-->
Cari Berita

Breaking News

Wacana Disiplin Siswa oleh Taruna Akmil

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Senin, 13 Juli 2026

 

Taruna Akmil (ist/inilampung)


(Perspektif Psikologi Terapan dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik)

 

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

 

Beberapa waktu terakhir, publik kembali memperbincangkan wacana pelibatan unsur ketarunaan atau pendidikan bergaya militer dalam membentuk kedisiplinan peserta didik. Diskusi tersebut menguat setelah muncul berbagai program pembinaan siswa bermasalah melalui kerja sama dengan institusi militer di sejumlah daerah, disertai usulan agar nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air yang berkembang di lingkungan akademi militer dapat menjadi inspirasi pembinaan karakter di sekolah. 


Wacana ini memunculkan dukungan sekaligus kritik dari masyarakat, akademisi, pemerhati pendidikan, hingga psikolog. Sebagian menilai pendekatan tersebut mampu membangun disiplin dan tanggung jawab, sementara sebagian lain mengingatkan agar tidak mengabaikan aspek perkembangan psikologis anak.

 

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan disiplin bukan sekadar masalah tata tertib sekolah, tetapi juga menyangkut proses pembentukan kepribadian. Dalam psikologi pendidikan, disiplin dipahami bukan hanya sebagai kepatuhan terhadap aturan, melainkan kemampuan individu mengendalikan diri (self-regulation) sehingga mampu bertindak benar meskipun tidak diawasi. 


Oleh karena itu, pertanyaan mendasarnya bukanlah apakah model ketarunaan baik atau buruk, melainkan bagaimana pendekatan tersebut diterapkan agar sesuai dengan prinsip perkembangan psikologis peserta didik.

 

Dari Kepatuhan Menuju Pengendalian Diri


Psikologi modern memandang disiplin sebagai proses internalisasi nilai, bukan sekadar kepatuhan karena takut terhadap hukuman. Albert Bandura (1977) melalui “Social Learning Theory” menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi terhadap figur yang dihormati. Ketika instruktur, guru, maupun taruna mampu menjadi teladan dalam integritas, tanggung jawab, dan kedisiplinan, peserta didik akan lebih mudah meniru perilaku tersebut dibandingkan jika hanya menerima ceramah atau hukuman. 


Pandangan ini diperkuat oleh Walter Mischel (1972) melalui penelitian tentang “self-control” (Marshmallow Experiment) yang menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan merupakan salah satu prediktor penting keberhasilan akademik dan sosial seseorang. Dengan demikian, tujuan utama pendidikan disiplin bukan menciptakan anak yang takut kepada hukuman, tetapi membentuk individu yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

 

Namun demikian, Edward Deci dan Richard Ryan (1985) melalui “Self-Determination Theory” mengingatkan bahwa disiplin yang hanya bertumpu pada kontrol eksternal berisiko menghasilkan kepatuhan semu. Anak mungkin patuh ketika diawasi, tetapi tidak memiliki motivasi intrinsik untuk berperilaku disiplin. Oleh sebab itu, pembinaan yang efektif harus memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu kompetensi, otonomi, dan keterhubungan sosial. 


Dalam perspektif Islam, disiplin merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11). Ayat ini menegaskan bahwa perubahan karakter berawal dari perubahan dalam diri, bukan semata-mata karena tekanan dari luar.

 

Pendekatan Ketarunaan


Lingkungan akademi militer dikenal memiliki budaya disiplin yang tinggi, kepemimpinan yang kuat, manajemen waktu yang ketat, kerja sama tim, serta tanggung jawab kolektif. Nilai-nilai tersebut memiliki potensi positif apabila diadaptasi secara proporsional ke dalam pendidikan karakter di sekolah. 


Bahkan, dalam berbagai kajian psikologi organisasi, budaya yang konsisten terhadap aturan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan ketahanan mental individu. Namun demikian, psikologi perkembangan mengingatkan bahwa peserta didik sekolah masih berada pada fase pertumbuhan emosional dan sosial. 


Erik Erikson (1968) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan tahap pembentukan identitas (identity versus role confusion). Pada fase ini, pembinaan karakter harus dilakukan melalui pendampingan, dialog, keteladanan, dan pemberian makna terhadap aturan, bukan melalui intimidasi ataupun tekanan yang dapat merusak harga diri.

 

Demikian pula Lawrence Kohlberg (1984) menjelaskan bahwa perkembangan moral berlangsung secara bertahap. Kepatuhan yang lahir hanya karena rasa takut berada pada tingkat moral yang paling rendah. Pendidikan yang baik seharusnya mengantarkan peserta didik menuju kesadaran moral yang lahir dari pemahaman akan nilai kebaikan dan tanggung jawab. 


Karena itu, apabila nilai-nilai ketarunaan hendak diterapkan di sekolah, yang perlu diadopsi adalah semangat disiplin, kepemimpinan, nasionalisme, kerja sama, dan ketangguhan mental, bukan pola kekerasan ataupun pendekatan yang mengabaikan hak-hak anak. 


Sekolah tetap harus menjadi ruang belajar yang aman secara fisik maupun psikologis. Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2). Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya." (HR. Al-Baihaqi). 


Nilai ihsan dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kedisiplinan merupakan bagian dari profesionalisme dan tanggung jawab, bukan identik dengan kekerasan.

 

Wacana pembinaan disiplin siswa melalui inspirasi ketarunaan perlu dipahami secara objektif dan ilmiah. Psikologi terapan menunjukkan bahwa disiplin merupakan unsur penting dalam pembentukan karakter, tetapi efektivitasnya sangat ditentukan oleh metode yang digunakan. Pendekatan yang menumbuhkan keteladanan, pengendalian diri, motivasi intrinsik, dan penghargaan terhadap martabat peserta didik akan menghasilkan karakter yang lebih kuat dibandingkan disiplin yang hanya bertumpu pada hukuman dan rasa takut. 


Oleh karena itu, apabila nilai-nilai yang berkembang di lingkungan Taruna Akmil hendak diadopsi dalam dunia pendidikan, maka implementasinya harus disesuaikan dengan prinsip psikologi perkembangan, hak-hak anak, serta tujuan pendidikan nasional.


Disiplin yang dibangun melalui keteladanan, empati, tanggung jawab, dan pembiasaan akan melahirkan generasi yang tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga memiliki integritas, kepemimpinan, dan kematangan moral.

Sebagaimana firman Allah SWT: 

"Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam."

(QS. Al-Isra' [17]: 70).


Kemuliaan manusia merupakan fondasi utama pendidikan. Karena itu, setiap ikhtiar membangun disiplin harus tetap menjaga martabat peserta didik sebagai manusia yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Disiplin yang berlandaskan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan akan lebih mampu membentuk karakter yang kokoh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. (***)

LIPSUS