-->
Cari Berita

Breaking News

Cinta Dunia Merusak Bangsa

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 25 September 2026

Oleh: Junaidi Jamsari | Alumni Filsafat UIN Raden Intan






Masyarakat adil dan makmur adalah cita-cita luhur para pendiri bangsa kita, seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, cita-cita itu hingga hari ini belum sepenuhnya kita rasakan. Kegelisahan, ketidakpastian, dan keangkaramurkaan masih menyelimuti sebagian dari kita.

Maka, sudah seharusnya keadaan ini kita jadikan bahan renungan dan muhasabah bersama.

Kita hari ini hidup di tengah perubahan yang sangat cepat, bagaikan kuda yang berlari kencang. Perubahan itu bernama modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi. 

Segala sesuatu dituntut serba masuk akal, serba logis, serba cepat.

Jika perubahan ini tidak kita hadapi dengan fondasi iman yang kuat, niscaya kita akan hanyut terbawa arusnya. Kita akan menjadi generasi yang hebat secara akal, tapi miskin secara nurani.

Kemudahan hidup dan kecanggihan teknologi, jika tidak disikapi dengan bijak, bisa mengurangi rasa ketergantungan kita kepada Allah SWT. Jarang berdoa, jarang ke masjid, jarang berkumpul di majelis ilmu. Inilah tanda-tanda awal berkurangnya keberagamaan kita.

Bukan berarti kita harus anti terhadap ilmu dan teknologi. Islam justru memerintahkan kita untuk menguasainya. Tetapi jangan sampai keduanya menjauhkan kita dari agama.

Caranya adalah dengan tetap menjaga tradisi keagamaan kita: shalat berjamaah di masjid, hadir di pengajian rutin, dan menghidupkan kembali semangat komunal dan kebersamaan. Dengan itulah insyaAllah iman kita tetap terjaga.

Salah satu penyakit besar bangsa kita hari ini adalah hilangnya harmoni. Kita masih sering menyaksikan anak-anak dan pelajar gemar tawuran, kelompok yang satu mencaci kelompok yang lain, hingga berujung pada kekerasan fisik.

Disharmoni ini terjadi di mana-mana: di bidang agama, ekonomi, politik, pendidikan, bahkan di media sosial. Jika dibiarkan, ini akan menjadi "bid'ah peradaban" yang meruntuhkan karakter kebangsaan kita dan merusak proses demokrasi yang telah kita bangun dengan susah payah.

Padahal, Allah SWT telah memberikan sepuluh wasiat agung sebagai pilar peradaban dalam Al-Qur'an Surat Al-An'am ayat 151-153. Mari kita renungkan:

Allah berfirman:
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu atas kamu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."

Secara singkat, sepuluh wasiat itu adalah pilar masyarakat utama:

1.  Menjaga Tauhid, untuk melindungi kesucian fitrah manusia.

2.  Berbakti kepada orang tua dan larangan membunuh anak, untuk melindungi generasi.

3.  Menjauhi kekejian, untuk menjaga kesucian diri.

4.  Larangan membunuh jiwa, sebagai prinsip perlindungan nyawa (hifzhun nafs). Ini dikuatkan Rasulullah dalam Haji Wada: "Darahmu dan hartamu haram atas sesamamu..."

5.  Menjaga harta anak yatim, berlaku adil dalam takaran, dan berkata jujur, sebagai prinsip untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Inilah peradaban yang Allah inginkan. Peradaban yang seimbang antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. (*)

*) Penulis Alumni Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung 

LIPSUS