-->
Cari Berita

Breaking News

Buku Puisi 'Cinta' Diluncurkan di Malaysia, Dato Radzuan: Bermakna Universal

Dibaca : 0
 
Sabtu, 26 September 2026



INILAMPUNG.COM, Malaysia -- Buku Antologi Puisi “Cinta adalah Pengertian yang Bermakna” diluncurkan di Malaysia, September 2026. Menghimpun 35 pemuisi dari Malaysia, Indonesia, dan Belanda.

Dato Dr. Radzuan Ibrahim sebagai penggagas mengatakan, buku ini terbitan PEMUISI Malaysia. “Sebanyak 35 orang pengkarya telah memuatkan tiga buah puisi setiap orang dengan bertemakan cinta,” katanya melalui WA, Sabtu 26 September 2026.

Adapun pemusi (penyair, Red.) yang terlibat dalam projek buku ini ialah A Aziz Deraman, Abdul Majid Mat Amin @AMNA, Alkhair Aljohore, Awang Jendarata, Azizah Abdul Aziz, Bunga Melor, Dewi Ku Yah Senapi, Einaz Naim, Isbedy Stiawan ZS, Jalipah Jaafar @Juliana Ihol, Mahad A Bakar, Minah Ahmad, Andong Kampil, Noor Aini Salleh, Noraziah Abdullah, Nor Dhania Imani @Jiwa Biruni, Pandian V, Radziah M.Zain, Raihan Abdul Razak.

Kemudian, Ria Abadi, Rohainah Mat Noor, Rosmaria, Sabariah Eda Yaakub, Salmah Amir, Sharil Nizam Shaari @Sharil Kasak, Siamir Marulafau, Siti Aulliya, Suzilawati Muntalib, Tierana, Tuti Susilawati, Wan Naimah Wan Yahya @Wanis NM, Wanrazuhar, Wichian AZ, Zab Bransah dan Zunaembong. 

Ditambahkan, buku ini diterbitkan  bertema Cinta dan Perpaduan Warga Malaysia, sempena sambutan Hari Kemerdekaan Malaysia. 

“Cinta sebagai cerminan emosional, menyampaikan makna mendalam dan penuh kasih sayang, tulus merangkum pengalaman, rindu, serta perasaan positif terkuat dalam jiwa manusiawi,” katanya lagi.

Tajuk ini, lanjut Presiden Pemuisi Malaysia ini, mengupas betapa pentingnya sebuah pengertian cinta yang bukan sekadar hanya kata-kata atau janji manis yang terucap, tetapi dalam pengertian yang lebih komited, perhatian dan kebertanggungjawaban pada tahap tinggi. 

“Cinta dalam puisi seringkali menggambarkan kebebasan, keikhlasan, kekaguman dan keprihatinan pemuisi. Puisi menjadi wadah untuk menyampaikan emosi yang kompleks dalam bahasa yang indah dan puitis yang tidak mampu diungkapkan dalam kata-kata biasa,” ungkapnya.

Masih kata Radzuan, antologi ini mengandungi ungkapan indah dan bererti seorang pemuisi mengeksplorasi bahasa cinta yang dipahami dan dimaknai dalam pelbagai sudut penglihatan pemuisi secara puitis. 

Jelasnya, katanya, tema antologi ini menekankan cinta sebagai ekspresi emosional yang mendalam dan memberikan harapan.

Tema puisi cinta ini juga menyoroti bahawa cinta bukan sekadar emosi, melainkan pengertian yang lebih bermakna. Antaranya puisi cinta adalah refleksi diri dari aspek fizik dan perasaan. Seringkali juga puisi cinta menggunakan metafora bagi menggambarkan esensi cinta yang tulus, memberi harapan dan semangat, menyentuh hati, sumber harapan, spirit dan kedekatan. Juga merupakan pantulan terhadap sikap pemuisi pada cinta dan suatu hubungan. 

Jadi, urai Radzuan, tidak hanya melibatkan sisi romantisme sahaja, tetapi juga cinta pada diri sendiri, cinta platonik, bahkan cinta pada semesta dan pada Yang Maha Pencipta.

Puisi cinta mempunyai sejarah sastra tertulis yang panjang. Peradaban kuno, termasuk Yunani, Romawi, dan Mesir. Semuanya memiliki versi-versi puisi cinta tersendiri. 

“Sebagai contoh, Sappho, seorang penyair wanita Yunani Kuno dari Pulau Lesbos, dianggap sebagai salah satu penulis puisi cinta paling awal. Syair-syairnya yang penuh gairah, dilingkupi kerinduan dan keinginan, masih bergema di hati pembaca di saat ini,” jelasnya.

Lalu, pada Abad Pertengahan melahirkan tradisi courtly love, di mana para kesatria melakukan pendekatan pada para wanita bangsawan. Tradisi ini sangat terkait dengan puisi cinta.

“Penyair terkenal seperti Petrarch dan Dante menggunakan puisi itu untuk menyatakan perasaan mereka yang tidak terbalas. Pada abad ke-16 pula puisi cinta semakin berkembang berkat populariti soneta William Shakespeare dalam soal cinta dan kemampuannya untuk mengungkapkan emosi-emosi cinta melalui puisi, telah meninggalkan jejak mendalam pada dunia sastra,” ujar Radzuan.

Sementara pada era moden, masih kata Radzuan, puisi cinta mulai mencerminkan makna meluas dari cinta. Penyair seperti Pablo Neruda dan Maya Angelou tidak hanya menggunakan puisi untuk mengeksplorasi cinta romantis, tetapi juga untuk menyelami tema-tema cinta pada diri sendiri, lingkungan masyarakat, dan kemanusiaan. Puisi cinta tidak hanya mampu menggetarkan hati, tapi juga mencerminkan dan mempengaruhi norma-norma sosial, budaya terhadap cinta, dan bahkan memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat. 

“Sebagai contoh karya-karya Rumi, penyair Parsi abad ke-13, syair-syairnya seringkali mempertajam batas antara cinta duniawi dan ilahi, menatang konsep-konsep konvensional dari keduanya,” katanya.

Kini puisi cinta mempengaruhi pelbagai masyarakat dunia. Di Iran misalnya, karya puisi cinta penyair terkenal seperti Hatez dan Rumi, memainkan peranan penting. Syair-syair mereka tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga digunakan dalam percakapan sehari-hari dan bahkan dalam wacana politik. Di Jepang, tradisi tanka, bentuk puisi cinta pendek, telah hidup selama lebih dari 1000 tahun. Syair-syair yang singkat namun menyentuh ini menangkap inti daripada cinta dan kerinduan, memainkan peranan penting dalam sastera dan budaya.

Dalam buku ini, jelas Radzuan, pelbagai tema telah digarap, yang kesemuanya lahir dari lubuk jiwa sang pemuisi. 

“Namun persoalan utama adalah berkisar tentang cinta terhadap Yang Maha Pencipta dan cinta sesama manusia,” tutupnya.(bd/inilampung)


LIPSUS