-->
Cari Berita

Breaking News

Berlari: Saatnya Mencuri Perhatian Allah

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 18 September 2026



Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis Tinggal di Lampung Barat.


Kita semua akrab dengan frasa "curi pandang".

Ketika sesosok yang kita kagumi melintas, seketika ada desir yang mengetuk dada. Buru-buru kita merapikan kerah baju, menyeka rambut yang berantakan, dan menata tutur kata agar terdengar mengesankan. Semua sandiwara kecil itu kita mainkan hanya untuk satu muara: agar dilirik.

Kita rela terjaga lebih awal demi memahat penampilan yang sempurna. Rela menenggelamkan diri dalam buku agar terlihat cerdas. Rela menahan lelah yang mendera demi tampak berwibawa. Intinya satu: kita begitu gigih mencuri perhatian makhluk.

Lalu, mengapa kepada Sang Pencipta kita tidak segetol itu?

1. Allah Sudah Tahu, tetapi Kita Jarang "Menampakkan Diri"

Ya, Allah Maha Mengetahui. Bahkan sebelum sebaris doa lahir dari bibir, Dia telah khatam membaca rahasia di kedalaman hati kita.

Maka, "mencuri perhatian Allah" bukanlah sebuah upaya mengenalkan diri. Ini adalah bahasa rindu. Ini adalah bisikan cinta seorang hamba yang ingin membuat Tuhannya bangga.

Bayangkan seorang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sekuntum bunga di balik punggungnya untuk mengejutkan sang ibu. Sang ibu tentu sudah tahu betapa anaknya menyayanginya. Namun, kejutan kecil itu tetap saja mampu membuat sudut matanya basah oleh kebahagiaan.

Begitu pula bentangan sajadah kita dengan Allah. Shalat tahajud yang tegak di sepertiga malam saat bumi tertidur, sedekah yang menyelinap diam-diam di kegelapan, amarah yang diredam demi kedamaian, serta kebaikan yang mekar tanpa pamrih... itu semua adalah "kejutan-kejutan rindu" kita untuk Allah.

Simaklah betapa indahnya janji Allah dalam Hadis Qudsi: “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, Aku mendekat sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kita baru berjalan, Allah sudah berlari.

Kita baru menolehkan wajah, Allah sudah lama menanti.


2. Ironi Hamba: Lebih Takut Kehilangan Dunia:

Sayangnya, kompas langkah kita sering kali kehilangan arah.

Kita kerap didera cemas jika terlambat menghadiri rapat, tetapi begitu tenang saat terlambat menunaikan shalat. Kita lebih takut memanen kecewa dari sang atasan daripada mengundang murka dari Allah. Kita begitu sibuk bersolek menjaga citra di depan manusia, tetapi abai menjaga kesucian wudhu.

Rasulullah SAW telah mengetuk kesadaran kita:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan penampilan kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Kita habis-habisan memoles topeng di hadapan sesama. Padahal, Allah sama sekali tidak tertarik pada bungkusnya. Tatapan-Nya langsung menghujam ke dalam isi: keikhlasan yang murni dan amal yang nyata.


3. Mencintai Sumber Segala Cinta:

Kita jatuh hati karena ada sebab yang memicu. Karena paras yang meneduhkan ego, tutur kata yang membasuh jiwa, atau karena kecerdasan dan kepedulian yang memikat.

Namun, pernahkah sejenak kita merenung: siapakah yang menitipkan segala pesona itu? Siapa yang melukis keindahan pada wajah-wajah makhluk-Nya? Siapa pula yang menumbuhkan benih kasih sayang itu di dalam dada kita? Jawabannya tunggal: Allah.

Jika kita bisa begitu terpesona pada keindahan yang sekadar "titipan", maka sudah selayaknya kita melabuhkan cinta yang jauh lebih dahsyat kepada "Sang Pemberi Titipan". Sebab, Dia bukan sekadar Pemilik Cinta; Dia adalah Sumber dari segala yang bernyawa bernama cinta.


4. Mengetuk Pintu Langit: Bagaimana Cara "Berlari Mendekat"?

Jalan pulang itu sesungguhnya tidak pernah rumit. Ini adalah beberapa "langkah lari" yang bisa kita tempuh untuk merengkuh rida-Nya:


* Tepat Waktu dalam Ibadah – Datang memenuhi panggilan adzan bagaikan seorang kekasih yang tak sabar ingin berjumpa, sebelum dipanggil berkali-kali.

* Kebaikan yang Tersembunyi – Menjadikannya seperti pucuk surat cinta rahasia, yang bait-baitnya hanya boleh dibaca oleh Allah.

* Bertaubat Tanpa Menunda – Memilih jalan untuk segera pulang ke rumah-Nya, tepat ketika kaki kita baru saja tersesat di rimba dosa.

* Berakhlak Mulia di Bumi – Menjadi cara paling anggun untuk membawa dan menjaga nama baik din (agama) Allah di mata manusia.

Sudah terlalu lama kita memeras keringat dan air mata, lelah berlari mengejar bayang-bayang perhatian manusia. Sudah terlalu sering dada kita sesak oleh ketakutan akan hilangnya jabatan, pudarnya popularitas, dan runtuhnya validasi makhluk yang semu.

Kini, saatnya kita membalikkan badan. Mari berlari mendekat kepada Allah.

Sebab, hanya pelukan cinta-Nya yang tidak pernah menyisakan kecewa. Hanya bersimpuh di hadapan-Nya yang tidak pernah mendatangkan rugi. Dan hanya hembusan rida-Nya yang mampu meninabobokan jiwa kita dengan kedamaian sejati—baik di fana dunia, maupun di keabadian akhirat kelak.

Mari langkahkan kaki, mari berlari...

Sebab di ujung sana, Dia telah berjanji akan berlari menyambut kepulangan kita.

Wallahu a’lam bish-shawab. (**)

LIPSUS