-->
Cari Berita

Breaking News

Satgas MBG Lampung Belum Tahu SPPG yang Disuntik Mati

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Selasa, 28 Juli 2026

Saipul

INILAMPUNGCOM --- Langkah tegas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang menutup permanen atau suntik mati terhadap 833 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) alias SPPG, sampai Selasa siang, 28 Juli 2026, untuk Provinsi Lampung datanya belum diketahui.

Ketua Satgas MBG Provinsi Lampung, Saipul, mengaku pihaknya belum menerima informasi resmi mengenai disuntik matinya 833 SPPG oleh BGN tersebut. 

"Kami sudah koordinasi dengan Regional BGN, tapi mereka juga belum menerima keputusan tentang pemberhentian permanen dapur MBG tersebut," ucap Saipul.

Ditegaskan, sampai saat ini yang ada di dalam petunjuk teknis (juknis) adalah pemberhentian sementara, belum ada ketentuan mengenai pemberhentian permanen sebagaimana disampaikan Kepala BGN.

Saipul menambahkan, saat ini ada 2 dapur SPPG yang dihentikan operasionalnya sementara, yaitu di Tanggamus dan Pesawaran. Keduanya terkait dugaan MBG yang dibagikan menjadi penyebab keracunan.

Yaitu terhadap belasan siswa SMPN I Talang Padang, Tanggamus, dan 32 siswa SDN 22 Tegineneng, Pesawaran, pada pekan lalu.

Menurut Saipul, saat ini sampel makanan yang diduga penyebab keracunan tengah dalam uji laboratorium kesehatan. Untuk memastikannya diperlukan waktu setidaknya selama sebulan.

Diberitakan sebelumnya, Senin siang, 27 Juli 2026, Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan bahwa pihaknya telah menutup permanen 833 dapur MBG. 

Secara rinci Sudaryono mengungkapkan, dapur yang  disuntik mati itu terdiri dari: 98 dapur di wilayah I Sumatera, 311 dapur di wilayah II Jawa dan Madura, dan wilayah III sebanyak 424 dapur.

Dikatakan bahwa dapur MBG yang ditutup permanen tersebut tidak akan dibayar oleh pemerintah.

“Dapur yang disuspend secara permanen ini bukan kayak yang lalu, misalnya dulu kan disuspend tapi tetap dibayar. Kalau ini sudah suspend, ya tutup, nggak dibayar. Ini betul-betul adalah suspend karena pelanggaran,” terang Sudaryono.

*Persoalan Higienis

Ada beberapa alasan yang menyebabkan dapur-dapur tersebut ditutup. Sudaryono menekankan alasan utamanya adalah persoalan higienis.

“Jadi dapur di suspend terkait higienis, keracunan, kualitas tidak memenuhi standar dan tidak baik,” tegasnya.

Di sisi lain, Sudaryono tetap memastikan penerima manfaat dari dapur yang ditutup permanen tersebut akan tetap mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur-dapur SPPG di sekitar.

“Jadi intinya semua menunya tersaji dengan baik, dimakan dengan baik, dan perputaran ekonomi jalan. Jadi kita ingin everybody happy-lah. Kita pastikan, usahakan (penerima manfaat dari dapur yang ditutup) bisa dicover,” ungkapnya. (zal/inilampung)

LIPSUS