![]() |
Lebih dari 500 aktivis lintas generasi memenuhi sebuah ruang pertemuan di Jakarta Pusat, Jumat malam (18/9/2026). Foto: Ist. |
INILAMPUNGCOM--Lebih dari 500 aktivis lintas generasi memenuhi sebuah ruang pertemuan di Jakarta Pusat, Jumat malam (18/9/2026). Mereka hadir dalam Reuni 36 Tahun Humanika, meski undangan hanya disebarkan melalui flyer di media sosial.
Para peserta datang dari berbagai latar belakang dan daerah, mulai dari Palembang, Lampung, Medan, Surabaya, Jawa Barat, Banten, Kalimantan hingga Indonesia Timur. Ada yang pernah terlibat langsung dalam gerakan Humanika sejak berdiri pada 1990, ada pula yang hadir sebagai simpatisan.
Pertemuan itu mempertemukan kembali wajah-wajah lama dengan generasi yang datang kemudian. Cerita tentang demonstrasi, diskusi dan konsolidasi berkelindan dengan kisah perjalanan hidup yang telah berubah. Namun, satu hal tetap mempertemukan mereka: persahabatan yang tumbuh dari perjalanan panjang sebuah gerakan.
Memasuki usia ke-36, Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan mengusung tagline “Solidaritas, Sinergi dan Kolaborasi”. Video perjalanan Humanika sejak 1990 hingga kini turut diputar, membawa peserta menelusuri kembali jejak organisasi yang berkembang dari Jakarta ke berbagai wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Indonesia Timur.
Ketua panitia Syaiful Jihad menyampaikan apresiasi kepada para tokoh, senior, pengurus dan anggota yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia. Menurutnya, pertemuan tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga mempererat kembali hubungan antargenerasi Humanika.
Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain pendiri Humanika Bursah Zarnubi, Hariman Siregar, Tifa, Muhammad Qodari, Andi Arief, Jumhur Hidayat, Agus Jabo Priyono, Effendi Choirie atau Gus Choi, Fauzi H. Amro, Bastian, Trimedya Panjaitan serta sejumlah tokoh lainnya.
Bursah Zarnubi mengenang masa ketika Humanika dibangun pada 1990, ketika ruang politik dan kebebasan berkumpul belum selonggar sekarang. Humanika tumbuh dari lingkungan aktivis yang menjadikan diskusi, pertukaran gagasan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah sebagai bagian dari gerakan.
Sejumlah pengurus dan anggota bahkan pernah berhadapan dengan aparat penegak hukum karena aktivitas mereka. Namun, 36 tahun kemudian, Bursah melihat Humanika berkembang jauh melampaui ruang awalnya.
“Dulu kita tidak pernah berpikir akan menjadi apa. Tetapi perjalanan itu terus berjalan. Sekarang Humanika sudah menyebar di mana-mana,” ujar Bursah.
Menurut dia, keberlangsungan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan struktur formal, tetapi juga nilai dan hubungan antarmanusia yang tetap hidup ketika generasi berganti.
Kini, para alumni dan jejaring Humanika menempuh jalan pengabdian yang beragam. Sebagian berada di masyarakat sipil, sebagian lainnya masuk ke politik, pemerintahan, dunia usaha maupun profesi lain. Perbedaan pilihan itu tidak serta-merta memutus persahabatan yang terbentuk sejak masa muda.
Kisah tersebut juga dirasakan Sri Meliyana, yang akrab disapa Yu Meli, istri Bursah Zarnubi. Ia mengenang masa ketika rumah mereka menjadi tempat berkumpul para aktivis. Diskusi dan konsolidasi kerap berlangsung hingga larut malam.
“Saya selalu menyiapkan kopi dan makanan untuk teman-teman Bang Bursah. Memang repot, tetapi seiring waktu saya dapat mengimbangi dan menikmati. Inilah jalan untuk mengabdi kepada seorang suami aktivis,” tuturnya.
Yu Meli juga mengenang saat mendapat kabar Bursah akan ditangkap aparat terkait aksi demonstrasi. Kecemasan itu sedikit teredakan oleh dukungan kawan-kawan Bursah.
“Teman-teman abang selalu menguatkan. Kalau pun abang ditahan, kami masih ada. Kami siap membantu. Itu yang menguatkan saya waktu itu,” ujarnya.
Kisah itu mengingatkan bahwa perjalanan aktivisme tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di garis aksi. Ada keluarga, sahabat dan lingkungan yang ikut menopang perjuangan.
Tiga puluh enam tahun Humanika pada akhirnya bukan sekadar catatan usia organisasi. Ia adalah perjalanan manusia melewati perubahan zaman—dari masa ketika kritik membutuhkan keberanian besar hingga era ketika ruang demokrasi terbuka lebih luas.
Pilihan pengabdian boleh berbeda, generasi boleh berganti, tetapi jejaring persahabatan tetap menjadi salah satu warisan yang mengikat mereka.
Dari Jakarta pada 1990 hingga jejaring yang kini membentang di berbagai wilayah Indonesia, Humanika terus membawa ingatan tentang sebuah perjalanan. Malam itu, mereka kembali duduk bersama—bukan semata sebagai aktivis dari masa lalu, melainkan sebagai orang-orang yang pernah memiliki cerita yang sama.(rls)

