Oleh, Hasbullah
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Lampung
Jika dunia memiliki panggung besar bernama Piala Dunia, maka setiap mata tertuju ke sana, setiap hati berdebar mengikuti setiap detik pertandingan. Sorak sorai menggema, kebanggaan dibangun, dan sejarah ditulis oleh mereka yang tampil di tengah lapangan. Banyak orang bermimpi berdiri di sana, menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan diingat sepanjang masa.
Namun di balik gemerlap itu, ada panggung lain yang sering luput dari perhatian. Panggung yang tidak riuh oleh sorakan, tetapi sunyi oleh perenungan. Panggung yang tidak menampilkan adu fisik, melainkan pertarungan batin. Itulah Baitul Arqom, ruang pembinaan yang diam-diam membentuk manusia menjadi lebih dari sekadar hebat, namun menjadi pribadi yang bermakna.
Di Baitul Arqom, seseorang tidak dinilai dari seberapa kuat ia berlari atau seberapa tinggi ia melompat, tetapi dari seberapa dalam ia memahami dirinya, keberadaan, kebersamaan bahkan Tuhan-Nya. Di sana, nilai-nilai kebaikan ditanamkan, akhlak diperkuat, dan arah hidup dipertajam. Ia bukan sekadar kegiatan, melainkan perjalanan menuju kesadaran.
Banyak yang mungkin menganggapnya biasa saja, bahkan melewatkannya tanpa rasa kehilangan. Padahal, di situlah kesempatan untuk memperbaiki diri dibuka lebar. Di situlah seseorang bisa menemukan jawaban atas kegelisahan yang selama ini tak terucap. Di dalam banyak ruang dialog dan ego dilupuhkan. Pahamilah bahwa kesempatan itu tidak selalu datang dua kali dengan cara yang sama.
Betapa sering manusia mengejar panggung dunia yang sementara, tetapi justru mengabaikan panggung pembentukan diri yang abadi. Mereka bangga pada tepuk tangan dan kekuasaan sesaat, namun lupa pada nilai yang akan dibawa pulang seumur hidup. Dan ketika waktu berlalu, barulah terasa ada ruang kosong yang tidak pernah terisi.
Penyesalan sering datang terlambat, ketika kesempatan telah lewat dan hanya menyisakan cerita “seandainya.” Seandainya kemarin mau hadir, seandainya kemarin mau mendengar, seandainya kemarin mau membuka hati dan pikiran. Namun, hidup tidak selalu memberi ruang untuk mengulang, dan tidak semua peluang kembali dengan bentuk yang sama. Dan catatan atas perilaku diri, selalu diingat oleh waktu dan keadaan.
Maka, jika hari ini pintu kebaikan dan pengorbananitu masih terbuka, jangan biarkan diri hanya menjadi penonton dan memperbanyak bicara. Masuklah, rasakan, dan jadilah bagian dari proses yang membentuk makna hidup. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa besar panggung yang kita pijak, tetapi seberapa dalam nilai yang kita bawa pulang dari setiap perjalanan.(*)

