-->
Cari Berita

Breaking News

Ulang Tahun Amplop, Ulang Tahun Niat

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 10 Juli 2026

Nahdlatul Ulama


(Meneladani Kiai Wahab Menjelang Muktamar NU ke-35)

  

Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat.


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) akhirnya menetapkan Pesantren Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi Muktamar ke-35 pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan itu diambil dalam Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026. 


Tapi di balik keputusan lokasi dan tanggal, ada satu pertanyaan yang ikut Muktamar tiap periode: ulang tahun apa yang akan kita rayakan di sana? Ulang tahun amplop, atau ulang tahun niat?


1. Menulis: Antara Jujur dan Takut.

Menulis itu pekerjaan sunyi. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada karpet merah. Yang ada cuma kertas, pena, dan pertanyaan: tulisan ini mau menghadap ke mana? Ke meja redaksi, ke meja penguasa, atau ke meja hisab? 


Karena menulis itu tentang tulis apa yang ada di pikiranmu, jangan tulis apa yang kamu pikirkan. Yang pertama jujur, yang kedua takut. Dari pertanyaan itu lahir tulisan ini. Karena menjelang Muktamar, ada yang lebih rajin ulang tahun dari penulis: amplop.


2. Amplop yang Tak Pernah Mati.

Setiap lima tahun, menjelang Muktamar, amplop itu berulang tahun. Bukan dirayakan dengan kue, tapi dengan proyek. Lilinnya bukan angka, tapi tanda tangan SPK.


Amplop itu tua. Lebih tua dari reformasi. Ia lahir sejak niat pertama dibelokkan: dari “untuk umat” jadi “untuk CV”. Ia dewasa ketika manusia mulai takut miskin, tapi tidak takut hisab.


Dan ia akan lapuk hanya kalau ada yang berani menulis: “Aku hidup bukan untuk amplop, tapi untuk mempertanggungjawabkan umur.”`


3. Saat Kiai Wahab Ditolak Koran.

Tahun 1926, Kiai Wahab Hasbullah menulis gagasan “Komite Hijaz”. Soeara Oemoem Surabaya menolak: “Terlalu keras, Kiai.” 


Kiai Wahab tidak bungkam. Beliau menulis ulang di kertas minyak, dititipkan lewat koper santri ke Tebuireng, Denanyar, Bangkalan. Dari tulisan yang ditolak itu, 31 Januari 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama. 


Pesan Kiai Wahab: “Zaman boleh nglarang tulisanku dicetak, tapi ora iso nglarang tulisanku diceritakno. Sing penting santri ngerti.”


Rujukan: Choirul Anam, K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Bapak & Pendiri NU, 2015, hal. 89-93. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama, hal. 267.


4. Muktamar, Proposal, dan Niat. 

Hari ini amplop ulang tahun lagi di luar sana. Menjelang Muktamar NU ke-35 akhir Agustus nanti, pasti ada yang ulang tahun niat, tapi ada juga yang ulang tahun proposal.


Di bilik-bilik pesantren, di kamar kos, di meja lipat kontrakan, ada yang sedang ulang tahun niat menulis. Mata rantai kaderisasi NU tidak diikat oleh amplop. Tapi diikat oleh karya yang diwariskan.


Kiai Wahab tidak mewariskan gedung. Beliau mewariskan keberanian menulis saat ditolak.


5. Jangan Sampai Ditolak Lauh Mahfuzh.  

Tugas kita bukan mematikan ulang tahun amplop. Tugas kita: memastikan amplop tidak jadi wasiat dalam mata rantai kaderisasi NU. 


Dulu Kiai Wahab ditolak koran besar. Tapi diterima sejarah. Kita hari ini mungkin ditolak halaman depan. Tapi jangan sampai tulisan kita ditolak Lauh Mahfuzh karena isinya cuma nota pembelian nurani.


Maka kemaslah kebaikan itu dengan cara yang baik, dan sampaikanlah dengan cara yang elegan. Sebab rezeki terbesar penulis bukan dimuat di depan, tapi dicatat sebagai amal di belakang layar langit.


Penutup: NU Besar Karena Tulisan


Menjelang Muktamar NU ke-35, selagi masih ada yang menjaga frasa dan diksi dengan jujur, dan selagi masih ada yang mengingatkan untuk tetap menulis, maka tradisi literasi di NU belum mati.


Ia hanya sedang pindah: dari halaman depan media, ke halaman depan sejarah.


Teruslah menulis. Sebab NU tidak besar karena amplop. NU besar karena tulisan yang lahir dari kantong kosong tapi hati penuh.


Semangat semuanya. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq. (***)

LIPSUS