Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
Buku ajar bukan sekadar kumpulan materi pelajaran. Bagi siswa, buku merupakan lingkungan belajar yang berinteraksi langsung dengan perhatian, persepsi, emosi, motivasi, dan proses berpikir. Karena itu, kualitas buku seharusnya tidak hanya dinilai dari kebenaran isi, tetapi juga dari bagaimana materi tersebut disajikan agar mudah dilihat, dibaca, dipahami, dan menarik untuk dipelajari.
Persoalan ini semakin penting ketika Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap pembaruan buku ajar nasional. Pemerintah menyampaikan bahwa pembaruan buku ajar menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut perspektif psikologi pendidikan, desain buku memiliki konsekuensi terhadap proses belajar. Cognitive Load Theory yang dikembangkan oleh John Sweller dan kemudian diperluas bersama Paul Ayres dan Slava Kalyuga menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Karena itu, informasi yang disajikan secara tidak teratur dapat menambah beban kognitif yang tidak diperlukan.
Temuan Thammabut dan Wonganu (2024) memperkuat pentingnya prinsip tersebut. Mereka menjelaskan bahwa penempatan teks, gambar, dan berbagai bentuk informasi yang tidak tepat dapat menimbulkan split-attention effect, yaitu kondisi ketika perhatian siswa harus berpindah-pindah untuk mengintegrasikan informasi yang sebenarnya dapat disajikan secara lebih terpadu. Buku yang terlalu padat, hurufnya sulit dibaca, ilustrasinya tidak relevan, atau tata letaknya tidak teratur akhirnya dapat membuat siswa mengalami kelelahan kognitif.
Sebaliknya, desain yang sederhana, konsisten, dan sesuai perkembangan siswa dapat membantu mengarahkan perhatian kepada materi yang penting. Dengan demikian, buku yang baik harus ramah terhadap cara kerja pikiran siswa.
Desain Visual, Perhatian, dan Pemahaman
Salah satu aspek penting dalam desain buku adalah penggunaan unsur visual. Gambar, diagram, tabel, warna, ikon, dan tata letak dapat membantu siswa memahami materi apabila digunakan secara tepat. Hal tersebut dapat dijelaskan melalui “Dual Coding Theory” yang dikembangkan Allan Paivio dan terus menjadi dasar penting dalam penelitian pembelajaran berbasis teks dan visual.
Prinsip utamanya adalah informasi dapat diproses melalui representasi verbal dan nonverbal. Ketika keduanya saling melengkapi, siswa memiliki lebih banyak jalur untuk membangun pemahaman.
Penelitian Singh, Zouhar, dan Sachan (2023) menunjukkan bahwa visual yang bersifat eksplanatif dan ilustratif dalam buku teks memiliki peran dalam retensi, pemahaman, dan transfer pengetahuan. Namun, penggunaan gambar bukan berarti semakin banyak gambar semakin baik. Visual yang tidak berhubungan dengan materi justru dapat menjadi distraksi.
Bancilhon dkk. (2023), melalui perspektif beban kognitif, menunjukkan bahwa visualisasi tertentu dapat membantu mengurangi tuntutan kognitif, terutama ketika informasi visual benar-benar membantu memahami informasi yang kompleks.
Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bagi penyusun buku ajar Indonesia: gambar harus memiliki fungsi pedagogis, bukan sekadar fungsi dekoratif. Penelitian Riansih, Arsyad, dan Adnan (2025) pada buku teks bahasa Inggris SMA di Indonesia juga menemukan bahwa unsur multimodal seperti gambar, warna, dan tata letak dapat membantu pemahaman, mengurangi kebosanan, serta meningkatkan keterlibatan emosional siswa.
Siswa juga menilai tata letak multimodal lebih menarik dan lebih mudah diikuti. Artinya, desain visual dapat menjadi jembatan antara perhatian dan pemahaman. Buku yang ramah mata membantu siswa menemukan informasi. Buku yang terstruktur membantu siswa menghubungkan informasi. Buku yang visualnya bermakna membantu siswa membangun pemahaman.
Desain Buku, Motivasi, Minat Membaca, dan Keterlibatan
Masalah berikutnya adalah motivasi. Buku yang sulit dibaca dapat membuat siswa enggan membuka halaman berikutnya. Sebaliknya, buku yang memberikan pengalaman membaca yang nyaman dapat menjadi stimulus awal untuk mempertahankan keterlibatan. Hal ini dapat dianalisis melalui “Self-Determination Theory (SDT)” yang dikembangkan Edward L. Deci dan Richard M. Ryan.
Dalam perspektif ini, motivasi belajar berkaitan dengan terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu autonomy, competence, dan relatedness. Ryan dan Deci (2020) menegaskan bahwa lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan psikologis tersebut dapat mendorong motivasi yang lebih berkualitas.
Penelitian Li, Peng, Yang, dan Chen (2020) juga menunjukkan hubungan antara motivasi belajar berbasis SDT dan hasil belajar siswa.
Pada konteks buku ajar, kebutuhan kompetensi dapat didukung melalui penyajian materi yang bertahap. Siswa perlu merasakan bahwa mereka mampu memahami satu konsep sebelum bergerak menuju konsep berikutnya. Kebutuhan autonomy dapat didukung melalui pertanyaan reflektif, pilihan aktivitas, tugas eksploratif, dan kesempatan menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi.
Kebutuhan relatedness dapat dibangun melalui contoh kehidupan sosial, keluarga, budaya, dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa. Howard dkk. (2021) melalui meta-analisis tentang motivasi siswa berbasis “Self-Determination Theory” menunjukkan bahwa berbagai bentuk motivasi berkaitan dengan konsekuensi pendidikan yang berbeda dan bahwa kualitas motivasi memiliki arti penting bagi pengalaman belajar siswa.
Pada konteks membaca, Grabe dan Yamashita (2022) juga menegaskan bahwa motivasi positif dapat mendukung perkembangan membaca melalui peningkatan jumlah membaca, penggunaan strategi membaca, dan keterlibatan dalam proses memahami bacaan. Dengan demikian, desain buku dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari lingkungan psikologis yang mendukung motivasi. Rangkaian prosesnya dapat digambarkan sederhana yaitu buku dengan desain yang nyaman membuat perhatian siswa terarah sehingga pemahaman siswa meningkat dan pengalaman belajar berhasil, menumbuhkan motivasi dan minat membaca akan meningkat serta keterlibatan belajar siswa akan semakin kuat.
Buku yang menarik, karena itu, bukan buku yang paling ramai. Buku yang menarik adalah buku yang mampu membuat siswa ingin membaca, mampu memahami, dan terdorong untuk melanjutkan belajar.
Buku Ramah Mata, Pikiran, dan Hati
Pembaruan buku ajar nasional perlu menjadikan psikologi terapan sebagai salah satu pijakan. Buku yang berkualitas setidaknya perlu memenuhi beberapa prinsip.
Pertama; ramah secara visual. Ukuran huruf, jarak antarbaris, panjang paragraf, kontras warna, dan tata letak harus disesuaikan dengan usia perkembangan siswa.
Kedua; ramah secara kognitif. Informasi harus disusun secara bertahap dan tidak membebani memori kerja dengan informasi yang tidak diperlukan. Ketiga; ramah secara motivasional.
Buku perlu menyediakan pengalaman keberhasilan, pertanyaan pemantik, aktivitas bermakna, dan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Keempat; ramah secara budaya. Buku nasional perlu menghadirkan keragaman kehidupan Indonesia sehingga siswa dapat menemukan dirinya, lingkungan, dan budayanya dalam materi pembelajaran.
Kelima; ramah secara inklusif. Desain buku perlu mempertimbangkan keberagaman kemampuan membaca dan karakteristik peserta didik. Keenam, ramah terhadap perkembangan teknologi. Buku cetak dapat diperkaya dengan pendekatan multimodal dan sumber digital secara terarah, tetapi tidak boleh membuat siswa kehilangan fokus pada aktivitas membaca dan berpikir.
Prinsip tersebut sejalan dengan temuan penelitian terbaru mengenai buku dan pembelajaran multimodal. Riansih dkk. (2025) menemukan bahwa kombinasi teks dan unsur visual dalam buku teks Indonesia dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa.
Penelitian terbaru tentang pembacaan buku teks yang diperkaya visual juga mengingatkan bahwa dukungan tambahan yang terlalu banyak dapat mengalihkan perhatian siswa dari tugas membaca. Karena itu, desain harus menemukan keseimbangan antara daya tarik dan fokus.
Menurut perspektif Islam, pentingnya membaca memperoleh landasan yang sangat kuat. Allah SWT Berfirman: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-'Alaq: 1). Ayat tersebut menunjukkan bahwa membaca memiliki posisi fundamental dalam tradisi keilmuan Islam.
Membaca bukan hanya aktivitas mengenali tulisan, tetapi jalan menuju pengetahuan dan kesadaran tentang kebesaran Allah. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.”. (HR. Bukhari). Hadis tersebut memberikan pesan bahwa belajar dan mengajarkan pengetahuan merupakan aktivitas yang memiliki nilai luhur.
Karena itu, menghadirkan buku yang membuat anak nyaman membaca dan terdorong untuk belajar merupakan bagian penting dari membangun budaya ilmu.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa pembaruan buku ajar Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “Apakah isinya sudah benar?” Pertanyaan berikutnya harus lebih luas: “Apakah siswa nyaman membacanya? Apakah mereka mudah memahaminya? Apakah desainnya mampu mempertahankan perhatian? Apakah buku tersebut membuat mereka ingin terus belajar?”.
Buku yang ramah mata membantu siswa melihat. Buku yang ramah pikiran membantu siswa memahami. Buku yang ramah motivasi membuat siswa ingin terus belajar. Dan buku yang ramah hati dapat menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Karena itu, kualitas buku ajar bukan semata-mata persoalan percetakan dan desain grafis.
Ia merupakan bagian dari intervensi psikologi pendidikan. Ketika isi yang bermutu dipadukan dengan desain yang sesuai dengan cara kerja pikiran siswa, buku dapat berubah dari sekadar sumber informasi menjadi lingkungan belajar yang membangun perhatian, minat membaca, motivasi, pemahaman, dan keterlibatan belajar.
Inilah saatnya Indonesia tidak hanya membangun buku yang lebih bagus, tetapi membangun buku yang lebih manusiawi bagi proses belajar. (***)

