Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA | Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga perlu dimaknai sebagai kesempatan bagi setiap warga negara untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Di balik perayaan kemerdekaan, terdapat jutaan pekerja yang setiap hari berjuang melalui pekerjaan sederhana untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Buruh pengupas bawang merupakan salah satu kelompok tersebut. Pekerjaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketekunan, ketelitian, waktu, dan daya tahan fisik. Setiap hari mereka bekerja dengan harapan memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, dan masa depan keluarga.
Persoalannya, pekerjaan dengan upah harian sering kali belum memberikan ruang yang cukup bagi mobilitas sosial. Karena itu, buruh pengupas bawang perlu dilihat bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki potensi untuk berkembang. Psikologi terapan dapat memberikan perspektif penting melalui konsep empowerment, growth mindset, self-efficacy, motivasi berprestasi, hope theory, dan resiliensi. Perspektif tersebut menggeser pertanyaan dari “mengapa mereka miskin?” menjadi “bagaimana kapasitas mereka dapat diperkuat agar memiliki peluang meningkatkan kehidupannya?”.
Al-Qur'an memberikan landasan yang kuat: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39). Ayat tersebut menegaskan pentingnya ikhtiar. Dalam konteks sosial, ikhtiar individu perlu didukung oleh lingkungan yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan dan memperoleh kesempatan. Data BPS Februari 2026 menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, sekitar 42,49 juta orang atau 28,78% dari penduduk bekerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerja berbasis sektor primer dan pekerjaan informal tetap memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi Indonesia.
Pekerja Menjadi Subjek Pemberdayaan
Buruh pengupas bawang tidak berdiri sendiri. Mereka berada dalam kelompok besar pekerja yang menghadapi tantangan berbeda tetapi memiliki kebutuhan psikologis yang serupa yaitu rasa aman, penghargaan, kesempatan berkembang, dan harapan. Secara umum kesejahteraan pekerja tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta mereka bekerja lebih keras. Kerja keras membutuhkan ekosistem yang mendukung. Di sinilah konsep psychological empowerment menjadi penting. Pemberdayaan berarti membantu individu memperoleh kemampuan untuk memahami kondisi dirinya, mengambil keputusan, mengakses sumber daya, serta memiliki kontrol yang lebih besar terhadap kehidupan.
Bandura melalui teori self-efficacy menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya memengaruhi pilihan, usaha, ketekunan, dan respons ketika menghadapi kesulitan. Dalam konteks buruh pengupas bawang, self-efficacy dapat dikembangkan melalui pengalaman keberhasilan kecil, pelatihan, dukungan sosial, dan kesempatan mencoba keterampilan baru. Misalnya, seorang buruh yang sebelumnya hanya mengupas bawang dapat dilatih untuk memahami pengemasan, pengolahan bawang, pemasaran digital, pencatatan keuangan, atau pengembangan produk sederhana. Perubahan tersebut bukan hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga membangun keyakinan psikologis yaitu “Saya mampu melakukan lebih dari yang selama ini saya kerjakan.” Konsep growth mindset Dweck juga relevan. Individu dengan growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui belajar, latihan, strategi, dan dukungan. Dalam konteks pekerja berpenghasilan rendah, pola pikir ini dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan kapasitas. Namun, growth mindset tidak boleh digunakan untuk menyalahkan pekerja. Seseorang tidak otomatis menjadi sejahtera hanya karena memiliki pola pikir positif. Mindset harus bertemu dengan kesempatan nyata.
Harapan, Motivasi, dan Jalan Menuju Sukses
Snyder melalui “hope theory “memandang harapan sebagai kemampuan untuk menetapkan tujuan (goals), menemukan jalan untuk mencapainya (pathways), serta memiliki energi psikologis untuk bergerak menuju tujuan tersebut (agency). Konsep ini dapat diterapkan secara sederhana kepada pekerja. Tujuannya dapat berupa meningkatkan pendapatan keluarga. Jalannya dapat berupa pelatihan, koperasi, diversifikasi usaha, pemasaran digital, atau pengembangan produk. Agency muncul ketika pekerja memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mengambil langkah menuju tujuan tersebut. Dengan demikian, pemberdayaan para buruh dapat dibangun melalui tiga lapis intervensi.
Pertama, penguatan individu. Pekerja memperoleh keterampilan, literasi keuangan, growth mindset, self-efficacy, dan kemampuan merencanakan masa depan. Kedua, penguatan kelompok. Pekerja dapat membangun koperasi, kelompok usaha, komunitas belajar, atau jaringan pemasaran. Kelompok memberikan dukungan sosial sekaligus meningkatkan collective efficacy, yaitu keyakinan bersama bahwa kelompok mampu mencapai tujuan. Ketiga, penguatan struktur. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat perlu membuka akses terhadap modal, pelatihan, perlindungan sosial, pasar, teknologi, serta pekerjaan yang layak.
ILO menempatkan transisi pekerja informal menuju pekerjaan formal dan pekerjaan layak sebagai agenda penting. Penguatan perlindungan sosial dan akses terhadap sumber daya ekonomi menjadi bagian penting dalam mengurangi kerentanan pekerja. Resiliensi menjadi kekuatan yang menghubungkan ketiga lapis tersebut. Buruh kecil telah menunjukkan resiliensi melalui kemampuan bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah. Tantangannya adalah mengubah resiliensi dari sekadar kemampuan bertahan menjadi kemampuan bertumbuh.
Hadis Nabi Muhammad SAW sangat relevan bahwa “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Hadis ini memberikan penghormatan terhadap kerja. Pekerjaan halal, termasuk mengupas bawang, bertani, berdagang, membangun rumah, bekerja di pabrik, maupun bekerja di sektor informal, memiliki nilai martabat. Karena itu, tujuan pemberdayaan bukan membuat buruh merasa rendah karena pekerjaannya, tetapi membantu mereka memperoleh pilihan kehidupan yang lebih luas.
Kemerdekaan pada HUT ke-81 Republik Indonesia perlu dimaknai sebagai kesempatan bagi seluruh rakyat untuk berkembang. Buruh pengupas bawang adalah bagian dari jutaan pekerja yang menjaga roda ekonomi Indonesia tetap bergerak melalui pekerjaan yang sering kali tidak terlihat. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan pemberdayaan. Psikologi terapan dapat berkontribusi melalui penguatan self-efficacy, growth mindset, motivasi berprestasi, harapan, resiliensi, dan psychological empowerment. Namun pemberdayaan psikologis harus berjalan bersama pemberdayaan ekonomi dan sosial. Buruh pengupas bawang dapat memiliki masa depan yang lebih baik apabila tersedia akses terhadap keterampilan, modal, koperasi, teknologi, jaringan pemasaran, pendidikan, dan perlindungan kerja. Hal yang sama berlaku bagi buruh tani, pekerja pabrik, pekerja konstruksi, pedagang kecil, pekerja rumah tangga, nelayan, pengemudi, dan pekerja informal lainnya.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa kemerdekaan bukan berarti semua orang harus memiliki pekerjaan yang sama. Kemerdekaan berarti setiap orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas kehidupannya. Dari upah harian menuju kehidupan yang lebih baik, perjalanan itu dimulai dari satu hal penting yaitu mengubah pekerja dari objek bantuan menjadi subjek yang berdaya. Bagi buruh pengupas bawang, setiap bawang yang dikupas adalah bagian dari ikhtiar. Setiap rupiah yang diperoleh adalah bagian dari perjuangan. Setiap keterampilan baru adalah pintu menuju kemungkinan baru. Dan setiap harapan adalah energi untuk melangkah lebih jauh. Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Merdeka bukan hanya untuk bekerja dan bertahan hidup, tetapi juga untuk tumbuh, berdaya, dan memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih baik. (***)

