-->
Cari Berita

Breaking News

Filosofi Rem Kehidupan: Mengapa Allah Mendahulukan Kata Mati?

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 04 September 2026

Oleh: Junaidi Jamsari 


DALAM bentangan Surah Al-Mulk, Allah SWT memproklamasikan keagungan-Nya melalui kalimat yang menggetarkan jiwa: "Tabarakalladzi bi yadihil-mulk..." (Maha Suci/Maha Melimpah Berkah Dia yang menguasai segala kerajaan). Menariknya, tepat setelah mengenalkan kemahaberkahan yang mahaluas itu, Allah langsung menyentak kesadaran manusia pada ayat berikutnya dengan firman-Nya: "...Yang menciptakan mati dan hidup."

Sebuah pertanyaan besar muncul: Mengapa di balik kemegahan berkah Tabarakalladzi, Allah justru mendahulukan kata "mati" sebelum "hidup"? Jawabannya berakar pada kerapuhan manusia. Kematian adalah bentuk "berkah tersembunyi" yang berfungsi sebagai pedal rem terbaik bagi jiwa, sebuah konsep yang sejalan dengan inti ajaran ilmu tasawuf.


Maut al-Iradi. 

Kita hidup di era yang memuja kecepatan. Tuntutan zaman memaksa manusia menekan pedal gas ego dalam-dalam: mengejar materi, status, dan validasi tanpa henti. Di sinilah ilmu tasawuf hadir menawarkan konsep "Mati Sebelum Mati" (Maut al-Iradi). 

Kematian spiritual ini bukan berarti menghentikan denyut nadi, melainkan sebuah tindakan sadar untuk "menginjak rem" demi menundukkan ego, kesombongan, dan syahwat duniawi.
Susunan ayat yang mendahulukan kematian berfungsi menjaga manusia dari dua bahaya besar:

   1. Mencegah Over-Speeding (Keserakan Dunia): 
Saat manusia dikuasai nafsu menumpuk harta, rem mengingat mati (dzikrul maut) menyadarkan bahwa kain kafan tidak memiliki kantong. 
Dalam tasawuf, ini adalah manifestasi dari Kematian Merah (Maut Ahmar)—perjuangan tiada henti melawan syahwat, serta Kematian Hijau (Maut Akhdar)—pilihan hidup zuhud yang tidak silau oleh kemewahan materi.
   
2. Menjaga Navigasi di Tikungan Tajam (Ujian & Maksiat):
Saat kaki goyah ingin melanggar aturan Ilahi, injakan rem kematian membuat jiwa melambat dan berpikir jernih. Melalui Kematian Hitam (Maut Aswad), seorang penempuh jalan sufi melatih kesabaran dalam menanggung derita dunia, tahu bahwa ada pertanggungjawaban mutlak di depan sana.

Ahsanu 'Amala.
Ujung dari ayat kedua Surah Al-Mulk berbunyi, "...untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." Di sinilah simpul pertemuan yang indah antara kemahaberkahan (Tabarakalladzi), fungsi rem kematian, dan puncak spiritualitas tasawuf.

Kematian dipasang di depan sebagai pengingat agar sisa kehidupan menghasilkan amal yang paling berkualitas (ahsanu 'amala), bukan sekadar kuantitas yang banyak (aktsaru). 

Pengendara yang bijak tahu kapan harus menginjak gas (beribadah dan bekerja keras) dan kapan harus menginjak rem (merenung, lapar yang menyuci hati atau Kematian Putih, dan mengingat mati). Mengingat kematian mengubah kuantitas hidup yang fana menjadi kualitas berkah yang abadi.

Bagi seorang sufi, rem kematian ini tidak melemahkan semangat hidup, melainkan membersihkan penghalang (hijab) yang menutupi hati. Ketika ego berhasil direm dan dimatikan, hati menjadi murni untuk menerima Tajalli (penampakan Nur Ilahi) dan mencapai derajat makrifat yang sejati semasa hidup.


Kepulangan yang Selamat

Pada akhirnya, kendaraan kehidupan ini pasti akan sampai ke batas bahan bakarnya. Ruh—yang dalam pandangan tasawuf hanyalah transit sementara di alam fana ini—akan melakukan perjalanan pulang (Rihlah) menuju alam baka yang kekal.

Beruntunglah mereka yang fungsi rem eksistensialnya masih bekerja dengan baik selama di dunia. Kesadaran akan mati membuat kita tidak akan tersesat di jalanan dunia yang menipu. Ketika rem terakhir diinjak oleh takdir dan detak jantung berhenti total, kita tidak akan mati dalam "kecelakaan iman" yang mengenaskan. 

Sebaliknya, kematian fisik itu akan menjadi pintu gerbang yang indah—sebuah momentum bertemunya sang kekasih (hamba) dengan Zat yang Maha Berkah, Tabarakalladzi, Pemilik sejati seluruh kerajaan alam semesta.

Wallahu a'lam bishshawab. (**)

LIPSUS