Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat
Jika ditanya apa yang paling identik dari bulan Rabiul Awal, jawabannya pasti satu: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Saking lekatnya, masyarakat Indonesia sering menyebut bulan Rabiul Awal sebagai "Bulan Maulid" atau "Bulan Maulud".
Di tahun 2026 ini, 1 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan perkiraan Ahad, 16 Agustus 2026. Artinya, sepanjang bulan ini masjid, mushola, sekolah, kantor, hingga beranda media sosial kita akan kembali dipenuhi shalawat, pengajian, dan cerita tentang Rasulullah.
1. Sejarah dan Makna Maulid: Dari Cinta Menjadi Aksi.
Walaupun Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal tahun 570 M di Makkah, tradisi Maulid tidak terpaku pada satu tanggal. Para pecinta Nabi memperingatinya sepanjang bulan, bahkan ada yang menjadikannya agenda sepanjang tahun.
Mengapa? Karena inti Maulid bukan sekadar seremonial. Seperti disampaikan Prof. Quraish Shihab, perayaan Maulid secara meriah mulai marak di era Dinasti Abbasiyah pada masa Khalifah Al-Hakim Billah. Tujuannya satu: mengenalkan Nabi kepada setiap generasi. Karena kenal adalah pintu untuk mencintai.
KH Said Aqil Siroj juga menjelaskan bahwa Maulid termasuk sunnah taqririyah, sesuatu yang tidak dilakukan langsung oleh Nabi tapi dibenarkan. Buktinya, saat sahabat Ka’ab bin Zuhair memuji Nabi dengan syair panjang, Rasulullah tidak melarang. Beliau justru menghadiahkan Burdah-nya, selimut bergaris yang kini diabadikan di Museum Topkapi, Istanbul. Dari sinilah lahir Qasidatul Burdah yang sampai sekarang masih kita lantunkan.
2. Dalil Bergembira atas Kelahiran Nabi.
Merayakan Maulid juga punya dasar. Nabi sendiri memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa setiap Senin. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab: "Karena di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku menerima wahyu pertama."
Al-Qur’an juga memerintahkan kita bergembira atas rahmat Allah.
"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira" (QS. Yunus: 58).
Para ulama seperti Sayyid Muhammad Al-Maliki menafsirkan "rahmat" dalam ayat ini sebagai Nabi Muhammad SAW.
Bahkan dalam Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar diceritakan, Abu Lahab yang kafir pun mendapat keringanan siksa setiap Senin karena gembira atas kelahiran keponakannya, Rasulullah. Jika orang kafir saja dapat manfaatnya, bagaimana dengan kita yang beriman?
3. Tradisi Maulid Nusantara 2026: Dari Offline ke Online.
Kemajemukan bangsa kita melahirkan wajah Maulid yang unik:
- Madura: Tradisi Muludhen dengan gunungan makanan
- Minang: Bungo Lado atau nasi tumpeng berwarna
- Kudus: Kirab Ampyang keliling kampung
- Yogyakarta/Solo: Grebeg Maulud di Keraton
Di era 2026 ini, tradisinya pun berevolusi. Selain pengajian, barzanji, lomba adzan, dan lomba shalawat di masjid, kita juga melihat:
1. Maulid Virtual:
Kajian live di TikTok, Instagram, dan YouTube bareng ustadz milenial.
2. Aksi Sosial #MaulidBerbagi:
Santunan, bagi-bagi makanan, sedekah online atas nama cinta Nabi.
3. Konten Dakwah Kreatif:
Video reels kisah sirah, shalawat cover, dan meme dakwah yang viral.
Ini bukti bahwa cinta kepada Nabi tidak lekang oleh zaman. Medianya boleh berubah, tapi pesannya tetap sama.
Maulid Bukan Sekadar Kenangan
Maulid mengingatkan kita bahwa Islam datang membawa rahmat. Di tengah tantangan zaman sekarang — hoaks, perpecahan, dan krisis empati — meneladani akhlak Nabi adalah jawaban paling relevan.
Mari kita jadikan bulan ini bukan hanya bulan membaca sirah, tapi juga bulan mengamalkan sirah. Mulai dari hal kecil: jujur, peduli sesama, dan menebar kedamaian seperti yang dicontohkan Rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam bishawab. (***)

