INILAMPUNGCOM --- Masa depan 401 anak-anak Lampung dari keluarga miskin, dimulai. Ditandai dengan prosesi open house Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Provinsi Lampung di kawasan Kota Baru, Lampung Selatan.
Acara open house, Jumat 31 Juli 2026 lalu dihadiri ratusan orangtua siswa -mulai SD, SMP hingga SMA-, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bersama jajaran pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Lampung, Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, dan pejabat Kementerian Sosial RI itu, berlangsung penuh gelora optimisme.
"Harapan yang sempat terputus itu, kini tersambung kembali. Semangat ya anak-anakku. Kalianlah penentu masa depan provinsi ini," kata Gubernur Mirza dalam sambutannya.
Dengan telah resminya Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Provinsi Lampung, mulai hari Sabtu ini, 1 Agustus 2026, para siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai secara penuh.
Diketahui, pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Terintegrasi Lampung menampung 401 siswa yang seluruhnya berasal dari keluarga miskin di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Terdiri dari; 270 siswa diterima di Sekolah Rakyat Lampung Selatan, masing-masing 90 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA. Sekolah Rakyat Terintegrasi 35 Bandarlampung menerima 60 siswa, terdiri atas 30 siswa SD dan 30 siswa SMP. Selain itu, 71 siswa peserta didik dari sekolah rintisan dan melanjutkan pendidikan ke kelas XI SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi.
Gubernur Mirza mengatakan, Sekolah Rakyat disiapkan sebagai sekolah berstandar baik, agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.
“Kami ingin Sekolah Rakyat memiliki kualitas yang baik, seperti sekolah-sekolah terbaik lainnya. Anak-anak dari keluarga sederhana harus memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Mirza.
Menurut
Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Aswarodi, minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat cukup tinggi.
Tantangan terbesar, kata dia, justru meyakinkan orangtua siswa Sekolah Dasar agar bersedia melepas anaknya tinggal di asrama.
“Yang menjadi tantangan bukan mencari siswa, tetapi meyakinkan orangtua siswa SD agar mengizinkan anaknya tinggal di asrama karena mereka masih kecil,” ujar Aswarodi.
Ia memastikan, seluruh peserta didik direkrut tanpa seleksi akademik. Proses penjaringan dilakukan melalui pendamping sosial dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk memastikan siswa berasal dari keluarga miskin desil 1 dan desil 2, dengan prioritas anak-anak yang putus sekolah.
*Sarana Masih Disempurnakan
Bagaimana kesiapan sarana dan prasarananya? Aswarodi menyatakan, saat ini ruang kelas, asrama, ruang makan, aula, dan masjid telah dapat digunakan, sehingga kegiatan belajar mengajar bisa dimulai.
Diakui Aswarodi, pembangunan beberapa fasilitas pendukung, seperti penyelesaian asrama SD dan SMA, guest house, lapangan sepak bola, serta penyempurnaan area makan, sampai saat ini masih berlangsung, dan ditargetkan rampung pada September 2026 mendatang.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Provinsi Lampung, Asis Prasetyo, menjelaskan trilogi pendidikan sekolah yang dipimpinnya.
Apa itu? "Memuliakan wong cilik, menjangkau yang belum terjangkau, dan memungkinkan yang tidak mungkin," kata Asis Prasetyo.
Ditambahkan, Sekolah Rakyat Terintegrasi Lampung ditargetkan mampu menampung hingga 1.080 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. (zal/inilampung)

