-->
Cari Berita

Breaking News

Menjemput Berkah di Ampel Denta

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 29 Agustus 2026

Oleh: Junaidi Jamsari 

Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang spiritual mendalam bagi para delegasi. Bagi rombongan Muktamirin—khususnya delegasi dari Lampung—perjalanan ini disempurnakan dengan ziarah ke salah satu poros utama Islam di Nusantara: Makam Sunan Ampel di Surabaya. 

Ziarah ini bukan sekadar tradisi tanpa makna, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyambung kembali sanad perjuangan, keilmuan, dan dakwah membumi yang telah mengakar berabad-abad di tanah Jawa. 

Sang Arsitek Dakwah Islam Nusantara
Makam yang berada di Kompleks Masjid Ampel, Surabaya, ini adalah peraduan terakhir dari Raden Ahmad Rahmatullah. Lahir pada tahun 1401 M di Champa, Kamboja, beliau wafat pada tahun 1481 M dan meninggalkan warisan peradaban yang luar biasa. 
Di kalangan ulama dan sejarawan, Sunan Ampel dijuluki sebagai "Gurunya Para Wali". Ia adalah tokoh sentral penyebaran Islam di Nusantara yang menjadi magnet spiritual hingga hari ini. 

Setidaknya ada tiga rekam jejak emas Sunan Ampel yang mengubah lanskap sejarah Jawa: 

1. Pionir Pendidikan Pesantren: 
Pada tahun 1443 M, Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta. Ini adalah pesantren pertama dan terbesar di Jawa pada zamannya. Tempat ini memelopori sistem pendidikan Islam institusional yang melahirkan kader-kader dakwah tangguh.

2. Guru Besar Wali Songo:
Karomah dan kedalaman ilmu Sunan Ampel melahirkan murid-murid besar yang kemudian menjadi pilar Wali Songo. Di antaranya adalah Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Giri (Gresik), Sunan Kudus (Kudus), dan Sunan Kalijaga (Demak/Cirebon). 

Dapat dikatakan, mayoritas anggota Wali Songo adalah murid langsung atau penerus didikannya.

3. Falsafah "Moh Limo":
Sunan Ampel sangat cerdas dalam membangun strategi dakwah. Sunan Ampel merumuskan ajaran akhlak praktis bernama Moh Limo (Tidak Mau Lima Perkara): 
Yaitu Moh Main (Tidak berjudi). Moh Madon (Tidak berzina). Moh Madat (Tidak mengonsumsi narkoba/mabuk). Moh Maling (Tidak mencuri). Moh Madig (Tidak iri dengki).

Melalui pendekatan yang humanis, integrasi ekonomi lewat pasar dan pelabuhan, serta penekanan pada akhlakul karimah, Islam diterima dengan damai tanpa pertumpahan darah. 

Magnet Spiritual
Bagi para muktamirin yang datang dari berbagai penjuru tanah air, komplek makam ini menjadi destinasi wajib karena beberapa alasan strategis dan maknawi: 
1. Aksesibilitas yang Strategis:
Berada di jantung Kota Surabaya, komplek ini sangat mudah dijangkau dari pusat-pusat pergerakan NU lainnya. 
Perjalanan dari Jombang hanya memakan waktu sekitar 2 jam, sedangkan dari Bangkalan via Jembatan Suramadu hanya butuh waktu 1 jam. Kemudahan transportasi ini sangat membantu rombongan delegasi yang memiliki jadwal padat.

2. Denyut Nadi Ekonomi dan Budaya yang Hidup:
Komplek Ampel bukan sekadar situs pemakaman kuno. Di sini, masjid kuno, pesantren, perkampungan santri, dan pasar tradisional berbaur membentuk ekosistem yang hidup 24 jam. 

Muktamirin dapat beribadah sekaligus berinteraksi langsung dengan kebudayaan lokal dan berbelanja oleh-oleh khas.

3. Menyambung Sanad Dakwah NU:
Nahdlatul Ulama secara kultural dan ideologis merupakan penerus langsung dari dakwah Wali Songo—yakni Islam yang toleran, berakhlak, dan membumi. 
Jauh sebelum NU berdiri, para pendiri seperti KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Chasbullah kerap berziarah ke sini untuk memohon petunjuk dan keberkahan.

Segitiga Barokah Muktamar 35
Bagi delegasi Lampung, ziarah ke Sunan Ampel menggenapkan sebuah peta perjalanan spiritual dan intelektual yang utuh. Seperti yang diungkapkan salah satu Muktamirin asal Lampung, perjalanan muktamar ini melintasi tiga titik keramat yang saling bertautan: Jombang, Bangkalan, dan Surabaya. 

"Dari Jombang kita belajar berorganisasi dengan Mbah Wahab. Dari Bangkalan kita belajar keilmuan dengan Mbah Kholil. Di Surabaya kita belajar dakwah membumi dengan Sunan Ampel," ujarnya. 

Tiga titik ini membentuk Segitiga Barokah Muktamar 35: 

1. Jombang (Organisasi): Belajar menata barisan dan mengelola perkumpulan demi kemaslahatan umat.
2. Bangkalan (Keilmuan): Merujuk pada kedalaman sanad keilmuan pesantren yang kokoh.
3. Surabaya (Dakwah): Mengaplikasikan ilmu dan organisasi dalam dakwah nyata di akar rumput yang menyentuh hati masyarakat.

Rantai ziarah ini menutup perjalanan muktamar dengan sempurna. Dari Syaikhona Kholil (Gurunya para Kiai), bergerak ke KH. Wahab Chasbullah (Pendiri NU), dan bermuara ke Sunan Ampel (Gurunya para Wali). 
Melalui ziarah ini, ruh perjuangan dari madrasah ke lembaga, hingga ke dakwah akar rumput berhasil diserap dengan baik. Inilah bekal berharga, sebuah api semangat yang siap dibawa pulang oleh delegasi Lampung untuk dihidupkan kembali di daerah asal. 

Al-Fatihah untuk Sunan Ampel. Sang arsitek dakwah yang mengislamkan Jawa dengan kelembutan akhlak.


*  Surabaya, 29 Agustus 2026.
** Penulis Muktamirin Asal Lampung 

LIPSUS