. Jika PM Lampung hanya sibuk dengan urusan internal, perebutan pengaruh politik praktis sesaat, atau sekadar menjadi stempel bagi kepentingan elit, maka ia telah mengkhianati manifesto pergerakan itu sendiri. Rapimwil ini harus berani mengevaluasi: apakah kita sedang mencetak kader pejuang, atau sekadar mencetak panitia acara?
“Mengakar”: Memahami Tanah dan Darah Lampung
Kata “Mengakar” dalam tema Rapimwil ini menuntut kedalaman sosiologis dan kultural. Mengakar berarti PM tidak boleh menjadi organisasi yang hanya hidup di ruang-ruang ber-AC di perkotaan, atau hanya menjadi klub diskusi bagi anak-anak muda kelas menengah yang teralienasi dari realitas rakyatnya.
Lampung adalah provinsi dengan karakter agraris dan maritim yang sangat kuat. Namun, di atas tanah yang subur dan lautan yang kaya ini, paradoks kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi hantu. Konflik lahan antara masyarakat adat/petani dengan korporasi perkebunan masih sering terjadi. Angka stunting dan putus sekolah di beberapa kabupaten masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Nelayan tradisional terpinggirkan oleh industrialisasi pesisir.
Di sinilah letak “Mengakar” yang sesungguhnya. Pemuda Muhammadiyah harus turun ke sawah, ke tambak, dan ke desa-desa tertinggal. Mengakar berarti memiliki kepekaan intelektual dan emosional terhadap penderitaan rakyat Lampung. PM harus hadir bukan hanya sebagai pemberi ceramah moral, tetapi sebagai mediator, advokat, dan inovator sosial. PM harus berani bersuara lantang membela petani yang tanahnya dirampas, dan merancang program pemberdayaan ekonomi yang memandirikan, bukan yang sekadar membagi-bagikan sembako menjelang tahun politik.
Jika PM tidak mengakar pada problematikah riil masyarakat Lampung, maka ia akan menjadi organisasi asing di tanahnya sendiri. Ia akan kehilangan legitimasi moralnya sebagai wong cilik yang diperjuangkan oleh persyarikatan.
“Bertumbuh”: Inovasi, Disrupsi, dan Kemandirian
Sementara itu, kata “Bertumbuh” tidak boleh dimaknai secara kuantitatif semata—seperti sekadar membuka ranting-ranting baru atau menambah jumlah kartu anggota. Bertumbuh harus dimaknai secara kualitatif: pertumbuhan intelektual, pertumbuhan kapasitas teknologi, dan pertumbuhan kemandirian ekonomi.
Kita hidup di era disrupsi di mana kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan ekonomi digital telah mengubah lanskap kehidupan. Pemuda Lampung menghadapi tantangan global yang sangat keras. Di sinilah PM dituntut untuk tidak gagap teknologi dan tidak tertinggal zaman. Pertumbuhannya harus ditandai dengan kemampuan membaca peta masa depan.
PM Lampung harus bertransformasi menjadi think tank (kawah candradimuka) bagi pemuda-pemuda inovator. Substansi perjuangan hari ini menuntut PM untuk melahirkan sosial-preneur (kewirausahaan sosial). Kader PM tidak boleh hanya sibuk mencari kerja, tetapi harus berani menciptakan kerja. Membangun koperasi modern, mengembangkan pertanian cerdas (smart farming), dan menciptakan ekosistem ekonomi digital berbasis komunitas adalah wujud nyata “Bertumbuh” yang substansial.
Selain itu, pertumbuhan juga berarti keberanian untuk melakukan kolaborasi lintas sektor. PM tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara eksklusif. Ia harus berkolaborasi dengan akademisi, komunitas teknologi, lembaga swadaya masyarakat, hingga pemerintah daerah, untuk mengawal kebijakan publik di Lampung. PM harus menjadi watchdog yang kritis namun solutif terhadap kebijakan Pemprov Lampung yang sering kali tidak pro rakyat.
Mengembalikan Ruh Pasukan Kejut Persyarikatan
Pada akhirnya, Rapimwil ini adalah sebuah persimpangan. Apakah Pemuda Muhammadiyah Lampung akan terus terlelap dalam kenyamanan rutinitas birokrasi organisasi, atau akan bangkit sebagai pasukan kejut yang menakutkan bagi kemapanan yang zalim dan menginspirasi bagi mereka yang tertindas?
Kita perlu menyadari bahwa Muhammadiyah dan sayap pemudanya tidak akan pernah dihargai oleh masyarakat jika hanya pandai berbicara di atas mimbar. Masyarakat Lampung yang majemuk, dengan berbagai suku dan budayanya, membutuhkan kehadiran PM yang merangkul, mengayomi, dan memberikan solusi nyata. Dakwah bil-hal (dakwah dengan perbuatan nyata) harus menjadi primadona, menggeser dominasi dakwah bil-lisan yang sering kali hanya berhenti di tataran teks.
Kepada para pimpinan wilayah, daerah, cabang, hingga ranting yang sedang berkumpul dalam rapat. Berhentilah membuat program kerja yang hanya bersifat normatif dan copy-paste dari tahun-tahun sebelumnya. Buatlah program yang memiliki Key Performance Indicator (KPI) berbasis dampak sosial. Ukurlah keberhasilan organisasi bukan dari seberapa banyak spanduk yang terpasang, tetapi dari seberapa banyak anak muda Lampung yang berhasil diselamatkan dari narkoba, seberapa banyak desa yang berhasil diberdayakan secara ekonomi, dan seberapa kuat nilai-nilai toleransi dan kemajuan ditegakkan di bumi Lampung.
Sebuah Panggilan Sejarah
“Lampung Maju” bukanlah slogan kosong. Ia adalah sebuah cita-cita peradaban di mana keadilan sosial, kemajuan ilmu pengetahuan, dan keberkahan spiritual berjalan beriringan. Untuk mencapai itu, Pemuda Muhammadiyah harus “Bertumbuh” dalam gagasan dan aksi yang melampaui zaman, serta “Mengakar” kuat pada nilai-nilai persyarikatan dan realitas penderitaan rakyatnya.
Tinggalkan rutinitas yang membunuh kreativitas. Robohkan tembok-tembok kesombongan intelektual. Turunlah ke jalan, masuklah ke desa-desa, dan dengarkan jeritan mereka yang tertindas. Karena di sanalah, di tengah debu jalanan dan keringat rakyat jelata, substansi perjuangan Pemuda Muhammadiyah yang sejati sedang menanti untuk dihidupkan kembali.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Rapimwil kali ini menjadi titik balik, bukan sekadar catatan sejarah yang segera dilupakan.(*)

