INILAMPUNGCOM --- Sampai Sabtu siang, 12 September 2026, antrian panjang masih tampak pada beberapa SPBU di wilayah Kota Bandarlampung.
Mulai dari SPBU di wilayah Telukbetung, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Sultan Agung, Jalan Ki Maja, Jalan Zainal Abidin Pagaralam, hingga ke Jalan Soekarno-Hatta.
Mayoritas antrian kendaraan yang mengular itu untuk mengisi BBM jenis solar. Menurut catatan inilampung.com, setidaknya dalam sepekan terakhir situasi semacam itu rutin terjadi setiap harinya.
Di sisi lain, banyak pengemudi truk yang menunggu antrian masuk SPBU di Jalan Soekarno-Hatta, baik di wilayah Way Halim maupun SPBU dekat RS Immanuel, mengeluhkan adanya kebijakan pengelola yang membatasi pembelian solar maksimal Rp200.000 untuk satu kendaraan.
"Semakin nggak jelas urusan beli solar sekarang ini. Sudah harus antri berjam-jam, tiba waktunya cuma boleh beli maksimal Rp200.000. Itu juga untung-untungan, karena tidak jarang sudah antri lama, malah tidak kebagian karena stok habis," kata Samsul, sopir truk asal Kayu Agung yang tengah mengantri di SPBU Jalan Soekarno-Hatta, Kedaton, Bandarlampung.
Belum Membawa Perubahan
Dengan kondisi di lapangan seperti itu, praktis pertemuan beberapa pimpinan Fraksi DPRD Lampung dengan Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Kusuma Aji, hari Kamis, 10 September 2026, sama sekali belum membawa dampak perbaikan dalam pelayanan kepada konsumen.
Diketahui, beberapa pimpinan Fraksi DPRD Lampung yang mengadakan pertemuan dengan petinggi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel membahas tata kelola dan distribusi BBM itu terdiri dari Yozi Rizal (Demokrat), Fatikhatul Khoiriyah (PKB), Fauzan Sibron (NasDem), Yusnadi (PKS), Ahmad Iswan Hendi Caya (PAN), AM Syafe'i (PDIP), dan Handitya Narapati SZP (Golkar).
Dalam pertemuan itu dibahas berbagai hal, mulai dari kondisi stok BBM, realisasi kuota, distribusi hingga langkah antisipasi antrian di SPBU.
Sebelumnya, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal diketahui juga telah mengirim surat kepada BPH Migas meminta penambahan kuota solar dan pertalite untuk Provinsi Lampung.
Menurut Kusuma Aji, SAM Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, subsidi solar yang diperuntukkan bagi Provinsi Lampung sepanjang tahun 2026 sebanyak 790.000 kiloliter (KL). Hingga bulan Agustus 2026 telah terpakai 524.018 KL. Diproyeksikan terjadi kelebihan dari kuota 8,5% hingga akhir tahun mendatang.
Sedangkan untuk pertalite, disiapkan 695.000 KL dan hingga Agustus 2026 terpakai 460.000 KL atau sekitar 70%.
Sayangnya, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel tidak memerinci langkah antisipasi menghadapi terus mengularnya antrian di banyak SPBU di Provinsi Lampung dalam sepekan terakhir ini. (zal/inilampung)

