-->
Cari Berita

Breaking News

Memaknai 81 Tahun Kemerdekaan RI

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 14 Agustus 2026

Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis Tinggal di Lampung Barat 

ilustrasi 

Beberapa hari lagi bangsa kita bersiap memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Angka 81 jika dijumlahkan (8 + 1) menghasilkan angka 9. Bagi kita, angka 9 memiliki resonansi spiritual yang mendalam, mengingatkan kita pada Wali Songo—para ulama yang meletakkan fondasi dakwah Islam secara damai dan menjaga tanah air ini dengan kesalehan sosial.
Oleh karena itu, hari ini mengingatkan: kemerdekaan bukan sekadar urusan seremonial, melainkan amanah teologis yang wajib disyukuri dan dijaga. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'."

Menolak penjajahan dan merebut kemerdekaan adalah perintah agama. Islam menegaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka (al-hurriyyah). Sahabat Nabi, Rib’i bin 'Amir r.a., pernah mendeklarasikan misi Islam di hadapan panglima perang Persia dengan kalimat historis:
"Allah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam."

Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia diraih lewat jalinan erat antara perjuangan fisik, diplomasi politik, dan ketukan pintu langit melalui doa para ulama. Kita tidak boleh melupakan fakta sejarah yang utuh. Teks Proklamasi dirumuskan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Di sana, para tokoh bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo begadang menyusun kalimat demi kalimat yang membebaskan bangsa ini dari belenggu kolonial.
Proses krusial tersebut juga tidak luput dari peran tokoh-tokoh pergerakan Islam dan pemuda seperti Sukarni, Sayuti Melik, hingga ulama-ulama pesantren yang jauh sebelum proklamasi dikumandangkan di Pegangsaan Timur No. 56, telah memfatwakan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman).
Bahkan, saat kemerdekaan yang masih bayi diancam oleh kembalinya tentara Sekutu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bersama para kiai mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya adalah Fardhu ‘Ain (wajib bagi setiap individu). Inilah spirit yang menggerakkan pertempuran dahsyat 10 November di Surabaya.

Memasuki usia ke-81 tahun, musuh kita hari ini bukan lagi tentara asing dengan bayonet di pucuk senapan. Musuh kita adalah amnesia sejarah, korupsi yang merajalela, kebodohan, serta kemiskinan yang belum tuntas. Jika kita membiarkan diri kita terjebak dalam keserakahan, mengabaikan hukum Allah, dan membiarkan keadilan diinjak-injak, maka kita sedang mengundang kehancuran bangsa kita sendiri.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Al-Baihaqi:
"Kezaliman dan memutus silaturahmi adalah dua dosa yang paling cepat mendatangkan hukuman di dunia, di samping siksaan yang Allah simpan untuk pelakunya di akhirat."

Sebagai implementasi dari angka 9—semangat kewalian dan penjaga bangsa. Maka ada 3 manifesto penting dari kita hari ini:

   1. Jaga NKRI dengan Transendensi (Iman): Isi kemerdekaan dengan meningkatkan kesalehan individu dan sosial. Jauhi kemaksiatan bangsa seperti korupsi dan judi online, karena kemakmuran suatu negeri bergantung pada ketakwaan penduduknya (QS. Al-A'raf: 96).
   2. Jaga NKRI dengan Rasionalitas (Ilmu): Didik anak-anak kita agar melek sejarah, kuasai teknologi, dan bentengi mereka dari paham radikalisme maupun liberalisme yang merusak moral.

   3. Jaga NKRI dengan Aksi Nyata (Keadilan): Saling tolong-menolong, jaga kelestarian alam lingkungan, dan penuhilah hak-hak fakir miskin di sekitar kita.

Semoga di usia ke-81 tahun ini, Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin bangsa kita agar amanah, adil, dan mencintai rakyatnya.

Semoga Allah SWT melimpahkan kedamaian, persatuan, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia tercinta ini. Negara yang aman, damai, adil, makmur, dan berdaulat di bawah ampunan dan rida Allah SWT. (***)

LIPSUS