![]() |
| Thomas Amirico |
INILAMPUNGCOM --- Acung jempol layak disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico.
Meski APBD TA 2026 terpangkas Rp137,6 miliar dalam Perubahan APBD, dari semula Rp2.372.349.812.320 menjadi Rp2.234.748.749.000, namun tetap saja "jojong" menggulirkan program inovatif.
Apa program inovatif terbaru yang digulirkan Disdikbud Lampung? Yaitu program Double Teaching.
Apa sasarannya? Sebagai upaya meningkatkan profesionalitas guru sekaligus memperkuat kualitas proses pembelajaran di sekolah.
Peluncuran program inovatif itu dihadiri Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Prof. Syafrimen dan Anggota Komisi V DPRD Lampung M Syukron Muchtar.
Menurut Thomas Amirico, pada tahap awal, program itu diterapkan di 17 SMAN di Kota Bandar Lampung dengan melibatkan lebih dari 200 orang guru.
Dikatakan, program Double Teaching dirancang untuk membangun ekosistem pengembangan profesional guru melalui kolaborasi antar-sekolah.
"Ini adalah program untuk peningkatan ekosistem pengembangan profesional guru yang tujuannya adalah supaya guru mendapatkan suasana baru. Kita geser selama satu bulan, setiap satu bulan kita geser untuk melakukan pengajaran di sekolah lain bersama dengan guru internal sekolah tersebut," kata Thomas.
Melalui pola tersebut, guru dari satu sekolah akan mengajar bersama guru di sekolah lain. Kolaborasi itu diharapkan menjadi ruang bertukar pengalaman, metode, hingga praktik pembelajaran yang dinilai efektif.
"Jadi ngajarnya bareng-bareng, untuk berbagi ilmu, berbagi best practice, supaya nanti saling melengkapi, saling support, kemudian saling mendukung proses pembelajaran yang paling oke, paling aktif yang bisa kita lakukan pada era hari ini," ujarnya.
Thomas berharap, kolaborasi antar-guru tersebut juga dapat membuat proses pembelajaran di kelas menjadi lebih aktif.
Pada tahap perdana, Double Teaching akan mulai dilaksanakan pada Senin di 17 SMA yang berada di Kota Bandar Lampung.
"Nah, Senin sudah mulai dilaksanakan Double Teaching di 17 sekolah yang ada di Kota Bandar Lampung. Baru nanti di bulan depan kita geser di kabupaten/kota," katanya.
Untuk sementara, program tersebut difokuskan pada tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Kolaborasi dengan FKIP
Khusus mata pelajaran Matematika, Disdikbud Lampung juga menyiapkan kolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Thomas mengatakan, tim yang terdiri dari dosen-dosen tengah dipersiapkan untuk ikut mendampingi pembelajaran Matematika di sekolah.
"Khusus matematikanya nanti akan dibantu juga oleh FKIP. Lagi menyiapkan tim, lagi susun tim dosen-dosen yang peduli pendidikan, yang mengerti dan paham terkait dengan bagaimana mengajar matematika dengan mudah," ujarnya.
Tim tersebut nantinya juga akan diterjunkan ke sekolah-sekolah di Bandar Lampung untuk membantu guru mengembangkan metode pembelajaran Matematika yang lebih mudah dipahami siswa.
"Itu nanti akan kami masukin juga, akan kami hadirkan juga di sekolah-sekolah yang ada di Kota Bandar Lampung supaya matematika kita ke depan makin baik," katanya.
Apresiasi Dewan Pendidikan
Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Prof. Syafrimen, menilai, program tersebut merupakan bentuk keberanian dan inovasi pemerintah daerah dalam memastikan dunia pendidikan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan pembelajaran saat ini.
“Tentu kami dari dunia pendidikan sangat mengapresiasi. Ini sebuah inovasi dan keberanian yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Lampung untuk memastikan bahwa pendidikan kita menjawab tantangan hari ini,” ujar Syafrimen
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi salah satu langkah untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di Lampung, terutama melalui proses berbagi pengalaman dan praktik mengajar antarguru.
Syafrimen menjelaskan, konsep double teaching sebenarnya telah banyak diterapkan di sejumlah negara maju melalui berbagai model, seperti Teachers Expert Sharing dan Teachers Expert Model.
Dalam model tersebut, guru yang memiliki kompetensi dan pengalaman lebih kuat tidak hanya mengajar di sekolah tempatnya bertugas, tetapi juga berbagi pengetahuan dan praktik pembelajaran di sekolah lain.
“Kalau kita lihat di negara-negara maju, ada macam-macam, ada namanya Teachers Expert Sharing, ada namanya Teachers Expert Model. Double teaching ini sebenarnya sudah banyak dipraktikkan,” pungkasnya. (kgm-2/inilampung)


