Oleh: Mursaidin Albantani, ST -Peneliti Pada Sinyal Publik Indonesia
Final Piala Dunia 2026 kembali menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, kampus, hingga pelaku usaha menggelar nonton bareng (nobar). Jalanan dipenuhi masyarakat yang larut dalam euforia sepak bola.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan masyarakat. Namun, justru di tengah euforia itu, nobar seharusnya tidak berhenti sebagai tontonan. Nobar harus menjadi momentum kritik ke dalam—bukan hanya terhadap sepak bola Indonesia, tetapi juga terhadap cara kita membangun bangsa.
Ketika Semua Berkumpul, Saatnya Berkaca
Tidak ada yang salah dengan nobar. Bahkan ketika pemerintah ikut mengajak masyarakat menonton bersama, hal itu dapat menjadi ruang silaturahmi sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui UMKM.
Namun, setelah peluit panjang dibunyikan, yang tersisa adalah sebuah pertanyaan: apa yang telah kita bangun selain euforia?
Bangsa ini begitu kompak mendukung Argentina, Spanyol, Brasil, atau Inggris. Tetapi ketika daftar peserta Piala Dunia diumumkan, nama Indonesia masih belum ada.
Ironi ini seharusnya menjadi bahan introspeksi nasional.
Nobar, Kritik terhadap Sepak Bola Indonesia
Ribuan orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan terbaik dunia. Sayangnya, perhatian yang sama belum sepenuhnya terlihat dalam membangun pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, kualitas wasit, profesionalisme klub, maupun tata kelola organisasi sepak bola.
Kita mencintai hasil akhirnya, tetapi sering lupa membangun prosesnya.
Prestasi tidak lahir dari euforia, melainkan dari pembinaan yang konsisten, tata kelola yang bersih, dan investasi jangka panjang.
Nobar, Kritik terhadap Pembangunan
Momentum nobar juga layak menjadi cermin bagi pemerintah. Pemerintah tidak cukup hanya menyuguhi rakyat dengan nonton bareng sepak bola. Rakyat juga harus disuguhi pembangunan yang nyata.
Jika pemerintah mampu menggerakkan ribuan orang untuk berkumpul di alun-alun, maka semangat yang sama semestinya diwujudkan untuk mempercepat pembangunan jalan, memperbaiki sekolah, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperluas kesempatan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Rakyat tentu membutuhkan hiburan. Namun rakyat juga membutuhkan kepastian hidup yang lebih baik.
Kritik untuk Kita Semua
Nobar juga menjadi kritik bagi masyarakat. Kita sering lebih hafal susunan pemain klub-klub Eropa daripada memahami persoalan di lingkungan sendiri. Kita mudah larut dalam perdebatan soal taktik pertandingan, tetapi sering abai terhadap persoalan pendidikan, lingkungan, korupsi, kemiskinan, dan kualitas pelayanan publik.
Bukan berarti sepak bola tidak penting. Justru semangat yang kita tunjukkan saat mendukung sebuah tim seharusnya juga hadir ketika membangun daerah, menjaga fasilitas umum, mengawasi penggunaan anggaran, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.
Dari Penonton Jadi Pelaku Perubahan
Piala Dunia akan berakhir. Lampu layar raksasa akan dipadamkan. Keramaian akan kembali sunyi.
Yang tersisa adalah pekerjaan besar yang belum selesai: membangun Indonesia agar lebih maju, lebih adil, dan lebih berprestasi.
Karena itu, nobar jangan hanya menjadi pesta menonton, tetapi juga menjadi ruang refleksi nasional. Refleksi tentang kualitas sepak bola kita, kualitas tata kelola pemerintahan, kualitas pembangunan, dan kualitas partisipasi masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah seberapa meriah rakyat menonton pertandingan negara lain, melainkan seberapa besar kemampuan bangsa itu membangun dirinya sendiri.
Jika nobar mampu menyatukan masyarakat selama 90 menit, maka semangat yang sama harus mampu menyatukan kita untuk bekerja selama 365 hari membangun Indonesia. (***)

