-->
Cari Berita

Breaking News

81 Tahun Republik Indonesia: Antara Transisi Generasi dan Revolusi Industrialisasi Teknologi

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Kamis, 13 Agustus 2026



Oleh: Muhammad Yusuf Kurniawan -Ketua PKC PMII Lampung


Delapan puluh satu tahun Republik Indonesia bukan sekadar perjalanan waktu. Ia adalah kesempatan untuk mengukur kembali makna kemerdekaan di tengah perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat.


Generasi 1945 mewariskan sebuah republik kepada generasi setelahnya. Mereka berjuang membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan membangun fondasi negara. Namun, generasi hari ini menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda. Medan perjuangan tidak lagi semata-mata berada di medan perang, melainkan juga di ruang-ruang pendidikan, pusat riset, kawasan industri, ekosistem digital, dan arena kompetisi teknologi global.


Karena itu, setelah 81 tahun merdeka, pertanyaan Indonesia tidak boleh berhenti pada seberapa lama kita telah merdeka, tetapi harus bergerak pada pertanyaan yang lebih substantif: seberapa berdaulat Indonesia dalam menentukan masa depannya sendiri?


Kedaulatan pada abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer dan politik. Ia juga ditentukan oleh kemampuan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, industri, energi, pangan, data, dan sumber daya manusia. Di sinilah Indonesia menghadapi tantangan besar.


Generasi yang Berubah, Dunia pun Berubah


Indonesia sedang berada dalam fase transisi generasi yang sangat menentukan. Generasi muda semakin menjadi kekuatan utama dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.


Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus ekonomi. Jumlah penduduk usia produktif yang besar hanya akan menjadi kekuatan apabila negara mampu mengubahnya menjadi produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan.


Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, melalui pendekatan capability menekankan bahwa pembangunan seharusnya tidak semata-mata diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui perluasan kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga.


Gagasan tersebut relevan bagi Indonesia. Pembangunan tidak cukup hanya menghasilkan jalan, gedung, kawasan industri, atau pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.


Karena itu, pendidikan, kesehatan, keterampilan, pekerjaan layak, dan kesempatan berinovasi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.


Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka berhadapan dengan kecerdasan buatan, otomatisasi, big data, robotika, ekonomi digital, dan perubahan pola kerja.


Pekerjaan masa depan tidak selalu sama dengan pekerjaan hari ini. Maka, persoalan pendidikan Indonesia juga harus berubah.


Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan. Pendidikan harus mencetak manusia yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, menciptakan inovasi, dan bekerja bersama teknologi.


Revolusi Industri dan Pertarungan Penguasaan Teknologi


Klaus Schwab memperkenalkan konsep Fourth Industrial Revolution untuk menggambarkan perubahan besar yang terjadi akibat pertemuan teknologi digital, fisik, dan biologis.


Kecerdasan buatan, Internet of Things, robotika, bioteknologi, komputasi awan, dan teknologi digital telah mengubah cara manusia bekerja dan berproduksi. Perubahan tersebut sekaligus mengubah peta kekuatan ekonomi dunia.


Dulu, kekuatan ekonomi terutama ditentukan oleh kemampuan menguasai tanah, sumber daya alam, modal, dan tenaga kerja. Kini, penguasaan teknologi dan pengetahuan menjadi faktor yang semakin menentukan. Negara yang menguasai teknologi memiliki kemampuan lebih besar untuk mengendalikan rantai nilai global.


Sebaliknya, negara yang hanya menjadi konsumen teknologi berisiko terjebak sebagai pasar. Indonesia tidak boleh mengambil posisi kedua.


Kita memiliki sumber daya alam yang besar, pasar domestik yang luas, jumlah penduduk yang besar, serta posisi geografis yang strategis. Namun, semua itu belum cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan mengolahnya menjadi nilai tambah.


Kekayaan alam harus menjadi fondasi industrialisasi, bukan sekadar komoditas untuk diekspor.


Hilirisasi Tidak Boleh Berhenti pada Pengolahan


Hilirisasi telah menjadi salah satu agenda penting pembangunan ekonomi Indonesia. Namun, hilirisasi harus dipahami lebih jauh daripada sekadar membangun fasilitas pengolahan bahan mentah.


Hilirisasi yang strategis harus menghasilkan nilai tambah, transfer teknologi, peningkatan produktivitas, riset, dan penguatan industri nasional.


Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, dalam berbagai kajiannya mengenai pembangunan dan ketimpangan menekankan pentingnya peran institusi dan kebijakan publik dalam menciptakan pertumbuhan yang inklusif.


Dalam konteks Indonesia, negara memiliki peran penting untuk memastikan industrialisasi tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi bagi segelintir pelaku, tetapi juga menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas industri nasional, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.


Hilirisasi harus menghubungkan sumber daya alam dengan perguruan tinggi, lembaga riset, industri, pembiayaan, dan tenaga kerja. Dengan kata lain, Indonesia tidak cukup hanya mengolah bahan mentah.


Indonesia harus mampu menguasai pengetahuan dan teknologi yang berada di balik proses pengolahan tersebut. Di situlah letak perbedaan antara sekadar industrialisasi dan industrialisasi yang berdaulat.


AI: Ancaman atau Kesempatan?


Kecerdasan buatan menjadi salah satu teknologi yang paling cepat mengubah dunia kerja.


Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bahwa perubahan teknologi, termasuk AI dan otomatisasi, akan mendorong perubahan besar terhadap jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan. Sebagian pekerjaan akan berkurang. Sebagian lainnya akan muncul.


Karena itu, Indonesia tidak seharusnya hanya takut terhadap AI. Yang lebih penting adalah mempersiapkan masyarakat agar mampu beradaptasi. AI harus dipandang sebagai instrumen peningkatan produktivitas.


Di sektor pertanian, AI dan teknologi digital dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi. Di sektor industri, otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas.


Di sektor pendidikan, teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan. Di sektor pemerintahan, teknologi dapat meningkatkan efisiensi pelayanan publik.


Tetapi seluruh peluang tersebut membutuhkan satu prasyarat: manusia Indonesia harus memiliki kapasitas untuk menguasainya. Di sinilah pendidikan menjadi sangat penting.


Indonesia tidak boleh hanya melahirkan generasi yang mahir menggunakan aplikasi. Kita harus melahirkan generasi yang memahami bagaimana teknologi bekerja, mampu menciptakannya, dan memiliki kemampuan etis untuk menggunakannya.


Jangan Hanya Menjadi Pasar


Salah satu persoalan strategis Indonesia dalam menghadapi revolusi teknologi adalah ketergantungan.


Kita menggunakan perangkat teknologi, platform digital, sistem komputasi, dan berbagai produk berbasis teknologi yang sebagian besar dikembangkan di luar negeri. Situasi tersebut bukan persoalan apabila Indonesia juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi sendiri.


Masalah muncul ketika ketergantungan menjadi permanen. Negara yang hanya menjadi konsumen teknologi akan memiliki posisi tawar yang lebih lemah dibandingkan negara yang menguasai teknologi.


Karena itu, agenda pembangunan Indonesia harus mulai memandang kedaulatan teknologi sebagai bagian dari kedaulatan nasional. Pengembangan semikonduktor, kecerdasan buatan, keamanan siber, energi, bioteknologi, teknologi pangan, dan teknologi industri harus menjadi bagian dari agenda strategis negara.


Kita membutuhkan investasi besar dalam riset dan pengembangan. Kita membutuhkan perguruan tinggi yang tidak hanya mengejar publikasi, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat digunakan masyarakat dan industri.


Kita membutuhkan industri yang mau berinvestasi dalam penelitian. Dan kita membutuhkan negara yang berani memberikan ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen dan menciptakan sesuatu yang baru.


Dari Konsumen Menjadi Produsen


Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa pada era ekonomi berbasis pengetahuan, pengetahuan menjadi sumber daya ekonomi yang sangat penting.


Pesannya relevan bagi Indonesia: kekayaan masa depan tidak hanya berada di bawah tanah, tetapi juga berada di dalam kepala manusia. Karena itu, investasi terbesar Indonesia harus diarahkan kepada manusia.


Kita harus mengubah orientasi pendidikan dari sekadar degree-oriented menuju competency-oriented. Lulusan perguruan tinggi harus memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman.


Pendidikan vokasi harus terhubung dengan kebutuhan industri. Perguruan tinggi harus terhubung dengan pusat riset. Industri harus terhubung dengan inovasi.


Dan pemerintah harus menjadi penghubung antara seluruh ekosistem tersebut. Jika tidak, bonus demografi dapat berubah menjadi beban demografi.


Generasi muda yang besar tetapi tidak memiliki keterampilan dan kesempatan kerja justru dapat menjadi sumber persoalan sosial baru. Sebaliknya, generasi muda yang berkualitas dapat menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi.


Lampung dan Tantangan Industrialisasi


Sebagai bagian dari Indonesia, Lampung juga harus mengambil posisi dalam perubahan tersebut. Lampung memiliki basis ekonomi yang kuat di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, dan industri pangan.


Namun, tantangannya adalah bagaimana mengubah keunggulan komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif. Komoditas pertanian tidak cukup hanya dijual sebagai bahan mentah.


Kopi, singkong, jagung, kelapa, tebu, hasil perikanan, dan berbagai komoditas lainnya harus didorong menuju pengolahan dan produk bernilai tambah. Generasi muda Lampung harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut.


Perguruan tinggi harus menjadi pusat riset. Pelaku UMKM harus mendapatkan akses teknologi. Petani harus mendapatkan akses inovasi. Industri harus didorong membangun rantai pasok lokal.


Pemerintah daerah harus menjadi fasilitator. Dengan demikian, Lampung tidak hanya menjadi daerah pemasok bahan baku, tetapi menjadi salah satu pusat ekonomi berbasis agroindustri dan teknologi di Indonesia.


PMII dan Tanggung Jawab Generasi


Dalam situasi tersebut, organisasi mahasiswa seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. PMII tidak boleh hanya menjadi ruang kaderisasi yang menghasilkan aktivis dengan kemampuan berorganisasi. PMII harus menjadi ruang lahirnya generasi yang mampu membaca perubahan zaman sekaligus memahami persoalan rakyat.


Kader PMII harus memiliki kemampuan intelektual untuk memahami ekonomi, teknologi, politik, lingkungan, industri, dan geopolitik. Kaderisasi tidak boleh berhenti pada diskusi tentang masa lalu.


Kita harus mulai membicarakan AI, energi, pangan, industri, perubahan iklim, ekonomi digital, keamanan siber, teknologi pertanian, dan masa depan pekerjaan. Sebab, persoalan bangsa pada dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai politik, tetapi juga oleh siapa yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, data, energi, pangan, dan industri.


PMII harus berada di depan perubahan itu. Bukan sekadar menjadi penonton.


Kemerdekaan yang Harus Dipertahankan


Nelson Mandela pernah menegaskan pentingnya pendidikan sebagai instrumen perubahan dunia. Gagasan tersebut menjadi sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Jika generasi terdahulu menggunakan pendidikan sebagai jalan menuju kesadaran kebangsaan, generasi sekarang harus menggunakan pendidikan dan teknologi sebagai jalan menuju kedaulatan.


Kemerdekaan politik harus dilanjutkan dengan kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi harus diperkuat dengan industrialisasi.


Industrialisasi harus ditopang oleh teknologi. Dan teknologi harus dikendalikan oleh manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, serta orientasi kebangsaan.


Di sinilah makna kemerdekaan menjadi semakin kompleks. Kita mungkin telah merdeka secara politik, tetapi perjuangan menuju kedaulatan ekonomi dan teknologi belum selesai.


Jika bahan mentah kita masih bergantung pada pasar luar negeri, jika teknologi strategis masih sepenuhnya bergantung pada pihak lain, jika riset nasional belum menjadi kekuatan industri, dan jika generasi muda belum memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang, maka pekerjaan rumah kemerdekaan masih panjang.


Generasi Penerus atau Generasi Penentu?


Pada usia 81 tahun, Indonesia harus berani melakukan lompatan. Kita tidak boleh selamanya menjadi bangsa yang hanya memiliki potensi.


Potensi sumber daya alam harus menjadi industri. Potensi demografi harus menjadi produktivitas.


Potensi generasi muda harus menjadi inovasi. Potensi digital harus menjadi ekonomi. Dan potensi ilmu pengetahuan harus menjadi kedaulatan.


Generasi 1945 telah memberikan kita republik. Tugas generasi hari ini adalah memastikan republik tersebut mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain dalam kompetisi abad ke-21.


Jika generasi terdahulu berjuang melawan kolonialisme, maka generasi sekarang harus melawan ketergantungan.


Jika generasi terdahulu merebut kemerdekaan politik, maka generasi sekarang harus memperjuangkan kedaulatan ekonomi dan teknologi. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata dan diplomasi, maka perjuangan hari ini membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, integritas, dan keberanian untuk menciptakan masa depan.


Karena itu, 81 tahun Republik Indonesia harus menjadi momentum perubahan orientasi. Dari konsumen menjadi produsen.


Dari eksportir bahan mentah menjadi penghasil produk bernilai tambah. Dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.


Dari objek perubahan menjadi subjek perubahan. Dan dari sekadar pewaris kemerdekaan menjadi penentu masa depan kemerdekaan.


Pertanyaan kita hari ini bukan lagi sekadar: “Apakah Indonesia sudah merdeka?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah Indonesia telah cukup berdaulat untuk menentukan masa depannya sendiri?”


Jawaban atas pertanyaan itu akan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Maka, 81 tahun Republik Indonesia harus menjadi momentum untuk memperkuat manusia, mempercepat industrialisasi, menguasai teknologi, memperkuat riset, dan memastikan seluruh kemajuan ekonomi bermuara pada kesejahteraan rakyat.


Sebab kemerdekaan bukan warisan yang cukup dirayakan. Kemerdekaan adalah tanggung jawab yang harus terus diperjuangkan.


Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.


Merdeka bangsanya.

Berdaulat ekonominya.

Menguasai teknologinya.

Kuat industrinya.

Sejahtera rakyatnya. (***)

LIPSUS